1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Diskriminasi di Pintu Masuk Diskotek

Mahasiswa asing mengeluh adanya pengawasan diskriminatif pada diskotek dan klub-klub di Jerman. Sebuah tes di Leipzig menunjukkan keluhan mereka benar. Dewan Mahasiswa Universitas Leipzig mencari solusinya.

Diskriminierende Einlasskontrollen in Leipzig: Plakat gegen Diskriminierung - Eintritt für Alle Copyright: DW/Ronny Arnold

Diskriminasi pada pintu masuk diskotek di Leipzig

Lama-lama mereka sadar bahwa semua itu bukan kebetulan. Lima diskotek sudah dikunjungi Abdulaziz Bachouri dan kedua temannya asal Suriah pada suatu malam minggu. Selalu saja terjadi skenario yang sama. Mereka berdiri pada antrian di pintu masuk, menunggu dengan sabar dan ramah, sampai mereka tiba di pintu masuk. Di sana petugas ‚security' mengamati mereka dari ujung kepala sampai kaki, minta diperlihatkan kartu tanda mahasiswa dan paspor, lalu tiba-tiba mengatakan bahwa malam itu sedang berlangsung pesta pribadi. Dan mereka tidak diijinkan masuk. Penjaga pintu pada klub diskotek berikutnya mengatakan, hari ini hanya untuk tamu langganan. 'Security' atau penjaga pintu diskotek lainnya mengatakan, „kalian tidak berpakaian dengan tepat.“

Diskriminierende Einlasskontrollen in Leipzig: Abdulaziz Bachouri vor der Leipziger Moritzbastei. Copyright: DW/Ronny Arnold

Abdulaziz Bachouri

Sepatu kets, jeans dan kemeja tampaknya tidak pas untuk Dresscode atau aturan berbusana. Semua itu terjadi Oktober 2011. Abdulaziz Bachouri dan teman-temannya harus menarik neraca yang menyedihkan. Enam dari 11 diskotek menolak mereka masuk.

Integrasi Tidak Diinginkan

Memang dapat saja terjadi dimana seseorang ditolak pada pintu masuk sebuah diskotek. Masalahnya hanya, ada kelompok pengawas Jerman dan mereka berdiri beberapa meter di belakang kelompok Bachouri, di setiap diskotek. Daniel Bartel tidak pernah ditolak pada pintu masuk diskotek mana pun. „Saya bahkan mengatakan, bahwa saja juga mengenakan jeans dan sepatu kets.“ Dengan gerakan tangan singkat ia tetap diminta untuk masuk.

Bartel bekerja untuk kantor anti diskriminasi di negara bagian  Sachsen. Ia kenal Bachouri yang berusia 26 tahun, sejak dua tahun lalu. Bachouri menceritakan kepadanya tentang mahasiswa-mahasiswa asing yang melaporkan pada jam bicara di dewan mahasiswa Leipzig, mengenai diskriminasi pada pintu masuk diskotek. “Mereka ingin berintegrasi, tapi pada pintu masuk, pesta kebanyakan sudah berakhir.” Mereka memutuskan melakukan pengujian pada klub-klub diskotek itu. Dengan pakaian yang sama, cara penampilan yang sama, dengan satu-satunya perbedaan yaitu asal usul mereka. Hasilnya mengkhawatirkan.

Campus am Augustusplatz in Leipzig. Copyright: Swen Reichhold/Pressestelle der Universität Leipzig

Kampus Universitas Leipzig

Sejak tiga tahun Abdulaziz Bachouri menempuh studi Ilmu-Ilmu Arab pada Universitas Leipzig. Gelar Bachelor sudah diraihnya di Suriah, ia sedang menempuh studi Master. Dua tahun lamanya ia menjadi pembina bagi sekitar 3000 mahasiswa asing dari luar negeri yang kuliah di Uni Leipzig, mengurus masalah dan kesulitan mereka. Politik penolakan pada pintu masuk diskotek sudah jelas berbau rasistis, dijelaskan Bachouri. Banyak rekan kuliahnya merasa benar-benar didiskriminasi. „Itu berarti, pergilah berpesta di tempat lain. Tapi bukan itu tujuannya.!“ Ini lebih menyangkut benar-benar diterima secara mendasar dalam masyarakat atau tidak.

Tidak Ada Konfrontasi yang Konkrit

Enam diskotek yang menolak memberi ijin masuk dikirimi surat oleh kantor anti diskriminasi. Mereka sebaiknya memberi keterangan .Hampir tidak ada pengelola diskotek yang bereaksi. Seandainyapun ada, datang jawaban umum. "Kami tidak dapat memberi keterangan tentang itu, kami tidak ada di pintu“, demikian kutipan Bartel pernyataan pengelola diskotek. Mereka tidak menolak orang asing dan merupakan klub yang terbuka. "Konfrontasi konkrit tidak terjadi,“ kata Bartel.

Diskriminierende Einlasskontrollen in Leipzig: Daniel Bartel vom Antidiskriminierungsbüro Sachsen Copyright: DW/Ronny Arnold

Daniel Bartel

Sejak itu sejumlah hal dilakukan. Dilakukan kontak dengan Balaikota Leipzig dan pertemuan dengan pengelola klub diskotek. Dewan Mahasiswa, yang mewakili mahasiswa pada universitas, serta kantor anti diskriminasi mengolah rencana lima poin. Di dalamnya diminta, agar tamu-tamu harus diberi informasi dalam bentuk plakat, bagaimana cara memperoleh ijin masuk. Kapan dan mengapa dilakukan penolakan dan kepada siapa mereka dapat melapor jika mereka merasa tidak diperlakukan secara adil. Klub-klub diskotek di Leipzig untuk itu mewajibkan dirinya sendiri, mengupayakan perlakuan adil bagi tamu-tamunya. Namun tidak lebih dari itu. Mahasiswa mengajukan gugatan terhadap masing-masing pemilik klub, dua kali harus dibayar denda 500 Euro, satu kali 300 Euro. Sejak itu suasana menjadi tegang.

Klub Diskotek Harus Berubah Pikiran

Bagi Daniel Bartel yang penting adalah sikap yang jelas untuk tidak membiarkan adanya diskriminasi. Tamu-tamu diberi penjelasan tentang hak-haknya, menciptakan peraturan bagi semua dan menciptakan transparansi. „Saya tidak mengatakan, bahwa klub-klub punya gambaran dunia kanan yang tertutup,“ dijelaskan Bartel. „Tapi apa yang terjadi di sana, menciptakan struktur pemikiran rasistis sehari-hari.“ Hal itu tidak hanya terjadi di Leipzig. Kolega Bartel dari negara bagian Jerman lainnya melaporkan, „uji coba di Köln, Hamburg dan Berlin menunjukkan, bahwa di sana juga ada masalah.“

[8812397] Nightlife - junge Leute stehen Schlange Junge Leute stehen Schlange am 21.01.2006 vor der Diskothek bei der Untreu Party im Kulturwerk Fichte in Magdeburg. Foto: Andreas Lander +++(c) dpa - Report+++

Antrian masuk diskotek

Dewan Mahasiswa Leipzig sudah bereaksi dan sejak awal 2013 hanya bekerja sama dengan klub-klub yang menerapkan rencana lima poin. Beberapa klub diskotek mahasiswa kecil menyetujuinya, kebanyakan klub diskotek besar tidak. Tapi ada pertanda positif. Sebagai klub diskotek besar pertama Moritzbastei, kini menjadi tempat berdansa dan menggelar acara yang disukai mahasiswa. Pemiliknya Mario Wolf menilai agenda tersebut bagus. "Jika di masa lalu ada masalah di pintu, tamu-tamu dan kami harus menyelesaikannya sendiri. Tidak ada dasar-dasar untuk mendiskusikannya. Sekarang kami maju satu langkah.“ Wolf memberi pernyataan jelas. Setiap orang diterima secara terbuka, diskriminasi tidak diterima. Kata-kata yang tegas, yang mungkin kini juga diketahui oleh pemilik klub diskotek lainnya.

Laporan Pilihan