1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Dengan Alga dari Laut Baltik Melawan Kanker

Alga memiliki banyak kegunaan: enak rasanya, bergizi, bahan kosmetik dan menurut studi para peneliti di Kiel, alga dapat dimanfaatkan untuk terapi kanker.

Dengan menggunakan perahu para ahli biologi di Kiel secara teratur memanen alga coklat lokal (latin: saccharina latissima) di Laut Baltik. “Alga ini memiliki panjang beberapa meter dengan lebar setengah meter. Yang ideal adalah yang berwarna coklat keemasan dan tidak ditempeli alga asing atau hewan,“ dikatakan Verena Sandow, pakar biologi kelautan.

Tumbuhan ini hidup di kedalaman dua sampai tiga meter. Untuk mengembangbiakkan alga ini, para peneliti membuat lahan dari bentangan jaring yang rapat. “Pada musim dingin, alga ini hampir sama sekali tidak berkembang. Mulai bulan Maret alga tubuh dengan cepat. Paling lambat alga akan dipanen jika suhu air di atas 15 derajat Celcius.“ Dikatakan Verena Sandow.

Alga yang telah dipanen ditempakan dalam peti besar. Sesampainya di laboratorium alga dibekukan untuk nantinya dihancurkan dengan blender. “Dengan menambahkan pelarut, didapatkan komponen penting bagi kami,“ dikatakan biotechnolog Marion Zenthoefer. Alga terutama mengandung polifenol, karoten, polisakarida sulfat, omega-3 asam lemak dan anthocyanin. “Setelah dilarutkan alga dibawa ke laboratorium penelitian,“ ditambahkan Marion Zenthoefer.

Di sana, para ilmuwan meneliti efek dari ekstrak alga di bawah kondisi steril. Di atas piring khusus ditempatkan sel kanker pankreas buatan. Setelah satu hari, sel kanker ini ditaburi dengan larutan nutrisi yang mengandung ekstrak alga. Selanjutnya, setelah 72 jam diteliti apakah pertumbuhan sel terhenti.

Mit Algen gegen Krebs

Dengan pelarut didapatkan ekstrak alga

Alga Lenyapkan Sel Kanker

Penyelidikan awal dilakukan di bawah mikroskop. “Jika sel kanker tumbuh secara normal, permukaan kulit sel ini melebar. Jika lapisan sel ini berlubang, ini menandakan adanya pengaruh ekstrak alga.“ Yang menggembirakan Marion Zenthoefer dan timnya adalah hal ini sering terjadi dalam penelitian mereka. Pemeriksaan lebih cermat dilakukan dengan menggunakan spelktrometer UV. “Setelah ditaburi ekstrak alga, sel yang masih hidup berubah warna menjadi oranye,“ diterangkan Zenthoefer. Langkah selanjutnya, absorpsi cahaya dari panjang gelombang tertentu atau kerapatan optik diukur. “Nilai sekitar 0,2 persen berarti sel kanker mati. Nilai 2,0 persen artinya sel masih hidup.“

Hasil sementara menunjukkan keberhasilan dari penelitian ini. Namun belum diketahui secara pasti, unsur persis apa yang menghentikan pertumbuhan sel kanker ini. Hal ini masih akan diteliti tim ilmuwan dari Kiel ini.

Alga Laut Baltik Berpotensi

Bagi biolog kelautan Levent Piker, penelitian yang tak kenal lelah ini memperoleh kemajuan. Dan yang lebih istimewa adalah, bahwa penelitian dilakukan dengan memanfaatkan alga coklat dari Laut Baltik. “Selama ini kita selalu berfokus pada tempat yang eksotis – di sumber air panas atau pada perairan laut yang dalam. Ternyata tumbuhan di Laut Baltik juga berpotensi!“

Proyek Alga untuk Melawan Kanker didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Penelitian (BMBF). Selain mitra swasta, dalam proyek ini juga turut berpartisipasi dia kelompok peneliti dari Universitas Kiel.