1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

BRICS dan SCO: KTT Tandingan Tanpa Kontur Jelas

Barat mengamati dengan cermat manuver lima negara industri baru-BRICS dan organisasi Shanghai SCO. Apakah bisa mengimbangi G-7 dan apa yang mempersatukan aliansi negara-negara tersebut? Perspektif Christian Trippe.

Brasil, India, Cina, Rusia dan Afrika Selatan yang bergabung dalam BRICS kerap memposisikan statusnya sebagai kelompok negara pengimbang G-7. Namun sejatinya hanya Cina yang punya kekuatan dan Rusia yang punya keinginan untuk menjadi pesaing barat. Tiga negara lainnya Brasil, India dan Afrika Selatan adalah negara demokrasi, yang tidak punya kepentingan menggelar konfrontasi dengan barat. Sebaliknya Cina dan Rusia adalah negara yang diperintah secara otoriter, sehingga hubungan dengan barat adalah instrumen politik mereka.

Kommentarbild App

Christian Trippe koresponden DW

Walau begitu, kelihatannya kelima negara ini merasa nyaman berada dalam klub. Mereka mendirikan bank pembangunan bersama dan menjalin kerjasama bilateral. Forum BRICS juga melontarkan kritik terhadap neoliberalisme globalisasi.

Tapi, KTT BRICS di Ufa Rusia sepertinya hanya sekedar gema yang lemah dari KTT G-7 yang digelar awal Juni silam di Elmau Jerman. Kelompok negara industri baru itu tidak memiliki kesamaan tata nilai, dan dengan itu juga tidak memiliki klaim universal yang dapat dipercaya. Dalam KTT di Ufa, sama sekali tidak ada agenda perlindungan iklim atau membela hak asasi manusia.

Yang mempersatukan BRICS hanyalah pertukaran pengalaman politik dan sosial. Diantaranya mengenai dikte dari Washington atau dari negara barat bekas penjajah. Karena itulah, dalam pertemuan puncak itu jelas terlihat momentum anti barat, hanya diklaim sendirian oleh tuan rumah, presiden Vladimir Putin. Rusia berusahe mempolitisasi KTT ganda itu, tapi terbukti gagal. BRICS tetap sebuah aliansi tanpa ikatan erat.

Sebaliknya pertemuan puncak organisasi kerjasama Shanghai menghadapi ujian serius, yang hanya bisa diatasi dengan sebuah struktur organisasi yang kokoh. SCO awalnya dibentuk dengan tujuan memperbaiki kerjasama politik dan keamanan di Asia Tengah.

Sekarang, langkah ini terbukti sangat diperlukan, mengingat NATO dan Amerika Serikat terus menarik pasukannya dari Afghanistan. Sementara situasi di negara itu bertambah gawat: Taliban tidak bisa dikalahkan dan "jihadis" Islamic State mulai masuk ke Afghanistan. Namun juga ada berita baik, bahwa India dan Pakistan kini bersama bergabung dalam SCO.

Tapi juga ada yang luput dari perhatian, terkait dihidupkannya kembali retorika blok. Di satu sisi, militer dan tokoh politik di Amerika Serikat memandang Rusia dengan politik luar negerinya yang agresif, sebagai ancaman terbesar bagi keamanan global. Di sisi lainnya, negara-negara BRICS dan organisasi Shanghai justru melihat Islamic State adalah ancaman terbesar bagi keamanan dunia.

Laporan Pilihan