1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Cina Tepis Tudingan "Konspirasi" Cabai

16 Desember 2016

Kedutaan besar Cina di Indonesia memperingatkan media yang memberitakan Cina gunakan “senjata biologis" untuk serang Indonesia, setelah empat warga Cina ditangkap karena menanam benih cabai yang terkontaminasi bakteri.

https://p.dw.com/p/2UP7e
Symbolbild - rote Pepperoni
Foto: picture-alliance/McPHOTOs

Pemberitaan di beberapa media di Indonesia tentang penanaman benih cabai yang terkontaminasi bakteri telah memicu gelombang sentimen anti-Cina di media sosial. Pihak berwenang Indonesia mengatakan biji cabai impor yang disita di sebuah pertanian, mengandung bakteri erwinia chrysanthemi yang tidak berbahaya bagi manusia,  tetapi dapat menyebabkan gagal panen. Dilansir dari kantor berita Antara, bakteri tersebut baru pertama kalinya terdeteksi di Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Berbagai teori konspirasi tentang niat dari empat warga negara Cina yang ditangkap tersebut menyebar dengan cepat. Tak jarang postingan di media sosial menyulut reaksi. 

@BoengParno dalam akun twitternya menulis:

Pihak berwenang membakar benih cabai dan menghancurkan tanaman yang ditabur oleh empat warga Cina dan 30 pekerja warga Indonesia pada sebidang tanah sewaan di dekat kota Bogor.

Cina: tudingan itu tidak sesuai fakta

Dalam sebuah pernyataannya, Kedutaan Besar Cina di Indonesia mengatakan tuduhan atas rencana untuk menggunakan "senjata biologis untuk menghancurkan perekonomian Indonesia" merupakan tudingan yang dilakukan tanpa fakta, sulit dipahami dan sangat mengkhawatirkan.

"Kami berharap bahwa hubungan bilateral dan persahabatan antara orang-orang Cina dan Indonesia tidak akan terpengaruh oleh masalah ini", demikian pernyataan kedubes Cina.

Luhut ingatkan pengguna medsos

Menteri koordinator bidang kemaritiman Luhut Panjaitan telah mengkritik banyaknya provokator di media sosial beredar. "Apakah itu benar atau tidak, beberapa orang langsung bereaksi berlebihan," lalu berasumsi misalnya: "Oh, Cina menyerbu Indonesia". Luhut mengajak orang lebih hati-hati dalam berinteraksi di media sosial: "Ini masalahnya dengan media sosial... Tanpa memeriksa kebenarannya, banyak di antara mereka hanya menyebar rumor."

Dalam sejarahnya, berulangkali Indonesia telah mengalami serangan sentimen anti-Cina dan anti-komunis. Selama kampanye pemilu 2014, identitas Presiden Joko Widodo bahkan dipalsukan sebagai keturunan etnis Cina yang menjadi agen pemerintahan di Beijing. Demikian dikutip dari kantor berita Reuters.

Baru-baru ini pula di media sosial ramai ‘cuitan' soal ambisi Cina di Laut Cina Selatan, selama kampanye pemilihan Gubernur  DKI Jakarta, dimana salah satu kandidatnya Basuki T. Purnama (Ahok), merupakan keturunan Cina yang menganut agama Kristen. Ratusan ribu orang ambil bagian dalam unjuk rasa bulan November dan Desember 2016, menuntut agar Ahok ditangkap atas tuduhan penistaan agama.

ap/vlz(rtr/antara)