1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

'Cyber Warriors' NU Ingin Hadang Propaganda ISIS di Internet

Nahdlatul Ulama (NU) ingin menghadang propaganda ISIS di internet dengan mengerahkan Laskar Cyber. Mereka sudah gerah dan dengan konten-konten radikal yang mengatasnamakan Islam

Berbekal laptop dan smartphone, sekitar 500 anggota Nahdlatul Ulama (NU) - salah satu organisasi Muslim terbesar di dunia - sedang berdiskusi mencari cara melawan pesan-pesan para ekstrimis ISIS atas nama Islam.

"Kami tidak akan membiarkan Islam dibajak oleh orang-orang dungu yang menganut kebencian dalam hatinya," tulis Syafi' Ali lewat media sosial Twitter. Dia adalah salah satu pentolan Laskar Cyber NU yang punya ribuan pengikut di internet.

Mereka sedang mencoba melakukan serangan balik di internet terhadap propaganda besar-besaran ISIS yang ingin merekrut relawan di Asia Tenggara.

Propaganda internet ISIS diyakini punya peran kunci dalam merekrut sekitar 500 warga Indonesia untuk berangkat ke Timur Tengah dan bergabung ISIS. Propaganda itu terutama ditujukan kepada publik di kota-kota besar, di mana lebih mudah untuk mendapatkan fasilitas online.

Selain menulis di media sosial, anggota NU ini juga mendirikan berbagai situs web untuk mempromosikan pandangan moderat mereka, membuat aplikasi untuk platform Android dan mengelola saluran TV berbasis web.

Sejumlah anggota Laskar Cyber beroperasi dari sebuah kantor kecil di Jakarta, yang lain bekerja jarak jauh. Sebagian besar dari mereka berkomunikasi satu sama lain hanya melalui web.

Irak Zerstörung Museum in Mossul

Propaganda ISIS tentang perusakan benda-benda purba di Musium Mossul, Irak

Tapi tidak mudah meredam propaganda ISIS.

"NU memang sempat membuat propaganda radikal ini terdesak," kata Yahya Cholil Staquf, sekretaris jenderal NU. "Tapi setiap kali kami mengalahkan mereka, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengumpulkan kekuatan lagi."

Para kader NU ini ingin menampilkan lagi warna Islam yang dulu dikenal di Indonesia, untuk melawan penafsiran Islam yang ditawarkan para jihadis. Wacana terbaru yang berkembang adalah tentang "Islam Nusantara". Maksudnya, Islam yang menerima keragaman dan terutama menekankan non-kekerasan.

Saat ini, sebagian besar sekitar 225 juta Muslim di Indonesia mempraktikkan bentuk moderat Islam.NU ingin membujuk Muslim dari seluruh dunia untuk menggali inspirasi dari Indonesia, di mana agama minoritas dan banyak kelompok etnis sebagian besar hidup berdampingan dengan rukun. Mereka menolak penafsiran Islam garis keras, yang terutama datang dari kawasan Timur Tengah.

Nahdlatul Ulama Kongress Meeting 2015

Kongres NU 2015 mengangkat wacana 'Islam Nusantara'

Tapi tidak mudah menghadapi aksi-aksi IS yang dikoordinasi dengan dana besar. ISIS punya operasi propaganda online yang canggih, yang merambah di berbagai aplikasi media sosial dan disertai propaganda video yang sangat aktif. Di Amerika Serikat saja, mereka menyebarkan 200.000 pesan per hari lewat Tweeter. Mereka bahkan mengoperasikan kantor berita sendiri, Amaq, yang sering melaporkan aksi-aksi teror yang berhasil mereka lakukan.

Di Indonesia, ada dua cara utama penyebaran propaganda ISIS, pertama menyebar pesan-pesan jihadis lewat media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Twitter dan Line. Cara kedua propaganda melalu para relawan yang kembali dari Timur Tengah.

Sedangkan sebagian besar kegiatan Laskar Cyber NU didanai sendiri oleh para relawan.

"ISIS punya minyak, sementara satu-satunya minyak yang kita punya adalah minyak rambut," kata Syfi'Ali kepada kantor berita AFP. Proyek Laskar Cyber sempat ditunda lebih dari satu tahun karena kekurangan dana.

Robi Sugara dari Indonesian Muslim Crisis Center menyambut upaya anggota Laskar Cyber NU. "Ini adalah strategi yang baik untuk membuat pencarian di Google terisi dengan konten-konten Islam moderat," kata dia. "Medan pertempuran untuk ideologi Islam sudah pindah ke Internet. dengan memproduksi sebanyak mungkin situs moderat, mereka bisa memelihara pikiran yang terang."

hp/ap (afp)

Laporan Pilihan