1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

Duta Sepakbola Mengarungi Lima Benua

Dua pelatih sepakbola asal Jerman malang melintang di hampir 100 klub di lima benua. Pengalaman Holger Obermann dan Otto Pfister menunjukkan, sepakbola hidup dari nafas yang berbeda-beda.

November 2003 Holger Obermann sedang berbincang-bincang dengan kapten tim Afghanistan dan seorang pemain dari Turkmenistan di sebuah hotel. Setelah lebih dari satu abad, Afghanistan ingin menggelar pertandingan internasional di kandang sendiri.

Ketika ketiganya sedang membahas warna trikot, sebuah rudal meledak di sisi lain hotel. Dua kali Obermann selamat dari serangan semacam itu. Tapi ia tidak lantas menghentikan pekerjaannya, tidak juga ketika ia meninggalkan reruntuhan hotel 2003 lalu. Akhirnya laga persahabatan dilangsungkan, Afghanistan "cuma" kalah 0:2 dari tim tamu Turkmenistan. Obermann bangga terhadap anak asuhnya.

Kendati butuh satu dekade buat Afghanistan menggelar pertandingan internasional beberapa pekan lalu, negara yang kaya sejarah pertumpahan darah itu mengalami kemajuan pesat. Tahun ini Afghan Premiere League memasuki musim kedua. Delapan klub yang sebagian besar mencari pemain lewat Casting Shows itu berlaga memperebutkan hadiah senilai 15.000 US-Dollar. Obermann yang kendati tidak lagi aktiv sebagai pelatih di Hindukush, merasa bangga atas perkembangan olahraga di negara tersebut.

Penuh Tantangan

Sebanyak 180 pelatih yang sudah dididiknya, di antaranya pelatih tim nasional Yousef Kargar, "dia pernah saya kirim ke Jerman di tengah masa pelatihan," kata Obermann.

SAFF Championship Afghanistan Fußballnationalmannschaft Fußball Sieg Indien Herat Feier

Pendukung Afghanistan merayakan tim nasional di Kabul

Pekan lalu tim nasional Afghanistan menyambangi Nepal untuk laga persahabatan. Di sanalah Obermann memulai karirnya sebagai pelatih jurnalistik. Ketika Kementrian Luar Negeri Jerman memintanya menjadi pelatih sepakbola, Obermann menyudahi karirnya sebagai wartawan televisi. Beberapa bulan kemudian ia sudah berada di Nepal, memanggul jaring gawang sembari melesat dengan roller ke tempat latihan.

"Sangat berat tapi juga begitu indah," kenang Obermann soal kampung halaman keduanya, Nepal. Berulangkali ia berhadapan dengan "kisruh politik" yang disebabkan oleh kedua Jiran, India dan Cina.

Tahun ini Obermann mendapat penghargaan sebagai "Duta Besar Sepakbola Jerman." Uang sebesar 5000 Euro yang diterimanya akan ia gunakan untuk membangun lapangan sepakbola di Nepal. Saat menerima penghargaan di gedung Kemenlu di Berlin, Obermann bertemu rekan sejawatnya, Otto Pfister yang juga mendapat penghargaan atas kiprahnya di Afrika.

Motivasi seorang Eto'o

Bertahun-tahun Pfister bekerja sebagai pelatih sepakbola di benua hitam itu. Ia terkesan sudah membumi di Afrika. Baru-baru ini ketika bertemu dengan salah seorang talenta muda di Werder Bremen yang mengeluhkan sambungan internet di kamarnya, Pfister menyela sang remaja, "kalau kamu tidak mau berkorban, kamu tidak akan pernah menjadi pesepakbola profesional."

Otto Pfister

Otto Pfister

Ia menyebut Samue Eto'o sebagai sosok yang pantas menjadi panutan. Pfister mengenal striker Chelsea itu saat melatih tim nasional Kamerun. Eto'o klaim Pfister tidak suka memakai Smartphone atau bahkan Komputer. Pesepakbola yang tidak memiliki akun Facebook itu punya prioritas lain, katanya. Dengan uang yang diterimanya di Eropa, Eto'o menafkahi satu kampung di Kamerun. Pfister meyakini, kecintaannya terhadap Afrika menjadi motivasi Eto'o untuk menjadi miliuner.

"Delapan dari sepuluh pelatih Jerman gagal di luar negeri, karena mereka melakukan kesalahan kecil," kata Pfister. Setiap pelatih harus menyesuaikan diri dengan mentalitas negara yang bersangkutan. Cuma mereka yang "beradaptasi" dan cuma "berkonsentrasi kepada sepakbola," punya peluang bagus untuk sukses.

Selama 50 tahun karirnya, Pfister sudah pernah melatih di 20 negara. Empat di antaranya adalah tim nasional, sebagian besar dari Afrika. Saat ini ia melatih tim nasional Trinidad dan Tobago. Menyusul kegagalan di babak kualifikasi Piala Dunia 2014, Pfister bisa kembali melanjutkan petualangannya sebagai pelatih di tempat lain.

LINK: http://www.dw.de/dw/article/0,,17082270,00.html