1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Beredar, Video Penyiksaan Terhadap Anggota OPM

Video amatir yang berisi detik-detik terakhir hidup Yawan Wayeni, aktivis Papua yang tewas pada Agustus tahun 2009 lalu, beredar di situs YouTube.

default

Papua

Video ini menghebohkan karena memperlihatkan perlakuan kejam polisi terhadap tersangka anggota Organisasi Papua Merdeka yang sedang sekarat.

Kasus penangkapan yang berujung tewasnya anggota TPM/OPM Yawan Wayeni di wilayah Kampung Yapan, Kepulauan Yapen, Papua, sebenarnya sudah setahun berlalu. Menurut polisi, Yawan sering melakukan kekerasan. Namun kasusnya kembali mencuat, setelah beredarnya rekaman detik-detik terakhir Yayan Wayeni yang memilukan, sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. Dalam video itu, ia tampak mengalami luka terbuka pada bagian perut, sementara anggota polisi terus mempertanyakan alasan perjuanganya tanpa terlihat memberikan perawatan medis.

Polisi Membantah

Juru bicara Polda Papua Wahyono membantah terjadinya penganiayaan itu. Ia menegaskan, kasus ini telah selesai tahun 2009 lalu, setelah penyelidikan dengan melibatkan Komnas HAM setempat. Polisi malah berencana memburu pihak yang mengedarkan rekaman itu untuk mengetahui motifnya:

Perbedaan Hasil Investigasi Komnas HAM Papua

Koordinator Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, membenarkan adanya penyelidikan bersama kasus itu dengan Polda Papua. Namun ia memberi keterangan berbeda soal hasil penyelidikan Komnas HAM. “Yang bersangkutan tidak melakukan perlawanan atas kesaksian istrinya dan juga tidak ada peringatan terhadap yang bersangkutan tapi kemudian terjadi penyergapan. Dan saat itu yang bersangkutan hanya memiliki senjata rakitan bukan senjata otomatis. Dan yang sangat riskan adalah ketika yang bersangkutan telah terkena tembakan perutnya, usus-ususnya keluar, tidak ada tindakan pertolongan dari aparat untuk menyelamatkan nyawa yang bersangkutan. Istrinya tidak diberi kesempatan untuk memberi pertolongan terhadap suaminya,” dipaparkan Frits Ramandey.

Lebih jauh Frits Ramandey mendesak agar polisi segera memberi pernyataan resmi menyangkut kronologis peristiwa dan tindakan hukum terhadap mereka yang terlibat.

HRW Kecam Kekerasan

Yawan Wayeni, mulai diburu aparat setelah disebut-sebut sebagai anggota Tim 100 yang menyerukan “Papua Merdeka” di Istana Presiden pada tahun 1999. Betapapun, para pegiat HAM meyakini, ini adalah satu diantara sekian bukti kekerasan yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap para aktifis Papua.

Laporan terbaru, kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch akhir Juni lalu menyebutkan banyaknya aktivis Papua yang dihukum berat dan disiksa selama menjadi tahanan politik, hanya karena mengekspresikan pandangan politiknya secara damai, seperti mengorganisir unjuk rasa maupun mengibarkan bendera bintang kejora.

Zaki Amrullah

Editor: Ayu Purwaningsih