1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Duch Divonis 35 Tahun Penjara

Proses pertama terhadap anggota Khmer Merah berakhir Senin (26/07) di Pnom Penh dengan pembacaan hukuman. Kaing Guek Eav atau Duch dijatuhi hukuman penjara 35 tahun. Proses ini bagian upaya mengatasi trauma kolektif.

default

Kaing Guek Eav atau Duch (kanan) di depan pengadilan

Kaing Guek Eav, atau Duch, adalah orang pertama dari lima pemimpin Khmer Merah yang dihadapkan ke pengadilan. Duch yang sekarang berusia 67 tahun dulu menjadi pemimpin penjara Toul Sleng yang terkenal menjadi tempat penyiksaan. Ia dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Ia adalah satu-satunya mantan pejabat tinggi Khmer Merah yang menyatakan diri bersalah. Selama proses yang berlangsung 12 bulan, Duch meminta maaf kepada orang-orang yang berhasil selamat dari rejim Khmer Merah, dan anggota keluarga yang tewas di masa kekuasaan rejim itu.

Duch mengatakan, "Saya tahu, bahwa kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat, terutama terhadap perempuan dan anak-anak, adalah kejahatan besar yang tidak dapat ditolerir. Oleh sebab itu saya minta untuk diberi kesempatan meminta ampun.“

Bekas Penjara

Tuol Sleng Museum

Bekas penjara Tuol Sleng yang sudah menjadi museum

Di penjara Tuol Sleng semua orang yang dianggap menentang pemerintahan rejim ditahan, juga tersangka mata-mata, dan orang yang dianggap berkhianat serta penyabot. Sebagian besar dari 16.000 tahanan disiksa petugas dan dipaksa mengaku bersalah. Sekarang gedung penjara tersebut menjadi museum. Di dinding tergantung foto-foto pria, perempuan dan anak-anak. Foto itu diambil tidak lama sebelum mereka dibunuh.

Bagi banyak orang di Kamboja, proses ini menjadi bagian upaya mengatasi trauma yang dirasakan secara kolektif. Banyak korban Khmer Merah masih menderita sekarang. Ou Samon sekarang berusia 46 tahun. Ketika kekejaman Khmer Merah melanda negaranya antara tahun 1975-1979, ia hampir kehilangan semua anggota keluarganya. Di museum Tuol Sleng ia mencari foto anggota keluarganya.

Ou Samon mengatakan, pengadilan dan proses yang sedang berlangsung sangat baik bagi rakyat. Itu menunjukkan pada politisi yang berkuasa sekarang, bahwa mereka harus bertanggungjawab, jika melakukan kejahatan. Walaupun sekarang mereka yang berkuasa. "Kami punya pengadilan yang dapat menghukum mereka.“

Tuntutan Hukuman

Kambodscha Menschenrechte Rote Khmer Tribunal Khieu Samphan

Khieu Samphan dalam dengar pendapat menjelang pengadilan (03/04/2009)

Jaksa menuntut hukuman penjara terhadap Duch sedikitnya 40 tahun. Banyak anggota keluarga dan korbannya menuntut ganjaran yang lebih besar. Hukuman mati tidak termasuk hukuman dalam tribunal Khmer Merah. Kim Sary, yang berusia 42 tahun dan berasal dari desa kecil di provinsi Kampong Thom, pergi ke Pnom Penh khusus untuk menghadiri pembacaan hukuman atas Duch. Ia mengatakan, baginya paling baik jika Duch mendapat hukuman tiga kali lipat bagi penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukannya.

Duch hanya dihukum 35 tahun penjara karena ia terbukti siap bekerja sama dengan pihak pengadilan dan mengaku menyesali perbuatannya, demikian para hakim pengadilan. Duch bahkan meminta maaf kepada korban selamat dan keluarga korban. Tapi Chum Sirat, keluarga korban yang juga bertindak sebagai penuntut menepis, ini hanya strategi Duch semata.

Chum Sirat mengatakan, Duch tak sungguh-sungguh minta maaf dan hanya mengaku bersalah atas dakwaan yang dikuatkan bukti-bukti kuat di pengadilan sehingga ia tak bisa berdalih lagi. Chum menambahkan, dalam permohonan maafnya Duch mengatakan akan melakukan upacara sesuai ajaran Buddha bagi para korban tapi itu ia lakukan bukan untuk para korban tapi agar ia tidak harus merasa bersalah.

Satu Divonis, Empat Masih Menunggu

Empat bekas pemimpin Khmer Merah lainnya masih menunggu proses. Yaitu mantan pemimpin negara Khieu Samphan, mantan menteri luar negeri Ieng Sary dan istrinya Ieng Thirith, yang dulu menjadi menteri sosial, serta pemimpin ideologi Khmer Merah Nuon Chea, yang dikenal dengan sebutan "saudara nomor dua". Sementara yang disebut "saudara nomor satu" adalah Pol Pot, yang dilaporkan meinggal dunia tahun 1998 di Kamboja utara.

Sekitar dua juta warga Kamboja, yaitu sekitar seperempat dari jumlah rakyat, tewas selama Khmer Merah berkuasa. Mereka dieksekusi, atau meninggal akibat kerja paksa, kelaparan serta kurangnya fasilitas kesehatan.

Bernd Musch-Borowska / Marjory Linardy
Editor: Andriani Nangoy

Laporan Pilihan