Di Jakarta Obama Merasa Pangling | indonesia | DW | 09.11.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Di Jakarta Obama Merasa Pangling

Akhirnya ia datang juga di Jakarta. Tetap dengan penampilan yang ramah dan hangat, namun ia sudah bukan lagi si Barry kecil. Melainkan Barack Obama, presiden Amerika Serikat, negeri terkuat di dunia.

default

Sesudah hampir 40 tahun, Obama tentu tak begitu gampang mengenali kota yang ditinggalkannya tahun 1971:

"Sungguh luar biasa untuk kembali kesini. Kendati harus saya akui, datang lagi ke suatu tempat yang merupakan bagian dari masa kanak-kanak saya, dan datang sebagai seorang presiden, ya saya mengalami sedikit disorientasi," katanya disambut gelak tawa.

"Lebih-lebih, karena keadaannya, lanskapnya sudah berubah sepenuhnya. Tatkala saya datang di sini dulu, tahun 1967, orang-orang naik becak. Sekarang, kendati saya tahu lalu lintas Jakarta sangat berat, sebagai presiden saya bahkan tidak bisa melihatnya karena semua jalan ditutup." Kembali hadirin tertawa, dalam pemakluman bahwa Obama tidak sedang meledek kesemerawutan Jakarta ataupun pemblokadean jalanan.

Ia mengungkapkan, dulu bangunan tinggi di Menteng yang dikenalnya hanyalah Sarinah. Sekarang gedung di mana-mana. Betapapun, tetaplah ia selalu merasa dekat dan memiliki ikatan dengan Indonesia.

" Adik saya itu setengah Indonesia. Ibu saya lama hidup dan bekerja di sini. Jadi tempat ini, dengan sehala suasananya, dengan segala kenangan itu, sungguh akrab bagi saya.

Sayangnya kedatangan yang dibayangkan berlangsung sebagai perjalanan nostalgia itu berlangsung singkat dan sangat padat. Kurang dari 24 jam, jauh lebih singkat dari yang semula dijadwalkan, yang mengalami penundaan hingga dua kali. Dan jauh lebih singkat dari kunjungan Obama di India yang berlangsung hampir tiga hari.

Obama tidak menyangkalnya. Karenanya ia menandaskan niatnya untuk meluangkan waktu lebih lama di Indonesia pada saat pertemuan East Asian Summit (EAS) tahun depan.

Di luar hal-hal nostalgik dan pribadi di masa lalu, kata Obama sebagai presiden kunjungannya berfokus ke masa depan.

Ia menandaskan kehendak Amerika Serikat untuk menjadi mitra Indonesia terpenting di berbagai bidang, yang akan mendekatkan kedua negara. Fokus Obama pada tiga bidang kunci:


"Pertama, memperluas hubungan perdagangan dan investasi, karena hal ini akan meningkatkan kemakmuran rakyat bersama. Kedua, meningkatkan daya masyarakat kedua negara untuk menghadapi tantangan-tantangan baru, dengan berbagai pertukaran mahasiswa dan pakar, dan memperluas kerjasama antar universitas. Elemen ketiga adalah memperdalam kerjasama politik dan keamanan keduia negara".

Obama tentu saja menyinggung bencana Merapi, Mentawai dan Wasior. Ia menandaskan tekad Amerika untuk menimngkatkan bantuan bagi korban.

Selain isu bilateral, Obama dan Yudhoyono juga membahas sejumlah masalah lain seperti pemberantasan terorisme, keamanan kawasan dan perdamaian Timur Tengah.

Mengenai wacana untuk menjangkau dunia Islam yang didengung-dengungkan selama ini, dan perwujudannya sangat jauh, Obama menandaskan bahwa gagasannya berangkat dari niat yang tulus dan jujur.

"Kita tidak bisa terlalu muluk berharap mampu menghapus sepenuhnya prasangka dan kesalahpahaman yang berkembang sejak sangat lama. Tapi kami percaya, bahwa kami sudah berada di jalur yang tepat."

Sebagian langkah konkret yang dijelaskannya antara lain memperluas interaksi dengan negeri-negeri Muslim. Sehingga mereka tidak melulu terpaku pada masalah keamanan. Karena kenyataannya, seperti Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, rakyat memiliki bermacam perhatian dan minat yang luas, yang bukan cuma masalah keamanan.

Tentu keamanan dalam hal ini sangat penting, kata Obama. Tapi interaksi harus berlangsung dengan beragam kalangan untuk beragam bidang yang luas untuk membangun sikap saling memahami. "Ini memang suatu proyek yang belum tuntas. Masih banyak yang harus dilakukan," tandas Obama.

Obama juga melontarkan kecamanannya terhadap keputusan Israel meneruskan pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur, yang disebutnya sangat mengganggu kelanjutan perundingan damai Timur Tengah. Presiden AS ini tak pula melewatkan kesempatan di negara Asia Tenggara terbesar itu untuk mengecam pemilu di Birma yang merupakan anggota ASEAN.

Selasa malam, presiden Barack Obama dan ibu negara Michele Obama menghadiri jamuan makan malam di istana negara bersama sejumlah pejabat dan tokoh Indonesia. Termasuk presiden kelima Megawati yang sejak tak menjabat presiden selalu menolak datang ke istana. Hari Rabu (10/11) Obama dijadwalkan berkunjung ke Masjid Istiqlal, Taman Makam Kalibata dan berpidato di kampus Universitas Indonesia.

Zaki Amrullah; ed: ginanjar

Laporan Pilihan