1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Cina Kecam Bisnis Senjata AS-Taiwan

Pengiriman senjata senilai 6,4 milyar dollar ke Taiwan merupakan bagian dari kesepakatan di era Bush. Reaksi Cina termasuk pembatalan pertukaran militer dan sanksi kepada perusahaan-perusahaan Amerika.

default

Anggota angkatan udara Taiwan persiapkan sebuah rudal di sebuah eksibisi media di Taichung.

Dengan rumusan kata-kata yang keras, Departemen Pertahanan Cina mengutuk keputusan Amerika Serikat untuk menjual berbagai persenjatan mutakhir kepada Taiwan. Cina juga mengambil tindakan balasan yang cepat, dengan membekukan seluruh kerjasama dan pertukaran militer dengan Amerika Serikat. Kemarahan Cina diungkapkan pula dengan memanggil duta besar AS ke Departemen Luar Negeri Cina di Beijing untuk menyatakan protes keras.

Wakil Menlu China He Yafei menegaskan kepada dubes AS di China, Jon Huntsman, bahwa penjualan senjata itu bisa merusak hubungan AS dengan Cina, dan bisa berdampak ke berbagai bidang kerjasama penting kedua negara. He Yafei tidak menyebut langsung, namun ia menyiratkan bagaimana Amerika begitu membutuhkan dukungan Cina dalam mengatasi krisis keuangan, perubahan iklim, serta dalam urusan sengketa Iran dan Korea Utara.

Penjualan senjata terbaru AS kepada Taiwan yang dikutuk Cina itu diumumkan hari Jumat lalu. Menurut asisten menteri luar negeri AS Philip J. Crowley, penjualan itu merupakan bagian dari program internasional penjualan peralatan militer Amerika, di bawah Badan Kerjasama Pertahanan Keamanan AS DSCA. Philip Crowley:

"Departemen Pertahanan sudah mengabarkan kepada Kongres hari Jumat, mengenai niat pemerintah untuk menjual berbagai peralatan sistem pertahanan kepada Taiwan.Peralatan itu meliputi antara lain helikopter tempur serba guna Black-Hawk, rudal penangkis Patriot, dukungan teknis bagi komando Taiwan dalam hal sistem komputer komunikasi, sistem penjejakan dan pemantauan inteljen Taiwan, dua kapal penyapu ranjau, dan rudal telemetri Harpoon."

Paket penjualan senjata senilai 6,4 milyar dolar atau sekitar 60 trilyun rupiah itu tidak mencakup pesawat-pesawat termpur. Philip Crowley berdalih, tidak disertakannya pesawat tempur F16s dalam paket itu bukan karena kecemasan akan reaksi Cina. Melainkan didasarkan pada kajian mereka mengenai kebutuhan Taiwan. Ditegaskan juga, bahwa keputusan itu diambil tanpa melalui konsultasi dengan Cina terlebih dahulu. Namun, sesudah keputusan diambil, mereka segera memberitahukannya kepada Cina dan Taiwan. Asisten Menteri Luarnegeri AS Philip Rowley:

"Ini merupakan petunjuk yang jelas mengenai tekad pemerintah Amerika Serikat, untuk menyediakan senjata bagi pertahanan Taiwan, sebagaimana tertera dalam Akta Hubungan dengan Taiwan. Namun bagi kami, tindakan ini tetap konsisten dengan kebijakan "Satu Cina" yang dianut AS, berdasarkan tiga komunike bersama dalam Akta Hubungan dengan Taiwan. Kami yakni pula, langkah ini akan turut membantu terjaganya keamanan dan stabilitas sekitar Selat Taiwan."

Cina menganggap Taiwan sebagai wilayahnya yang memberontak, yang suatu hari akan kembali bersatu dengan Cina daratan, kalau perlu dengan kekuatan senjata. Amerika Serikat yang awalnya membangun hubungan diplomatik dengan Taiwan, mengalihkan orientasi diplomatiknya ke Cina pada tahun 1979. Namun AS tetap membangun hubungan khusus dengan Taiwan, dan menjadi pemasok utama sistem persenjataannya.

GG/AG/RTR/DPA