1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Chatib Basri: Kita Seperti Pasien yang Baru Sembuh

Dunia melihat Indonesia bangkit menjadi kekuatan ekonomi baru. Tapi di Indonesia, banyak orang merasa semakin terpuruk.

Indonesia terbelah. Kubu pesimis melihat Indonesia mengalami kemunduran: makin banyak orang miskin, korupsi merajalela dan persoalan sosial menumpuk. Biasanya kubu ini diwakili para politisi, aktivis termasuk wartawan.

Sementara kubu optimis punya cara pandang berbeda: mereka melihat ada banyak hal baik yang terjadi sepuluh tahun terakhir. Kubu ini banyak diisi para ekonom yang mencatat pertumbuhan dari waktu ke waktu.

M. Chatib Basri adalah salah satu diantara mereka yang ada di barisan kelompok optimis. Setelah menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM, Mei 2013 ia ditunjuk menjadi Menteri Keuangan. Dede, begitu dia akrab disapa, hadir dalam pertemuan puncak ekonomi dunia di Davos Swiss, Januari 2013 lalu. “Indonesia kini kembali menjadi perhatian dunia,” kata Chatib Basri kepada Deutsche Welle sesaat setelah ia pulang dari forum itu.

Indonesien Muhamad Chatib Basri Archivbild 17.04.2010

M. Chatib Basri, Kepala BKPM: seharusnya ekonomi Indonesia tumbuh di atas 8%.

DW: Bagaimana dunia melihat Indonesia di Davos?

Chatib Basri: Apa yang kita lihat di Davos adalah kembalinya Indonesia dalam radar perekonomian global. Acara malam kebudayaan di Davos sering dipakai melihat apakah investor berminat pada suatu negara atau tidak. Jadi kalau investor tertarik pada sesuatu, dia akan datang ke acara negara yang bersangkutan dan membangun jaringan. Pengunjung malam kebudayaan Indonesia luar biasa: kami menyediakan makan untuk 600 orang dan itu habis. Kepada saya panitia penyelenggara menyebut malam Indonesia di Davos termasuk salah satu yang paling menarik. Harian terkenal Singapura The Strait Times menulis bahwa pusat perhatian kini ke Indonesia (The Strait Times memberi judul “Indonesia: the hottest draw for investors” dengan kalimat pembuka: India dengan perekonomian yang melambat, menyerahkah pusat perhatian ke Indonesia-red).

DW: Apa fakta-fakta tentang ekonomi Indonesia, yang dilihat dunia?

Chatib Basri: Tahun 2012, Indonesia adalah negara yang pertumbuhan ekonominya tertinggi kedua (setelah Cina-red) diantara seluruh anggota G20. Meski di bawah Cina, tapi angka pertumbuhan kita lebih bertahan bahkan cenderung naik. Kedua, kini ada 60 juta kelas menengah yang mengeluarkan uang 3,5 sampai 4 dollar per hari. Bahkan prediksi McKenzie tahun 2025 di Indonesia akan ada 135 juta kelas konsumen yang pengeluarannya per hari diatas 10 dollar. Anda bisa bayangkan, 135 juta itu jumlahnya lebih besar dari Malaysia ditambah Singapura dan Australia. Size ekonomi Indonesia itu 48 persen dari total ekonomi ASEAN dan populasinya 42 persen dari populasi ASEAN. Jadi kalau saya mau investasi masuk Indonesia, maka saya akan bisa masuk ke setengah pasar ASEAN. Itulah yang misalnya membuat Toyota pada November lalu mengumumkan rencana ekspansi 2,7 milyar dollar ke Indonesia. Pabrik terbesar L'Oreal di dunia, kini ada di Indonesia. Jadi ini adalah bukti bahwa orang melihat Indonesia sebagai pasar yang besar dan ekonominya tumbuh kuat. Saya nggak mengatakan semuanya perfect.

DW: Apa yang menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Chatib Basri: Sumber pertumbuhan itu hampir sama besar antara konsumsi rumah tangga dengan investasi. Jadi sederhananya, yang mendorong investasi adalah permintaan domestik yang sangat besar. Ini membuat investor masuk. Kalau sudah masuk, mereka akan akan mendorong agar konsumsi rumah tangga Indonesia lebih besar. Menurut saya, Indonesia itu isunya bukan tumbuh 6 persen, karena seharusnya kita bisa tumbuh di atas 8 persen. Hambatan infrastruktur yang membuat kita tumbuh hanya 6 persen. Tapi untungnya, di dunia saat ini, angka itu dianggap miracle.

DW: Banyak orang yang mengkritik bahwa sumber pertumbuhan yang didorong konsumsi domestik adalah sesuatu yang negatif karena artinya orang Indonesia boros dan tidak bisa menabung. Bagaimana anda melihat ini?

Chatib Basri: Bisa saja itu dilihat sebagai sesuatu yang boros, tapi kalau dia mengkonsumsi artinya dia punya pendapatan, dan kalau ada konsumsi artinya harus ada produksi. Nah sekarang faktanya adalah investasi masuk, artinya proses produksi terjadi. Kalau proses produksi terjadi, maka orang juga akan bisa bekerja (ada lapangan kerja-red). Kalau dia bekerja, maka ada pendapatan, dan artinya dia bisa membeli barang.

DW: Kenapa banyak sekali orang Indonesia pesimis. Bagaimana menjelaskan fenomena orang luar atau para ekonom seperti anda optimis sementara ada banyak politisi atau aktivis misalnya, yang melihat Indonesia mengalami kemunduran?

Chatib Basri: Mungkin penjelasannya karena kita lekat dengan persoalan sehari-hari. Saya sempat cerita soal ini kepada Jagdish Bhagwati (ekonom terkenal dunia dan ahli perdagangan internasional-red) yang mengatakan kepada saya: kalau orang baru sembuh dari sakit, dia tidak akan pernah percaya kalau sudah sehat. Saat kita keluar rumah sakit dan dokter bilang anda boleh lari, biasanya kita bertanya apa betul boleh lari? Apa betul saya boleh ke kamar mandi sendiri? Makanya saya suka geli kalau ada orang bilang bahwa Indonesia adalah negara gagal. Saya berpikir, apakah kita nggak pernah melakukan studi komparasi dengan negara lain? Kalau Indonesia gagal, bagaimana kita menjelaskan Bangladesh? Saya ambil contoh yang mungkin akan membuat banyak orang nggak happy: kita mengeluh terus soal Jakarta, tapi kalau anda pernah ke Dhaka, maka anda akan tahu bahwa Jakarta adalah surga.

M. Chatib Basri adalah ekonom, pernah menjadi Direktur LPEM UI, Ketua BKPM, kini Menteri Keuangan RI

Laporan Pilihan