1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Berlin: Incaran Seniman dan Investor

Semakin banyak seniman muda internasional yang pindah ke Berlin. Di ibukota Jerman itu, kreasi dan eksperimen mereka semakin bergelora berkat interaksi dalam dunia kesenian. Paling tidak sampai sekarang.

default

Di atas meja, sebuah patung gips seorang pemuda. Kakinya bergelantung, seakan berayun. Dengan bibir sedikit terkuak, ia tampak memandang sesuatu. Mungkin kapal yang lewat di sungai Spree, sungai yang melintasi tengah kota Berlin. Patung gips itu berada di dalam rumah kaca, tergeletak di bawah beberapa pohon di pekarangan depan sanggar seni Milchhof, di tengah kegaduhan Prenzlauer Berg dan kehidupan dunia seni Berlin.

Ateliers in Berlin

Sebuah studio di Berlin

"Kita ini bagai terdampar di sebuah pulau. Sebelah kiri dan kanan sedang dibangun. Banyak bangunan baru yang serba megah. Tapi kami terus bertahan di sini, sekarang terlihat kontras yang amat besar", begitu ungkap Manfred Fuchs. Ia sudah bergabung dalam sanggar seni Milchhof e.V. sejak 1992.

Manfred Fuchs turut mengalami awal perkumpulan itu. Bagaimana gedung bekas peternakan sapi itu diduduki, kemudian dirawat dan akhirnya pembuatan kontrak sewa. Ia juga turun tangan waktu pindahan terakhir ke gedung kosong bekas sekolah, yang tak jauh dari situ.

Dibalik beberapa jendela tinggi dalam bekas sekolah itu terdapat studio pematung Anne Katrin Stork. Diceritakannya, "Di gedung ini ada 48 anggota yang berkarya, ada juga beberapa yang sekedar menyewa tempat. Di bawah studio saya ini, tempat latihan beberapa band. Ini praktis. Kalau saya butuh baha, materi untuk berkarya atau bantuan untuk mengangkat patung, misalnya, saya tinggal mengetok pintu tetangga.”

Hampir semua yang tinggal di situ adalah seniman, mereka bekerja hingga jauh malam, penuh konsentrasi dibalik pintu-pintu yang tertutup. Tapi saat beristirahat, misalnya untuk minum kopi, maka merekapun senang berkumpul, bertukar pendapat atau sekedar berbagi ide. Para tetangga Anne Katrin Stork ini kebanyakan pelukis, tukang gambar, fotografer, seniman video, dan pematung.

Ateliers in Berlin

Rumah kaca Sanggarseni "Milchhof"

Pelukis asal Italia, Maruscha datang ke Berlin beberapa tahun lalu, karena jatuh cinta. Tapi kemudian ia menetap karena bagi dia suasananya begitu kreatif dan inspiratif. Ia juga kerap memuji kehidupan Berlin yang relatif murah, bila dibandingkan dengan Madrid, Roma, London atau New York.

"Terjangkaunya harga sewa dan pangan di Berlin merupakan salah satu alasan penting bagi para seniman muda untuk tinggal di ibukota Jerman ini", begitu ungkap Maruscha. Tambahnya, "Tidak semua seniman disini asal Jerman. Ada yang datang dari Australia, Amerika Selatan, Rusia, Polandia. Bagi saya ini seperti hadiah, saya bisa mengenal dan berbicara dengan orang-orang yang memiliki latar belakang lain“

Menurut Anne Katrin Stork, biasanya para seniman muda yang baru datang, tergila-gila dengan gaya hidup di Berlin. Tak ada yang tahu secara persis berapa banyak seniman yang tinggal di sana. Tercatat ada ribuan studio seni, kebanyakan mengisi lahan bekas pabrik dan pertokoan di kawasan Kreuzberg, Friedrichshain dan Prenzlauer Berg. Pun kehidupan seni di Berlin berpusat di situ.

Tapi disamping para seniman, kalangan investor - baik lokal maupun internasional- juga mengincar properti di kawasan itu. Manfred Fuchs mengeluhkannya, "buat seniman semakin sulit untuk mendapatkan tempat di sini. Saingannya begitu banyak, harga sewa melejit, kini hampir tidak terjangkau lagi.“

Ateliers in Berlin

Gedung Pusat Kretivitas Eropa di Weissensee

Di sanggar seni Milchhof, harga sewa sebuah studio masih di bawah 200 Euro, termasuk listrik dan pemanasan. Para seniman telah menyewa tempat itu untuk jangka panjang. Bila sekarang, ada yang mencari studio di Berlin, pilihannya tidak banyak lagi.

Para seniman yang baru datang terpaksa mencari tempat di pinggiran kota, seperti di kawasan Pankow atau Weissensee. Di daerah bekas Jerman Timur itu harga sewa tempat masih lebih murah.

Silke Bartlick / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk