1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Claudia Walde - Dunia Graffiti MadC

Claudia Walde menyemprot dinding mulai dari Meksiko hingga Rusia. Pekerjaan menyemprot dinding membawa Claudia berkeliling dunia.

default

Graffiti Claudia Walde

Pemikirannya global, tapi Claudia Walde memilih tinggal di sebuah kota kecil bernama Halle, di negara bagian Sachsen-Anhalt. Claudia Walde adalah nama hangat di dunia Graffiti. Lukisan berupa semprotan yang lazim disebut Graffiti membawa nama dan kegiatannya menjadi sebuah institusi terkenal di dunia.

Di halaman maya, profil dan blognya yang berbahasa Inggris terbanyak dikunjungi oleh peminat graffiti dari Amerika, kemudian Inggris menyusul Jerman.

Graffiti Claudia Walde

Graffiti Claudia Walde

Dia menyemprot dinding mulai dari London sampai ke Budapest. Dari Meksiko hingga Rusia. Pekerjaan menyemprot dinding membawa Claudia Walde berkeliling dunia. Tapi sulit diduga, studionya yang bernama MadC yang juga merupakan nama samarannya, terletak di sebuah peternakan. Komentarnya mengenai tempat itu dikatakannya singkat, yakni karena ''Sangat tidak biasa". Alasan serupa digunakan untuk banyak hal oleh Claudia Walde.

Menjadi pelukis graffiti

Claudia Walde dibesarkan di negara bagian Sachsen dan Etopia. Ayahnya bekerja di Etopia sebagai insinyur perkebunan. Tahun 90-an,ketika kembali ke Jerman dia merasa dikucilkan. Saat itulah dia menemukan jalan menyalurkan emosinya dengan menyemprot dinding dan menuliskan nama samarannya MadC.

Kini MadC adalah nama yang paling terkenal di dunia Graffiti. Dia juga dikenal sebagai pelukis Graffiti terbaik.

Butuh Ketenangan

Di studionya, Claudia Walde bercerita, "Saya jarang mengajak seniman lain ke sini. Di tempat ini saya mendapatkan ketenangan yang kuinginkan karena ketenangan itu sangat penting."

Claudia Walde lebih senang menyendiri kalau bekerja. Seringnya dia mendengarkan sesuatu melalui alat pendengar atau headphone, tetapi yang didengarnya itu bukan musik seperti orang kebanyakan melainkan buku yang diceritakan.

Lebih jauh ia jelaskan, "Huruf-huruf yang dilukis sebagai Graffiti itu hal yang sangat pribadi. Dari bentuk huruf, cara penulisannya juga pemilihan warnanya, orang bisa mengenali sifat-sifat pelukis Graffitinya."

Claudia Walde sudah mengumpulkan huruf-huruf dari 150 pelukis Graffiti di lebih dari 30 negara dan menjilidnya menjadi sebuah buku berjudul Street Fonts. Sukses sebagai artis Graffiti membuat Claudia menghabiskan waktunya lebih banyak di panggung-panggung besar, di kota-kota besar. Terakhir dia menghabiskan dua bulan berkunjung di 8 negara. Biasanya dia hanya bisa punya waktu luang sampai dua hari di rumahnya.

Sebenarnya, Claudia Walde sudah berkeliling duniasejak berstatus mahasiswa disain. Saat pendidikannya selesai, dia mendapat tawaran sebagai Pengarah Seni di London. Pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Tetapi kemudian Claudia menjadi ragu, apalagi dia sering merasa hilang kepercayaan diri, bila tidak melukis Graffiti di dinding.

"Sepekan saya memikirkan apakah saya berani memutuskan dan bilang bahwa saya melepas kemungkinan bekerja sebagai pengarah seni dan ingin kembali ke Jerman, mencoba menjadi artis di Jerman. Padahal waktu itu saya juga belum tahu akankah saya berhasil dan belum tahu masa depan saya. Tapi saya bilang, saya akan melakukannya. Keputusan yang paling tidak membuatku mencoba."

Kembali ke Jerman dan hidup sebagai artis Graffiti bukan hal mudah tetapi Claudia Walde tidak ingin dibiayai negara. Untuk itu dia berkompromi dengan keinginannya. Dia tidak hanya melukis Graffiti di dinding melainkan juga ke kanvas dan menjualnya ke beberapa galeri. Walau begitu, dia menyebut dirinya sebagai pelukis Graffiti dan tidak akan pernah meninggalkannya karena dalam dirinya seolah ada api yang harus disalurkannya dengan melukis Graffiti di dinding dan menuliskan nama samarannya, MadC.

Andreas Main / Rara Balasong
Editor: Edith Koesoemawiria