Ditolak Pengeboran Minyak di Malvinas | dunia | DW | 24.02.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ditolak Pengeboran Minyak di Malvinas

Malvinas termasuk wilayah Inggris. Tetapi Argentina yang terletak di dekatnya juga ingin menduduki. Di daerah sekitar Malvinas diduga terdapat 60 milyar barrel minyak mentah. Amerika Latin bersatu mendukung Argentina.

default

Anjungan minyak yang sudah berdiri di wilayah perairan milik Inggris

Dalam satu hal semua wakil negara yang hadir dalam KTT segera setuju. Semua negara Amerika Latin menolak pengeboran minyak oleh Inggris di dekat Malvinas, dan dengan demikian mendukung Argentina, yang menuntut Malvinas menjadi wilayahnya.

Cristina Fernandez de Kirchner

Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner

Percobaan pengeboran yang diadakan sebuah perusahaan Inggris kini dinilai Presiden Argentina Christina Kirchner sebagai pelanggaran hukum internasional. Ia mengatakan, "Dengan membangun anjungan minyak Inggris tidak hanya melanggar kedaulatan, melainkan juga mencuri kekayaan alam kami. Ini adalah perampokan.“

Amerika Latin Bersatu

Seluruh Amerika Latin bersatu dan menunjukkan kekuatan. Inilah isyarat yang berusaha ditunjukkan lewat konferensi yang disebut "KTT Persatuan" di dekat kota Cancun, Meksiko. Hampir semua negara mengirimkan wakilnya. Misalnya Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Kuba Raúl Castro. Hanya Honduras yang tidak diundang akibat kudeta yang terjadi tahun lalu. Keputusan paling penting dalam konferensi adalah: Amerika Latin dan Karibia akan membentuk perhimpunan negara baru.

Treffen der Rio Gruppe in Mexiko

Para kepala negara Amerika Latin berfoto bersama dalam KTT di Playa del Carmen, Cancun, Meksiko (22/02)

Itu dinyatakan tuan rumah, Presiden Mexiko Felipe Calderon pada akhir KTT, "Inilah waktu yang tepat bagi Amerika Latin dan Karibia. Kami akan menunjukkan bagi dunia, bahwa kami memutuskan bersatu walaupun kami juga memiliki perbedaan pendapat. Kami sadar, terdapat lebih banyak hal yang menyatukan daripada yang memecah-belah kami.“

Perincian Masih Dirumuskan

Perhimpunan baru itu belum mempunyai nama. Juga belum jelas, bagaimana struktur dan kewenangan perhimpunan tersebut. Yang direncanakan adalah perluasan perdagangan regional serta upaya bersama untuk memberantas perdagangan obat bius dan teror. Perinciannya masih dirumuskan.

Raul Castro Präsident Kuba beim Besuch in Moskau Russland

Presiden Kuba Raúl Castro

Tetapi satu hal sudah jelas. AS dan Kanada tidak diikutsertakan. Dengan demikian perhimpunan itu menjadi saingan langsung Organisasi Negara-Negara Ameria atau OAS, di mana Washington memegang peranan besar.

Terutama para pemimpin negara yang berhaluan kiri menyambut baik rencana Amerika Latin untuk mempererat diri. Presiden Kuba Raúl Castro menilai KTT itu sebagai pertemuan bersejarah. Presiden Venezuela Hugo Chavez sebelumnya sudah menyatakan, yang terpenting adalah memisahkan diri dari pengaruh AS.

Perhimpunan Baru Yang Rapuh

Namun demikian dalam "KTT Persatuan" itu juga tampak jelas rapuhnya perhimpunan yang baru didirikan. Konferensi hampir berakhir dengan keributan, karena Venezuela dan negara tetangganya Kolumbia melanjutkan perselisihan mereka dalam pertemuan. Kolumbia dianggap sebagai sekutu tererat AS, oleh sebab itu Venezuela merasa terancam secara militer.

Kolumbien Präsident Alvaro Uribe

Presiden Kolumbia Alvaro Uribe

Perdana Menteri Jamaica, Bruce Golding juga menilai persatuan Amerika Latin tidak akan berjalan dengan mudah. Ia berharap, di masa depan perhimpunan baru itu akan menemukan jalan untuk membicarakan hal-hal yang memecah-belah sehingga persatuan dapat terwujud.

Dalam dua tahun mendatang organisasi baru itu direncanakan mulai bekerja, dengan syarat ada kesepakatan tentang tujuan dan strukturnya. Tetapi sekarangpun Amerika Latin sudah akan bersama-sama membantu negara termiskin di wilayah itu. KTT di Cancun memutuskan, dana sejumlah 25 juta Dollar akan disumbangkan kepada Haiti, untuk pembangunan kembali setelah gempa bumi 12 Januari lalu.

Martin Polansky / Marjory Linardy

Editor: Asril Ridwan