Bhumibol: Warisan Pelik Raja Separuh Dewa | dunia | DW | 26.10.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bhumibol: Warisan Pelik Raja Separuh Dewa

Akhir pekan ini Thailand bersiap melepas kepergian Raja Bhumibol Adulyadej. Kematiannya menempatkan seisi negeri dalam posisi pelik. Sang raja selama ini selalu menjadi sandaran di tengah kisruh politik di Bangkok.

Thailand berduka dalam hitam. Kematian Raja Bhumibol Adulyadej setahun silam masih menyisakan duka mendalam. Toh kini penduduk menyemuti Bangkok buat mengucap perpisahan terakhir ketika jenazah sang raja dikremasi dalam sebuah upacara sakral. 

Selama tahun-tahun penuh ketidakpastian politik yang diwarnai dengan aksi kudeta dan pergolakan sipil, Raja Bhumibol Adulyadej menjadi figur penyatu dan pengawal stabilitas Thailand. Kematiannya menyisakan duka mendalam dan kekhawatiran akan masa depan negeri jiran tersebut.

Kekuasaan monarki Thailand banyak dilucuti ketika Bhumibol naik tahta tahun 1946 saat masih berusia 18 tahun. Ia banyak menghabiskan masa kecilnya di Swiss. Pada awal kekuasaannya, Bhumibol lebih mengenal Eropa ketimbang tanah kelahirannya sendiri.

Namun kendati begitu ia berhasil membangun reputasi sebagai otoritas moral tertinggi di Thailand. Tidak jarang ucapannya dianggap lebih suci ketimbang konstitusi. Satu kalimat dari Bhumibol bisa membunuh karir seorang politisi yang sedang naik daun. Betapapun panasnya gejolak politik di Bangkok, rakyat selalu bisa bersandar pada kata-kata sang raja.

Tonton video 00:49
Live
00:49 menit

Seremonial Kremasi Raja Thailand Bhumibol Dimulai

Kendati berpengaruh, Bhumibol jarang melibatkan diri pada pertarungan politik di Bangkok. Terakhir kali, ia memaksa Panglima Militer Suchinda Kraprayoon berdamai dengan Perdana Menteri Chatichai Choonhavan ketika perserteruan kedua kubu telah menelan ratusan nyawa demonstran tahun 1992. 

Keduanya dipanggil ke hadapan raja dan dipermalukan di depan publik. "Thailand milik semua, bukan dua orang saja. Pertikaian ini disebabkan oleh rasa haus darah. Untuk apa anda menyebut diri sebagai pemenang jika anda berdiri di atas puing dan reruntuhan?" tukasnya kepada kedua tokoh di televisi nasional.

Sejak saat itu Bhumibol lebih banyak menggunakan pengaruhnya secara tidak langsung untuk mengawal kisruh politik di Bangkok.

Kini setelah kematiannya, Thailand terancam kehilangan figur monarki yang bisa menjadi sandaran di masa-masa ketidakpastian. Dan Bhumibol meninggalkan masyarakat yang terbelah dan masih bergantung pada pengaruh kerajaan untuk menuntun seisi negeri menuju jalan keluar dari konflik di masa depan.

rzn/as (afp,dw)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait