1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Drama Pengungsi di Laut Tengah

Uni Eropa menghadapi dilema. Jika mereka mengamankan jalur pelayaran di Laut Tengah, maka jumlah pengungsi akan terus melonjak. Komentar Felix Steiner.

Insiden karamnya kapal pengungsi di Laut Tengah makin kerap terjadi. Peristiwa paling aktual, kapal pesiar "Salamis Filoxenia" menyelamatkan 350 pengungsi dari kapal bobrok yang nyaris tenggelam, menjadi simbol dari keseluruhan situasi yang rumit ini.

Saat mendarat di pelabuhan Limassol di Siprus, seluruh pengungsi yang mayoritasnya berasal dari Suriah tidak mau turun dari kapal pesiar. Mereka mengajukan tuntutan, agar diangkut menuju Italia. Kapten kapal pesiar jelas dihadapkan pada pilihan sangat sulit. Dipertanyakan, apakah dengan pengalaman pahit semacam itu, di masa depan ia masih bersedia menolong pengungsi yang perahunya nyaris karam?

Simbol paling tegas dari tragedi kemanusiaan ini adalah kecelakaan karamnya kapal pengungsi di perairan pulau Lampedusia, Italia setahun lalu, yang menewaskan hampir 400 orang. Padahal beberapa pekan sebelumnya, Paus Fransiskus, yang saat itu baru ditasbihkan, khusus melawat ke Lampedus dan melemparkan karangan bunga ke laut, untuk mengenang semua korban yang tewas tenggelam dalam upaya mencapai Eropa.

Patroli makin intensif

Setelah insiden, pemerintah Italia yang mendapat tekanan publik, meluncurkan misi patroli angkatan laut "Mare Nostrum", yang terbukti sukses menyelamatkan ribuan pengungsi yang kapalnya nyaris karam.

Namun ironisnya, perairan Laut Tengah yang relatif makin aman, ibarat magnet yang menarik lebih banyak pengungsi ke Eropa. Dalam sembilan bulan terakhir ini, organisasi internasional urusan pengungsi IOM mencatat lebih 3.000 pengungsi tewas akibat kapalnya karam. Ini sebuah rekor baru korban tewas pengungsi lewat Laut Tengah, rekor yang memilukan.

Tapi mengapa jumlah korban makin banyak? Ini berkorelasi dengan melonjaknya jumlah pengungsi "ilegal" dari Timur Tengah atau Afrika yang berusaha masuk Eropa lewat Laut Tengah.

Deutsche Welle Felix Steiner Zentrale Programmredaktion

Felix Steiner, redaktur DW.

Penyebab lonjakan arus pengungsi, berdasar penjelasan Amnesty International, adalah perang saudara dan konflik yang makin brutal di Suriah serta gelombang serangan terbaru Israel ke Jalur Gaza, yang memicu makin banyak warga Palestina mengungsi dengan perahu menuju Eropa.

Jangan dilupakan, makin banyak warga dari negara yang struktur kenegaraannya hancur total, seperti Afghanistan, Somalia, Mali, Eritrea yang siap mengambil risiko pengungsian berbahaya itu. Tren ini memicu panen di kalangan penyelundup manusia dan pedagang manusia. itu berdasar analisa dari lembaga penjaga perbatasan Eropa Frontex.

Bandit penyelundup dan pedagang manusia mengerahkan semua perahu yang ada di Libya dan Mesir, dua negara utama pemberangkatan pengungsi. Banyak perahu bobrok yang pecah dan karam sesaat setelah berlayar dari pelabuhan. Yang bernasib baik, ditolong misi "Mare Nostrum" sebelum kapalnya karam. Ini sebuah lingkaran setan sebab akibat yang sulit diurai.

Peran Uni Eropa

Apa artinya drama pengunsi ini bagi Uni Eropa? Harapan menghancurkan struktur kriminal penyelundup manusia di Afrika Utara, jelas merupakan sebuah ilusi. Atau samasekali tidak bertindak, dan membiarkan misi "Mare Nostrum" yang digagas Italia berakhir tanggal 1 November? Karena dengan itu, walau korban tewas akibat karamnya kapal meningkat, tapi hal itu akan mengurangi minat dan arus pengungsi.

Tentu ini bukan solusi bagi Uni Eropa yang tidak hanya mengedepankan kepentingan ekonomi, tapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Artinya, misi "Mare Nostrum" harus jadi tugas bersama Uni Eropa. Ini hanya tindakan minimal.

Lebih jauh lagi, negara-negara kaya, seperti Jerman, harus mulai membahas kemungkinan izin masuk dan suaka bagi para pengungsi dari kamp penampungan di Suriah dan Turki. Opso ini memang tidak populer, terutama di Jerman yang masyarakatnya sudah mengeluhkan beban jumlah pengungsi yang sudah ada. Tapi negara-negara kaya, harusnya bisa menerima beban semacam itu.