1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Bisa Laba-Laba Obat Antibiotika Baru?

Bisa laba-laba mampu bunuh bakteri tanpa rusak sel tubuh. Ilmuwan berharap kembangkan obat antibiotika baru atau obat anti kanker. Berlomba lawan kekebalan bakteri ilmuwan kini teliti 400 binatang berbisa.

Tonton video 00:34

Bisa Laba-Laba Obat Antibiotika Baru?

Makin banyaknya bakteri kebal antibiotika membuat kalangan medis cemas. Mereka khawatir, suatu saat nanti penyakit infeksi umum, yang biasanya bisa diberantas dengan obat antibiotika, bisa jadi penyakit pembunuh massal.

Badan kesehatan dunia WHO sudah mencanangkan kiprah global untuk memerangi kasus kekebalan bakteri terhadap antibiotika konvensional. Juga para ilmuwan dan peneliti obat-obatan kini berusaha mencari alternatif antibiotika yang pada abad silam dijuluki obat dewa yang mampu menyebuhkan beragam penyakit.

Akibat julukan obat dewa itu, penggunaan antibiotika terutama di negara berkembang dilakukan secara tidak rasional. Akibatnya makin banyak bakteri kebal antibiotika konvensional yang ada di pasaran. Bahkan tahun ini lembaga kesehatan nasional Amerika Serikat mengumumkan munculnya sejenis bakteri yang kebal semua antibiotika yang ada di pasar.

Racun binatang

Meniru evolusi bakteri dalam mengembangkan kekebalan terhadap antibiotika, para imuwan di Irlandia kini meneliti sekitar 400 spesies binatang berbisa untuk melacak unsur aktif anti bakteri yang dikandung dalam racun.

Dr.Michel Dugon, peneliti zoologi dari NUI Galway mengungkapkan hasil risetnya :"Bisa laba-laba terbukti mampu membunuh bakteri secara efektif, tapi tidak merusak sel tubuh manusia. Bagi para peneliti, sifat racun laba-laba dalam melawan bakteri ini amat menarik, untuk pengembangan bakterisida baru atau bahkan obat kankeri".

Sejumlah riset binatang berbisa maupun hewan yang bisa kita temukan sehari-hari terus dilakukan di Irlandia. Para ilmuwan terus mencari unsur aktif yang berguna bagi dunia medis. Mereka melaporkan, telah menemukan sejumlah unsur akitif potensial, walau terapannya bagi dunia kedokteran masih perlu waktu tahunan.

as/ap(ebu,rtr,afp,dpa)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait