1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Demonstrasi Terbesar Pasca Uni Soviet

Puluhan ribu pengunjuk rasa memprotes kekuasaan Perdana Menteri Vladimir Putin dan hasil pemilu yang kontroversial. Polisi mengatakan 28 ribu orang turun ke jalan di Moskow, sedangkan oposisi menyebut 120 ribu orang.

Potret PM Vladimir Putin dicoret

Potret PM Vladimir Putin dicoret

"Jika tahun depan anda ketemu saya lagi, Rusia sudah akan bebas," begitu janji Father Frost, sosok Sinterklas Rusia yang langsung disambut sorakan puluhan ribu pengunjuk rasa di Moskow. 'Rusia tanpa Putin,' dan 'Putin mundur' menjadi dua kalimat yang berkali-kali diteriakkan para demonstran. Dua pekan setelah unjuk rasa terbesar pasca runtuhnya Uni Soviet, kini lebih banyak warga yang ikut turun ke jalan sebagai wujud ketidakpuasan atas minimnya respon Kremlin. Proposal reformasi yang ditawarkan Presiden Dmitry Medvedev dinilai kurang. Mereka juga kembali menuntut pemilu ulang.

Ketidaksabaran diungkapkan seorang pengunjuk rasa, "Kami sudah muak. Mereka pikir kami bodoh? Kami tidak bodoh! Kami paham bahwa kami telah dibohongi selama bertahun-tahun. Kami ingin pemerintahan yang normal, terhormat dan adil. Bukan yang seperti sekarang, terus-terusan menipu kami."

Demonstran di jalanan Moskow hari Sabtu (24/12)

Demonstran di jalanan Moskow hari Sabtu (24/12)

Respon Kremlin

Para pengunjuk rasa juga menuntut mundurnya ketua Komisi Pemilu, Vladimir Tschurow. Mantan Menteri Keuangan Alexei Kudrin berada diantara demonstran, "Tschurow harus mundur. Jabatan itu harus diduduki seseorang yang dipercayai rakyat. Saya sarankan bentuk kelompok untuk memformulasikan reformasi politik. Jangan hanya bicara, namun bertindak. Pemilu presiden 4 Maret mendatang harus digelar di bawah kondisi baru. Semua keputusan harus diambil segera." Kehadiran Kudrin menjadi sebuah sensasi. Ia dipecat tiga bulan lalu setelah tegang dengan Medvedev. Namun Kudrin masih dekat dengan Perdana Menteri Vladimir Putin. Para demonstran pun berharap Kudrin dapat berperan sebagai seorang mediator.

Hingga kini unjuk rasa masih berlangsung damai. Terlihat dari pita putih yang dipilih sebagai simbol protes. Namun Sergei Yakovlev, sebagai pencetus gerakan pita putih, menegaskan bahwa demonstrasi yang digelar bukan sekedar aksi bulan-bulanan, "Tujuan demonstrasi adalah mengulang apa yang terjadi di Lingkaran Bolotnaja, dan banyak orang skeptis. Hari ini kami menunjukkan bahwa lebih banyak yang datang, dan jumlahnya akan terus bertambah. Perubahan itu nyata dan mungkin." Dan para pengunjuk rasa telah berjanji akan terus kembali ke jalan hingga Kremlin merespon segala tuntutan mereka.

Heide Rasche/Carissa Paramita

Editor: Ayu Purwaningsih

Laporan Pilihan