1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

Dulu Ketika Masih Bersama Deutsche Welle

Melangkah bersama Deutsche Welle Bahasa Indonesia selama berpuluh-puluh tahun. Banyak pengalaman menarik yang tidak terlupakan, dan tidak akan terulang. Asril Ridwan bagikan pengalamannya.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion. Bild 7. Indonesische Redaktion. Asril Ridwan - Brandenburger Tor. Foto: DW

Asril Ridwan di depan Brandenburger Tor, ketika Tembok Berlin baru runtuh

-I-

Suatu hari di bulan September 1976, saya mengunjungi Parlemen Eropa di Strassburg, Perancis. Sidangnya waktu itu dihadiri oleh sejumlah kepala negara dan pemerintahan di Eropa Barat, di antaranya Perdana Menteri Portugal Mario Soares. Saya pikir ini kesempatan baik untuk dapat mewawancarainya, karena masih hangatnya kasus invasi Indonesia di Timor Timur, bulan Desember 1975.

Saya berhasil mewawancarainya. Sejumlah wartawan, di antaranya berasal dari Portugal, menanyakan hasil wawancaranya. Saya berkilah, dan “ngacir” dengan berkata “no comment”. Salah seorang dari kerumunan wartawan itu berteriak, ”Hei kamu wartawan, atau agen Indonesia?” Tak diduga, akhirnya malah saya bersahabat dengan sang wartawan itu, dengan saling berkorespondensi dan bertukar informasi.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion

Bersama Uskup Belo

20 tahun kemudian, bulan Desember tahun 1996, saya berjumpa lagi dengannya. Kali ini di ibukota Norwegia Oslo, ketika Uskup Belo dan Jose Ramos Horta dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. Ketika ia sedang “berkasak kusuk” untuk mencari informasi, apakah ada wakil pemerintah Indonesia yang hadir dalam acara penyerahan hadiah Nobel Perdamaian itu, saya menepuk bahunya dan berkata,”Hei wartawan apa agen Portugal?”Ia membalikkan badannya, kaget dan mengenali saya. Ia tertawa terbahak-bahak dan memeluk saya dengan erat. Lantas mengajak makan siang di sebuah restoran Cina di pusat kota Oslo.

-II-

Di antara tugas jurnalistik yang sangat “berkesan” bagi saya, adalah menyaksikan pesta penyatuan kembali Jerman malam menjelang tanggal 3 Oktober 1990, di depan Gedung Reichstag di Berlin. Dan robohnya tembok Berlin tanggal 9 November 1989. Kedua peristiwa itu saya anggap sebagai kejadian penting dan bersejarah, di abad ke 20. Robohnya tembok Berlin, ibarat membalikkan telapak tangan. 24 jam sejak penguasa Jerman Timur memberikan ijin bepergian, sekitar 2 juta warga Jerman Timur memasuki kota perbatasan di Jerman Barat, dengan naik mobil,kereta api atau berjalan kaki.

Para wartawan Deutsche Welle juga berhamburan meliput peristiwa perjumpaan penuh haru dengan warga Jerman Timur. Inilah suasana persaudaraan yang memungkinkan orang-orang tak kenalpun saling berpelukan penuh luapan kegembiraan. Dengan spontan dinyanyikan lagu, So ein Tag, so wunderschön wie heute (hari yang indah dan bahagia). Tapi proses penyatuan Jerman setelah robohnya tembok Berlin, tidaklah “semulus” yang diimpikan. Warga dari bagian Timur Jerman nyeletuk, “Kucari dirimu, kutemukan diriku”.

-III-

Sejak sore hari tanggal 2 Oktober 1990, halaman gedung Reichstag di Berlin semakin dipadati warga. Mereka secara langsung hendak menantikan dan merayakan penyatuan kembali Jerman, tepat jam 00.00, tanggal 3 Oktober 1990. Terbersit di pikiran saya untuk mengetahui bagaimana “nasib”, Kedutaan dan Duta Besar Indonesia di Berlin Timur, dengan bersatunya kembali Jerman. Saya mencoba untuk menghubunginya, dan berhasil.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion. Bild

Asril Ridwan mewawancarai I Gusti Ngurah Gde, yang ketika itu menjabat Duta Besar Indonesia di Jerman Timur

Yang agak jadi masalah, bagaimana untuk pergi kesana? Meskipun tidak ketat, petugas keamanan Jerman Timur masih terlihat di jalanan. Untungnya ada “orang” dari kedutaan yang menolong untuk membawa saya ke kedutaan Indonesia di Berlin Timur dengan kendaraannya, lewat ”jalan tikus”. Ia juga membawa pesan Duta Besar Indonesia di Berlin Timur, agar saya sampai menjelang jam 00.00. Soalnya sampai jam tersebut, Jerman Timur masih ada, dan iapun masih jadi Duta Besar. Saya lega, karena tiba beberapa jam menjelang jam yang ditentukan. Setelah menyampaikan suka duka menjadi Duta Besar di Jerman Timur dan tanggapannya mengenai penyatuan Jerman, Duta Besar I Gusti Ngurah Gde seolah “mengeluh” dengan berkata, ”Saya mungkin satu-satunya Duta Besar yang bernasib seperti ini. Yakni harus ”pergi” bukan karena dipanggil pulang atau dipersona-non-gratakan, melainkan karena negara tempat saya bertugas sudah tidak ada."

Bagaimana pengalaman ketika Presiden Suharto berkunjung ke Jerman?

Lihat halaman 2.

Laporan Pilihan