1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Di Balik Panggung Musium

Bagaimana sebenarnya sebuah musium berfungsi? Apa saja tugas sebuah musium? Dan kenapa sebanarnya musium-musium di Jerman tutup di hari Senin? Musium Wallraf Richartz Köln mempunyai jawabannya.

Musium Wallraf Richartz rayakan hari jadi ke 150

Musium Wallraf Richartz rayakan hari jadi ke 150

Tahun ini Musium Wallraf Richartz di Köln terkenal memiliki koleksi terbesar karya seni dari abad pertengahan dari seluruh dunia.

Lukisan selalu dilengkapi keterangan mengenai latar belakangnya

Lukisan selalu dilengkapi keterangan mengenai latar belakangnya

Sudah sejak lama musium-musium di Jerman tidak lagi hanya menggantung lukisan-lukisan berharga di dinding. Salah satu pendamping karya seni adalah berbagai metode penerangan yang bisa dipakai pengunjung musium. Contohnya sebuah drama radio yang menjelaskan latar belakang lukisan berjudul "Rayuan Antonius suci" yang tergantung di dinding musium Wallraf Richartz. Dijelaskan mengenai lukisan dari abad pertengahan ini, bagaimana Antonius sedang dibebaskan dari kehidupan duniawinya yang penuh kesengsaraan. Ini merupakan sebuah cerita dari Alkitab.

Drama radio ini dibuat bagi anak-anak, yang diharapkan bisa menikmati lukisan-lukisan antik. Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli pendidikan di bidang musium telah mengembangkan konsep yang bisa menarik lebih banyak pendatang ke berbagai pameran.

Kata wakil direktur musim Wallraf Richartz di Köln Dr. Roland Krischel, harus dipertimbangkan, "bahwa latar belakang pendidikan, yang dulunya bisa kita harapkan dari para pengunjung musim Wallraf Richartz ini di masa depan, tidak akan ada lagi. Jadi kita, kasarnya, harus mulai menerangkan dari awal, dari Adam dan Hawa."

Para artis dan impiannya

Tugas sebagai kurator dan pegawai musium sudah sangat berubah di beberapa tahun terakhir. Ini dapat dilihat dalam pameran yang berjudul "Tat Ort Museum", atau "Musium sebagai tempat kejadian", dimana para pengunjung bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dibelakang panggung musium . Tema "pameran" hanyalah salah satu dari total lima titik beratnya.

Musium Wallraf Richartz di Köln

Musium Wallraf Richartz di Köln mempunyai koleksi lengkap dari abad pertengahan

Tema satu lagi adalah tugas klasik sebuah musium, yaitu proses mengumpulkan obyek seni. "Musium berkewajiban untuk mengumpulkan obyek seni, dan menambah koleksi adalah hal yang menyenangkan sekali. Kita selalu berusaha untuk menambah koleksi, yang tentu saja pas dengan tema musiumnya," ujar Dr. Krischel.

Tentu hal ini juga mebuat para kurator, pakar seni, ahli dan sekelompok masyarakat senang. Tetapi bagaimana dengan orang-orang biasa? Sekarang ini kebanyakan orang tidak tidak berminat dengan seni. Tetapi mereka juga harus dibujuk datang ke musium, contohnya dengan nama-nama terkenal serta impian mereka, contohnya Van Gogh yang selalu bermimpi tentang Jepang.

Musium Wallraf Richartz dalam ruang pamerannya juga menunjukkan cuplikan dari sebuah film mengenai Van Gogh, yang membuat lukisannya yang berjudul "Auvers-sur-Oise" menjadi terkenal. Lukisan ini menunjukkan sebuah sungai kecil ditengah-tengah pemandangan yang indah sekali, sekarang ini menjadi salah satu daya tarik Musium Wallraf Richartz.

Bukan hanya latar belakang historis, keterangan aktual mengenai kondisi jembatan yang sekarang dikenal banyak orang ini juga diberikan kepada pengunjung. Di Perancis selatan tidak ada orang yang mau berbicara tentang tempat dimana Van Gogh dulu melukis salah satu lukisan terindahnya. Karena jembatannya sudah rusak, sungai dibawahnya sudah kering dan disekelilingnya sekarang ada jalan tol.

Tugas penting bagi kurator musium adalah perawatan karya-karya seni

Tugas penting bagi kurator musium adalah perawatan karya-karya seni

Kenapa musium tutup setiap hari Senin?

Sebenarnya lukisan memang selalu menceritakan sebuah kisah, paling tidak tentang pelukisnya, kapan ia melukis dan siapa yang dilukis. Tetapi ini hanyalah pertanyaan-pertanyaan mendasarnya. Para pengunjung juga bisa mengambil keuntungan dari penelitian yang dilakukan oleh para pakar sejarah seni. Dr. Roland Krischel, wakil direktur musium Wallraf Richartz Köln, menjelaskan, bahwa dengan setiap benda seni, dapat ditanyakan berbagai hal. "Seringnya pertanyaan-pertanyaan seperti: Siapa yang menciptakan obyek seni ini? Untuk siapakah obyek seni ini dibuat? Dalam konteks apa waktu itu karya seninya dibuat? Dan bagaimana karya seni ini bisa sampai ke kita?," cerita Dr. Krischel.

Yang tidak banyak diketahui pengunjung musium adalah aspek memelihara karya seni. Siapa yang sudah pernah melihat gudang sebuah musium, dimana ada jauh lebih banyak karya seni dibandingkan di ruang pameran sendiri? Siapa yang kenal dengan pekerjaan para kolektor? Pameran di Musium Walraff Richartz ini juga membuka misteri kenapa kabanyakan musium tutup setiap hari Senin.

"Hari Senin itu kesempatan yang baik untuk mengontrol karya-karya seni yang dipamerkan, karena tidak ada pengunjung yang bisa mengganggu," papar sang wakil direktur musium. "Jadi misalnya kalau piguranya butuh perbaikan, bisa dilakukan hari Senin, atau juga mengontrol tingkat kelembaban udara di musium," lanjut Dr. Krischel.


Anak-anak: pengunjung masa depan

Untuk membuat anak-anak tertarik pergi ke musium harus ada program khusus bagi mereka

Untuk membuat anak-anak tertarik pergi ke musium harus ada program khusus bagi mereka

Tahun 2011 musium Wallraf Richartz juga menunjukkan ide-ide yang mereka kembangkan untuk acara perayaan 150 tahun hari jadi musium ini. Salah satunya adalah proyek bersama dengan sebuah sekolah di Köln. Bersama dengan para staff pendidik di musium, anak-anak sekolahnya akan membuat sebuah pameran sendiri. Mereka juga akan membuat interpretasi karya-karya seni dengan kamera digital.

Bekerja dengan anak-anak adalah salah satu hal yang sangat disukai para pegawai musium. Ini juga jelas terlihat di pameran di musium Wallraf Richartz. Dr. Roland Krischel menjelaskan alasannya: "Anak-anak adalah pengunjung kami dimasa depan. Kita tidak boleh menunggu sampai orang dewasa nantinya baru berpikir untuk menggunakan waktu luangnya untuk pergi ke musium."

Jochen Kürten / Anggatira Gollmer
Editor: Edith Koesoemawiria