1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Demonstran Kembali Ditangkapi

Di Belarusia, kembali puluhan orang ditangkap ketika aksi protes damai menentang pemerintahan. Aksi protes tetap bergulir, meski sejak pekan-pekan lalu aksi tersebut dilarang oleh pemerintah.

default

Penangkapan di Minks

Ketegangan dapat dirasakan, ketika pada Rabu malam (20/07) sekitar 200 orang berhimpun di Lapangan Oktober di ibukota Belarusia, Minks. Mereka mengorganisir diri lewat jaringan sosial internet, untuk berdemonstrasi menentang Presiden Lukaschenko lewat aksi tepuk tangan sinis. Sejak awal Juni, aksi protes semacam itu memicu penangkapan sekitar 1800 orang. Kebanyakan demonstran itu diadili dalam waktu cepat dan dijatuhi hukuman beberapa hari penjara.

Screenshot Proteste in Minsk Belarus Weißrussland

Mengorganisir diri lewat jarinagn sosial internet

Sementara itu kehadiran milisi kali ini amat mencolok. Di setiap sudut lapangan terdapat pasukan khusus dinas intelejen. Dengan mimik wajah muram mereka membentuk kelompok-kelompok kecil. Di kebun-kebun belakang lapangan, bus-bus diparkir, siap mengangkut demonstran yang diciduk. Tak mengherankan bila hanya sedikit demonstran di lokasi aksi tersebut, yang bersedia diwawancarai media secara terbuka. Seorang diantaranya menuturkan: „Kami menuntut pergantian kekuasaan, hal itu jelas. Kami menginginkan pemilu bebas. Setiap aksi tentunya rasional: ingin mencapai hal yang baik dan berdasarkan nilai-nilai demokratis. Kami tidak menghancurkan jendela-jendela kaca, tidak membakari kendaraan dan tak memukuli orang-orang. Kenapa aksi kami dilarang?“

Sesaat setelah demonstran itu menyampaikan pendapat, seorang komandan pasukan yang mengamati adegan percakapan mengintervensi. Lantas mengambil megafon dan berbicara keras. Percakapan dengan demontran tadi tentu tak dapat dilanjutkan. Ia mengatakan lewat megafon : „Warga yang kami hormati. Saya meminta agar wawancara dihentikan. Lapangan ini bukan untuk tempat untuk wawancara. Silakan pergi ke bagian pers, kalau membutuhkan komentar tertentu.”

Sebelum acara berlangsung, militer berpakaian sipil mendesak demonstranagar keluar dari lapangan. Seorang perempuan tua ketika ditanyakan apakah ia merasa diintimidasi, menjawab: „Tidak semuanya ketakuan. Untuk apa kita juga takut? Sewaktu perang dunia kedua saja kita tidak dibunuh oleh Jerman, jadi kenapa juga harus takut terhadap pemerintah sendiri'? Kami tak takut kepadanya. Kami toh tak melakukan apapun. Kami hanya ingin menjadi warga yang bebas dan tinggal di negara yang bebas. Namun pasukan keamanan menghajar kami, tapi kenapa? Kami tidak melakukan hal –hal buruk.”

Kali ini pemimpin milisi memotong interview tersebut. Kepada reporter yang melakukan wawancara ia mengatakan: „Apakah Anda lihat semua? Saya telah memperingati Anda! Tidak boleh ada yang berhimpun di sini,. Ini merupakan aksi ilegal. Saya peringatkan Anda sekali lagi. Biro pers terletak ke arah kananseratus meter dari sini.“

Lalu terdengarlah tepuk tangan pertama. Beberapa peserta aksi protes damai tersebut mundur ke pinggir jalan dan dari sana mulai bertepuk tangan. Sontak, pasukan keamanan menyergap mereka. Para demonstran ditangkapi dan dibawa pergi. Ada juga yang ditendangi dan dipukuli. Sebagai aksi solidaritas, para pengendara mobil membunyikan klakson.

Banyak pengamat yang melihat, bahwa jumlah mereka yang berani menggelar protes di jalan semakin surut. Namun rasa benci pada pemerintah semakin berkembang.

Stephan Laak / Ayu Purwaningsih

Editor : Setiawan