1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Diskriminasi terhadap Penyandang Cacat dan Lanjut Usia Meningkat di Eropa

Satu dari setiap enam warga Eropa merasa dirinya didiskriminasi. Demikian hasil jajak pendapat yang disampaikan Komisi Uni Eropa di Brussel, Belgia, Senin (09/11).

default

Bukan satu hal yang mudahh bagi seorang penyandang cacat lumpuh untuk dapat menikmati pertandingan sepak bola di stadion

Selain diskriminasi terhadap penderita cacat, mayoritas warga Eropa berpendapat, di Eropa terdapat diskriminasi luas terhadap keanggotaan etnis. Jajak pendapat dilangsungkan di semua negara anggota Uni Eropa dan di tiga negara calon, yaitu Kroasia, Makedonia dan Turki. Masing-masing negara 1000 responden. Mereka ditanyai tentang kesan dan pengalaman seputar diskriminasi.

Beberapa hasil jajak pendapat tetap seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi ada juga kejutan seperti dituturkan Claire Herrmann dari Komisi Eropa. "Sama dengan hasil tahun 2008, diskriminasi akibat asal-usul etnis dilihat sebagai bentuk yang paling menyebar luas di Uni Eropa. Tapi hal baru di tahun 2009 ini adalah peningkatan nyata dalam diskriminasi akibat usia lanjut atau cacat yang diderita.“

Diskriminasi akibat usia lanjut, tahun 2009 ini naik menjadi hampir 58%. Claire Herrmann merunutnya sebagai akibat dari krisis ekonomi. Dan mayoritas responden mengkuatirkan konsekuensi negatif lebih lanjut dari krisis. 64 persen warga Eropa yakin, krisis ekonomi memperburuk diskriminasi terhadap usia lanjut. 57 persen yakin, diskriminasi terhadap asal-usul seseorang bertambah akibat krisis ekonomi dan 56 % kuatir akan meningkatnya diskriminasi terhadap orang cacat.

Diskriminasi akibat asal-usul, ras, agama, orientasi seksual ataupun kecacatan dan usia adalah hal yang dilarang di Uni Eropa. Namun tidak semua warga Eropa menyadari apa hak-haknya. Banyak korban diskriminasi memilih tutup mulut bukan semata karena takut akan dampak ngatif jika melaporkan perlakuan diskriminatif, tapi juga karena ketidaktahuan. Mereka yang tidak bersedia bungkam, menurut hasil jajak pendapat, memilih untuk pertama-tama mendatangi polisi. Karena itu polisi seharusnya juga peka akan masalah diskriminasi, demikian kesimpulan Komisi Eropa.

Lalu, negara mana yang paling baik rapornya dalam hal diskriminasi dan mana yang paling buruk? Komisi Eropa menolak memberi jawaban. Kondisi di masing-masing negara sangat berbeda, sehingga tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Claire Herrmann juga membantah jika hasil jajak pendapat dianggap menyesatkan.

"Di Swedia, tingkat diskriminasi yang dirasakan sangat tinggi, dan saya yakin itu karena rakyat Swedia memahami masalah diskriminasi. Sementara di tempat lain diskriminasi tidak dibicarakan,“ ungkap Claire Hermann.

Itu berarti, di negara di mana jarang dilaporkan kasus diskriminasi, tidak otomatis berarti situasi di sana sangat baik, tapi mungkin karena orang memilih tutup mulut. Sebaliknya, kesadaran akan hak dan pemahaman masalah, yang bisa meningkatkan jumlah laporan diskriminasi, terkadang berarti isyarat positif.

Christoph Hasselbach/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid