Desa India Melarang Perempuan Gunakan Ponsel | Sosial | DW | 10.12.2012
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Desa India Melarang Perempuan Gunakan Ponsel

Sebuah desa di India melarang perempuan menggunakan telepon seluler. Anggota dewan desa meyakini, ponsel dapat "merusak atmosfer sosial." Keputusan tersebut mendulang kecaman dari berbagai organisasi perempuan.

(FILES) In this photo taken on January 21, 2010, a Kashmiri woman speaks on a cell phone in Srinagar. India on April 16, 2010, banned phone users with monthly contracts in insurgency-hit Kashmir from sending SMS text messages in a new crackdown in the interest of national security, a statement said. There was no further explanation for the move, which is likely to provoke protests in the volatile Muslim-majority region like a previous attempt to ban pre-paid mobile phones in 2009. AFP PHOTO/Tauseef MUSTAFA/FILES (Photo credit should read TAUSEEF MUSTAFA/AFP/Getty Images)

Indien Frau telefoniert mit Handy

Gabungan organisasi perempuan India mengecam tindakan sebuah desa di timur laut yang melarang perempuan menggunakan telepon seluler. "Keputusan itu bodoh, konyol dan tidak perlu. Sesuatu yang merefleksikan ketakutan mereka terhadap kebebasan perempuan," kata Urvashi Butalua, seorang aktivis perempuan India di New Delhi.

Desa yang terletak di negara bagian Bihar itu acap disebut sebagai halaman belakang sekaligus kawasan termiskin di India. "Desa Kishanganj mayoritas penduduknya muslim. Desa itu terletak di perbatasan Nepal. Kawasan yang sangat miskin," kata Imammudin Ahmad, Direktur yayasan Women's Development Corporation di Bihar.

Ahmad meyakini rendahnya tingkat pendidikan di wilayah ini ikut berperan penting, "Mentalitas penduduk di sini sangat feodal dan kecuali perempuan diberikan hak untuk membuat keputusan, situasi semacam ini akan terus berlangsung," katanya.

Munawar Alam yang bertugas melaksanakan larangan tersebut di desa Suberbari, menepis kritik yang diarahkan terhadap dewan desa. Ia berdalih semakin banyak perempuan yang meninggalkan keluarganya. "Situasi ini membuat kami malu," katanya.

Indien junge Frau traditionell Handy Mobiltelefon Handyverbot

Alam mengklaim tren perceraian meningkat sejak masuknya layanan seluler di desa tersebut.

Dewan desa mengancam akan menjatuhkan denda sebesar 180 US-Dollar bagi setiap gadis yang kedapatan menggunakan telepon seluler. Sebaliknya perempuan yang sudah menikah cuma dikenai denda sebesae 37 US Dollar. Buat kawasan yang rata-rata penghasilannya berada di bawah satu dollar per hari, denda tersebut adalah ancaman serius.

Indien Mädchen Kind Handy Mobiltelefon Handyverbot

Faktanya ponsel tidak cuma digunakan oleh orang kaya, kata aktivis perempuan Ursvashi Butalia. Perempuan yang berimigrasi untuk mencari kerja juga bergantung pada ponsel untuk berkomunikasi dengan keluarga di desa.

Ia menuding dewan desa yang cuma berisi laki-laki, "ketakutan bahwa perempuan bisa keluar dari menjadi independen dari keluarga."

Tidak diragukan, masyarakat India juga ikut tergerus arus perubahan di era globalisasi. Para pakar meyakini. angka migrasi perempuan ke kota besar yang terus melonjak akan menggoyang pondasi masyarakat sosial India dan membawa perubahan pada nilai dan tadisi sosial, menyisakan kaum lelaki yang konservatif di kawasan pedesaan kesulitan berhadapan dengan realita baru ini.