1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Cuaca Ekstrim di Eropa Fenomena Lokal

Musim dingin ekstrim diwarnai badai Xynthia yang melanda sebagian Eropa bukan bukti kuat yang menyanggah teori pemanasan global. Dalam 100 tahun terakhir diamati suhu bumi terus meningkat.

default

Badai salju yang melanda Jerman di awal tahun 2010 telah membuat kekacauan di banyak wilayah

Fenomena cuaca ekstrim didefinisikan oleh para ilmuwan sebagai kejadian yang jarang terjadi, yang melewati ambang batas nilai tertentu, seperti temperatur atau kecepatan angin.

Menanggapi fenomena cuaca ekstrim yang semakin kerap melanda Eropa, pakar meteorologi Bernhard Mühr dari Institut Teknologi di Karlsruhe, Jerman, untuk bidang sistem peringatan dini fenomena cuaca menjelaskan, “Xynthia memang merupakan peristiwa ekstrim. Tapi jika kita mengamati selama beberapa tahun terakhir ini, badai Emma yang melanda dua tahun lalu jauh lebih kuat atau juga badai Kyrill pada tahun 2007. Namun kami harus mengatakan, badai dan taufan bagi warga yang bermukim di Eropa Tengah dan Jerman, merupakan peristiwa normal di saat musim dingin. Dalam jangka waktu yang tidak teratur, badai selalu melanda.“

Pakar cuaca Mühr menegaskan, sekarang ini datangnya fenomena cuaca regional seperti badai atau taufan semacam Xynthia, sudah dapat diramalkan dengan lebih baik. Akan tetapi kejadian lokal, seperti hujan lebat disertai badai yang melanda pulau Madeira di samudra Atlantik atau hujan lebat di Marokko yang menyebabkan runtuhnya menara sebuah mesjid, jauh lebih sulit diramalkan.

Walaupun begitu, dengan melihat cuaca regional berupa hujan lebat dan banjir di Afrika, juga harus diperhitungkan bahwa kejadian ekstrim itu akan mengimbas ke kawasan lainnya.

Profesor Mojib Latif, pakar fisika iklim dari Institut Leibniz di Universitas Kiel Jerman juga mendukung pernyataan pakar cuaca dari Karlsrühe itu. Latif juga menegaskan, jangan sampai membuat kekeliruan dengan menyimpulkan fenomenanya hanya dalam jangka waktu satu tahun saja. Karena kejadian ini dipengaruhi penyebab yang beragam. Artinya, semua kejadian harus diamati sebagai perkembangan jangka panjang.

Pakar iklim dari Universitas Kiel itu juga menunjuk perubahan iklim, sebagai salah satu penyebabnya. “Kita,, umat manusia harus selalu diingatkan, bahwa musim dingin ekstrim ini merupakan kejadian di kawasan yang amat terbatas. Bulan Januari 2010 secara global merupakan bulan Januari paling hangat kedua, sejak kita mencatat data cuaca sekitar 130 tahun lalu. Dan lebih jauh lagi, kita harus tetap memiliki wawasan pada fenomena cuaca global, dan tidak terkecoh oleh apa yang terjadi di sebuah lokasi.“

Walaupun sudah dilontarkan peringatan, banyak warga di Jerman atau Inggris menafsirkan musim dingin ekstrim yang melanda negaranya sebagai pertanda bahwa pemanasan global sebetulnya tidak terjadi. Kesimpulan tergesa-gesa dengan menyodorkan fenomena cuaca aktual sebagai bukti tandingan bagi teori perubahan iklim, menurut Latif adalah hal yang normal dalam psikologi manusia. Disebutkannya, jika kita menghadapi tantangan berat, selalu diupayakan mencari seluruh kemungkinan untuk mengelak dan tidak melakukan tindakan.

Tapi Prof.Mojib Latif menegaskan kembali, perubahan iklim berkembang tidak secara bertahap dan konstan setiap tahunnya. Pengamatan selama 100 tahun menunjukan, selalu terdapat fluktuasi dan anomali. Namun jika diamati dalam kurun waktu lebih panjang lagi, akan terlihat bahwa Bumi memang semakin panas.

Irene Quaile/Agus Setiawan

Editor: Dyan Kostermans