1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Drama Penyanderaan di Peshawar Berakhir

Delapan jam mencekam di Peshawar berakhir dengan tewasnya semua gerilayawan Taliban. Lebih dari 130 orang meregang nyawa, 84 di antaranya anak-anak. Kelompok esktremis itu sempat menyandera 500 murid.

Pakistan didera serangan teror paling berdarah sejak beberapa tahun terakhir ketika gerilyawan Taliban menyerang sebuah sekolah di Peshawar. Pertempuran dengan militer pemerintah kemudian berkecamuk menewaskan lebih dari 130 orang, 84 di antaranya anak-anak.

Selain korban jiwa, sekitar 122 orang mengalami luka-luka, kata Pervez Khattak, Perdana Menteri Khyber Pakhtunkhwa. Pertempuran di sekitar sekolah berlangsung hingga sore waktu setempat.

Militer mengklaim berhasil membunuh semua anggota Taliban yang berada di dalam sekolah.

Taliban awalnya membidik gedung sekolah yang menampung murid-murid sekolah dasar. Saat itu bocah-bocah tersebut sedang menjalani ujian di aula sekolah. "Mereka langung menembaki kami dengan senjata," kata seorang murid yang berhasil melarikan diri.

Kelompok teror Tahrik-i-Taliban Pakistan (TTP) mengaku mendalangi serangan tersebut. "Kami memiliki penembak jitu dan pembom bunuh diri di dalam gedung," kata Jurubicara TTP, Muhammad Khorasani.



"Sekolah ini milik tentara dan militer Pakistan bersekutu dengan musuh-musuh kami," katanya kepada media Jerman Der Spiegel via telepon. "Semua bersiap mati dalam perang. Mereka ditugaskan menembak mati murid kelas atas, tapi bukan anak-anak," katanya lagi.

Saksi mata melaporkan, jelang tengah hari gerilayawan Taliban menyusup ke sekolah lewat kuburan yang bersebelahan. "Mereka langsung melepaskan tembakan dan membakar mobil," kata seorang pejalan kaki kepada stasiun televisi Pakistan. "Saat itu saya bisa melihat beberapa anak-anak terluka.

Menurut kepolisian, kelompok esktremis itu sempat menyandera 500 murid dan guru sekolah.

Sementara itu Perdana Menteri Nawaz Sahrif mengutuk serangan tersebut dan menyebut perstiwa di Peshawar sebagai tragedi nasional. "Mereka adalah anak-anak saya. Kematian mereka adalah kehilangan buat saya," ujarnya.

Sharif sempat mengunjungi Peshawar dan memantau langsung jalannya upaya pembebasan sandera oleh militer.

rzn/hp

Laporan Pilihan