1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ceuta: Nasib Tragis Pengungsi

Lebih 20.000 orang terutama dari kawasan Sub-Sahara, Afrika, tahun lalu berusaha mencapai kota Spanyol, Ceuta dan Melilla, lewat Maroko. Pengungsi yang sampai kota itu mendapat bantuan Palang Merah.

Di Melilla, cara paling umum untuk menyeberang perbatasan adalah dengan memanjat pagar setinggi enam meter, yang dilengkapi dengan kawat berduri. Di Ceuta metode yang digunakan imigran lain. Mereka berusaha menghindar dari perhatian pihak berwenang.

"Cara umum yang mereka gunakan adalah dengan naik mobil, dalam ruang tersembunyi di kendaraan, di balik tempat duduk atau di bagasi," kata Gonzalo Testa, seorang wartawan yang tinggal di Ceuta. Ia mengikuti isu imigran dari jarak dekat. "Dulu, cara paling umum adalah lewat laut. Yaitu dengan berenang atau dengan perahu kecil, juga dengan perahu mainan seperti yang digunakan anak-anak."

Karte Melilla und Ceuta

Peta Melilla dan Ceuta

Februari 2014, sekelompok imigran berusaha mencapai Ceuta dan gagal. Sekitar 200 orang yang berasal dari kawasan Sub-Sahara menunggu di laut di daerah Al Tarajal yang masih masuk wilayah Maroko. Mereka berharap bisa berenang mengelilingi pagar perbatasan yang dibangun sampai ke laut. Namun di balik pagar sudah menunggu penjaga keamanan Spanyol dengan perlengkapan anti kerusuhan, termasuk peluru karet dan gas air mata. Ketika berada di laut, imigran panik sehingga sedikitnya 15 orang tenggelam.

Sejak saat itu, penyebab panik dan kematian imigran jadi sasaran penelitian intensif. Dalam beberapa pekan belakangan, 16 petugas keamanan diperiksa pengadilan karena diduga terlibat dalam apa yang disebut "tragedi al Trajal".

Pemerintah mengatakan, imigran menyebabkan kematiannya sendiri, karena berdesak-desakan di laut. Namun bukti forensik dan pernyataan bertentangan dari kepala penjaga keamanan Arsenio Fernandez de la Mesa, dan departemen dalam negeri tentang penggunaan peluru karet dan gas air mata terhadap imigran menambah maraknya kritik terhadap pemerintah. Imigran yang selamat dari tragedi bahkan menuduh penjaga keamanan menembaki mereka ketika berada di air.

"Kesalahan mengerikan"

Spanische Exklave Ceuta

Ceuta, kota Spanyol di Afrika

"Tapi mereka tidak menembaki imigran, mereka mengarahkan tembakan ke air," kata Juan Antonio Delgado, dari perwakilan Badan Penjaga Keamanan. "Tapi itupun seharusnya tidak terjadi. Seseorang memberikan perintah dan penjaga keamanan mematuhinya."

Delgado menggambarkan tragedi Al Tarajal sebagai "kesalahan mengerikan," yang sesuai dengan tekanan besar yang dilancarkan politisi di Madrid yang ingin membatasi jumlah imigran. Walaupun demikian, menurut Delgado, tidak mungkin menghentikan sepenuhnya upaya imigran yang ingin masuk Eropa, mengingat itulah alternatif mereka satu-satunya. "Banyak dari mereka telah mengadakan perjalanan ribuan kilometer untuk sampai ke sana. Sebagian perempuan mengalami pemerkosaan dalam perjalanan mereka. Ini situasi yang sangat dramatis. Jadi ketika seorang migran sampai di sana, mereka bertekad menyeberang ke Eropa."

Germinal Castillo dari pusat Palang Merah di Ceuta mengatakan, "Saya pikir, jalan keluar untuk mengatasi ini semua adalah lewat kerja sama internasional. Salah satunya, harus ada upaya yang dilaksanakan di negara asal imigran. Tapi krisis ekonomi Eropa berdampak sangat merugikan bagi kerjasama internasional."

Laporan Pilihan