1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bisnis Iran dengan Negara Teluk Tambah Sulit

Masa emas Dubai sebagai pintu bagi Iran ke dunia kini bisa dihitung dengan jari. Sanksi PBB juga menyebabkan turunnya perdagangan antara Uni Emirat Arab dengan Iran.

default

Gambar simbol sanksi yang diberlakukan terhadap Iran - Presiden Iran Ahmadinedjad berdiri sendiri di tengah salah satu ruangan di kantornya

Bank Sentral Uni Emirat Arab kni terpaksa lebih teliti. Mendatang bank-bank di negara itu setiap satu bulan sekali wajib melaporkan, siapa yang telah mengirim uang ke Iran, berapa banyak jumlahnya dan siapa saja yang menerima uang dari Iran. Sebelumnya hal serupa hanya harus dilakukan setiap kwartal. Perubahan ini terkait dengan semakin ketatnya sanksi terhadap Iran.

Robin Amlot, dari majalah perbankan "Banker Middle East" yang bermarkas di Dubai, menyebut langkah bank sentral itu benar dan baik. Menurut dia, perlu dibangun rasa kepercayaan baru, apalagi baru-baru ini dunia diguncang krisis finansial global akibat pecahnya gelembung jual-beli properti di Amerika Serikat. RObin Amlot menerangkan, "Keuangan di sini dikelola secara lebih bertanggung jawab daripada dulu. Karena bagi pemerintah sangat jelas, seandainya ingin dianggap sebagai pusat kegiatan keuangan yang serius, dan bila ingin agar orang-orang datang untuk berbisnis, maka khususnya di Dubai harus ada bingkai aturan berkelas dunia."

Bingkai aturan itu tentunya merangkum sanksi-sanksi yang dijatuhkan PBB, juga terhadap Iran. Masyarakat internasional menduga Iran memproduksi senjata nuklir dibalik pembangunan PLTN. Belakangan upaya internasional untuk memastikan kegiatan Iran, kembali dihambat. Dua orang inspektur senior IAEA yang melaporkan adanya riset dan eksperimen rahasia Iran, kini dilarang datang. Menurut mereka, Iran mulai memperkaya tingkat uranium hingga 20% dan memiliki sedikitnya 22 kilogram uranium dalam kwalitas ini. Tindakan ini bagai tantangan bagi masyarakat internasional yang kian cemas, dan desakan untuk memberlakukan sanksi-sanksi terhadap Iran menguat.

Bulan Agustus lalu, pemerintah di Abu Dhabi menyatakan akan memberlakukan semua sanksi itu, meski tidak menguntungkan. Dubai mengalami pukulan yang lebih berat lagi, akibat sanksi terhadap Iran. Dulu, bisnis antara Dubai dan Iran sangat aktif dan nilai perdagangan kedua negara mencapai milyaran Dolar. Selain itu, sekitar 400.000 warga Iran menetap di Emirat dan merupakan faktor ekonomi yang penting.

Robin Amlot menilai, "Iran tetap membutuhkan jalur perdagangan untuk produk, layanan dan dana yang dibutuhkannya. Yang menjadi pertanyaan, di manakah Iran akan mengembangkan lalu lintas perdagangan yang baru. Memang selalu ada sejumlah lembaga yang siap melanggar daftar sanksi itu.“

Menurut wakil presiden Dewan Bisnis Iran di Dubai, sanksi PBB menyebabkan perdagangan antara Uni Emirat Arab dengan Iran menurun lebih 50%. Tekanan semakin besar untuk menutup semua arus bisnis dengan Iran. Media turut berperan, memberitakan bank mana yang masih membuka jalur keuangan dengan Iran. Kini tampaknya masa emas Dubai sebagai pintu Iran ke dunia kemungkinan akan segera berakhir.

Carsten Kühntopp/Edith Koesoemawiria

Editor: Hendra Pasuhuk