1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Data Radiasi Pemerintah Jepang Dipertanyakan

Dua tahun setelah bencana Fukushima, kelompok masyarakat mempertanyakan akurasi data pemerintah tentang kontaminasi di sekitar instalasi reaktor nuklir Fukushima Daiichi.

A radiation monitor indicates 102.00 microsieverts per hour at Tokyo Electric Power Co. (TEPCO)'s tsunami-crippled Fukushima Daiichi nuclear power plant in Fukushima prefecture, February 20, 2012.

Gambar simbol radiasi

Kebanyakan penduduk Jepang di luar kawasan yang terkena dampak bencana nuklir sekarang sudah hidup normal, seakan-akan krisis itu telah berakhir. Tapi beberapa kelompok masyarakat tetap melakukan monitor sendiri dan menyebarkan data-data itu di internet.

”Kami percaya, sangat berbahaya bagi orang yang masih tinggal di kawasan yang terkontaminasi”; kata Hajime Matsukubo dari Citizens Nuclear Information Center (CNIC) di Tokyo. Dia menunjuk pada berbagai studi independen yang memperlihatkan bahwa warga yang hidup di sekitar Fukushima dan Koriyama masih terancam pancaran radioaktif tingkat tinggi.

Angka Radiasi Diragukan

”Dosis radiasi 1 milisievert per tahun, sebagaimana ditetapkan oleh Komisi Internasional Perlindungan Radiologi, adalah hasil dari penelitian panjang”, kata Matsukubo. ”Bahkan jika resikonya tidak terlalu tinggi, penduduk di sekitar Fukushima tidak harus menerima itu.”

Ia menambahkan, banyak orang masih takut terkena radiasi, sekalipun ilmuwan, dokter dan pemerintah sudah menyatakan bahwa hidup di luar zona tertutup di Fukushima sekarang tidak berbahaya lagi.

Pemerintah Jepang memang membagikan informasi hasil dari pengamatan di dalam dan di sekitar zona tertutup. Tapi CNIC mempertanyakan akurasi data-data pemeritah.

The Unit 4 reactor building of the crippled Fukushima Dai-ichi nuclear power station is seen through a bus window in Okuma, Japan, Saturday, Nov. 12, 2011.

Reaktor unit 4 yang rusak di Fukushima

”Ada kemungkinan bahwa kawasan di sekitar pos-pos pengawasan memang sudah dilakukan dekontaminsasi,” jelas Matsukubo dari CNIC. ”jadi kami sangat kuatir kalau angka-angka ini yang diterima sebagai tingkat radiasi resmi dan dijadikan standar untuk perkiraan radiasi secara umum.”

CNIC menyerukan kepada pemerintah lokal untuk mengumpulkan data radiasi dari berbagai sumber dan menyebarkannya dalam bentuk yang mudah dimengerti masyarakat melalui internet. Data-data terutama ini dibutuhkan untuk menentukan tingkat radiasi lahan pertanian.

Tapi para ahli memperingatkan, data-data yang diambil sekarang mungkin tidak berlaku lagi dalam lima tahun depan. Karena radiasi biasanya perlu waktu tahunan untuk turun ke dalam tanah dan mempengaruhi kentang dan tanaman lainnya.

Penyebaran Informasi Masih Kurang

”Setelah melakukan berbagai kesalahan di tahun pertama setelah bencana, program pengawasan makanan sekarang mulai berhasil mencegah makanan yang terkontaminasi sampai ke pasar swalayan. Jadi orang-orang yang sudah hidup normal bisa dilindungi dari bahaya radioaktif”, kata Antonio Portela dari Tokyo Radiaton Levels. Kelompok ini memberi informasi tentang tingkat radiasi setiap hari lewat Facebook.

Tapi informasi yang ada tentang bahaya radioaktof masih belum cukup. Menurut Portela, yang sekarang dibutuhkan adalah peringatan tegas. Pemerintah harus menyebutkan bahwa beberapa jenis makanan misalnya dari kawasan Kanto terkena radiasi tingkat tinggi. Orang hasus tahu, kata Portela, bahwa ”situasi ini tidak akan berubah dalam beberapa tahun atau dekade ke depan.”

Beberapa lembaga pemerintah pusat dan daerah sudah menyediakan informasi terpadu tentang pengawasan tingkat radiasi. Misalnya Otoritas Regulasi Nuklir NRA, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Teknologi dan Institut Kesehatan Publik di Tokyo. Para ahli mengakui, sebelum masyarakat kembali kerumahnya di daerah yang dievakuasi, mereka harus lebih dulu mengatasi ketakutan atas radiasi.