1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

DK PBB: Hari Yang Kelam bagi Kemanusiaan

Dewan Keamanan PBB lakukan sidang darurat, Selasa (01/06), menyusul serangan Israel terhadap konvoi kapal kemanusiaan. PBB juga mengutuk aksi militer yang telah menelan korban jiwa dari pihak sipil ini.

default

Demonstrasi di Jakarta mengutuk aksi militer Israel terhadap kapal kemanusiaan

Di sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu melontarkan kata-kata pedas, "Ini hari yang kelam dalam sejarah kemanusiaan. Jarak antara teroris dan negara jadi membaur."

Atas prakarsa Turkilah, DK PBB melangsungkan sidang khusus untuk membahas serbuan militer Israel ke konvoi kapal kemanusiaan yang menewaskan belasan aktivis. Seluruh enam kapal yang digunakan berbendera Turki. Sebagian korban tewas adalah warga Turki. Di antara yang tewas dikabarkan terdapat seorang wartawan Indonesia. Selain aktivis, sejumlah pemenang Nobel, anggota parlemen dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Jerman, sebagian besar dari 700an aktivis dalam misi itu adalah warga Turki.

Tak heran kalau Turki, anggota NATO dan satu dari sedikit sekutu Israel di negeri-negeri Muslim menunjukkan sikap sangat keras. Menlu Turki Ahmet Davutoglu menambahkan, "Tindakan Israel ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Dalam istilah sederhana, ini kejahatan dan pembajakan yang kasar. Tindakan pembunuhan yang dijalankan oleh negara."

Amerika Serikat, sekutu dekat Israel, masih besikap menahan diri. Wakil Dubes AS di PBB, Alejandro Wolff, memilih kata-kata yang sangat berhati-hati. Ia mengungkapkan keguncangan pemerintah AS, namun mempermasalahkan upaya para aktivis menembus blokade Gaza.

Sebaliknya, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik Oscar Fernandez Tarranco menyiratkan secara tidak langsung bahwa justru karena ada blokade Israel maka ada konvoi kapal kemanusiaan para aktivis itu. "Perlu ditegaskan lagi di sini. Bahwa pertumpahan darah ini tidak akan terjadi seandainya saja seluruh desakan yang disampaikan berulang kali, mengenai dicabutnya blokade terhadap Gaza yang tidak bisa diterima dan kontra-produktif itu, dipatuhi Israel," kata Terranco.

Di pihak lain, duta besar Israel Daniel Carmon berdalih bahwa konvoi Flotilla itu dimanfaatkan oleh para provokator pemicu kekerasan, yang berkedok sebagai pekerja kemanusiaan dan perdamaian, untuk mengungkapkan kebencian kepada Israel.

Sebagian besar 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB menuntut pengusutan tuntas terhadap kasus yang mengguncangkan dunia ini. Juga Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon, "Kami belum tahu sepenuhnya fakta-fakta seputar itu. Namun lebih dari sepuluh orang terbunuh, dan banyak yang terluka. Sangat penting, bahwa dilakukan pengusutan yang tuntas untuk mengungkapkan secara persis bagaimana bisa peristiwa berdarah ini terjadi."

Lena Bodewein/afp/Ging Ginanjar

Editor: Ziphora Robina

Laporan Pilihan