1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Benda Seni Tak Berakhlak di Berlin

Penemuan ini tidak disengaja. Karena awalnya, penggalian dilakukan untuk menambah jalur kereta bawah tanah. Benda-benda seni tersebut pernah disita oleh Nazi karena dicap sebagai seni yang tidak berakhlak.

default

Baru-baru ini, Museum Baru di Berlin menggelar pameran bertajuk "Karya Seni Tak Berakhlak yang Hilang'. Mengapa disebut hilang? Karena memang sebelas buah patung karya seniman beraliran modern klasik ini baru saja ditemukan.

Pekerja konstruksi menemukan benda-benda seni ini di seberang Balaikota Berlin, tepatnya di areal gedung perkantoran yang terbakar habis pada tahun 1944. Informasinya sampai ke telinga sejumlah arkeolog yang sejak penggalian kereta bawah tanah U5, tahun 2009, meneliti lapisan-lapisan tanah di bawah pusat kota Berlin dekat Alexanderplatz.

Arkeolog yang terlibat dengan proyek tersebut, Matthias Wemhoff, mengaku terkejut dan senang dengan penemuan ini, "Penggalian dihentikan begitu mengenai sesuatu, yang terdengar seperti bahan metal. Setelah kami teliti, ternyata itu adalah patung Anni Mewes. Karya seniman Edwin Scharff itu awalnya tertutup reruntuhan sehingga tidak terlihat bentuk aslinya."

Benda-benda seni yang ditemukan ini termasuk kedalam benda seni yang dikecam rezim Hitler. Sedikitnya 21.000 benda seni disita Nazi karena dianggap mengandung elemen seksual menyimpang, tema-tema anti nasional atau mengkritik ideologi Nazi. Rezim Hitler menyita benda-benda seni yang menghiasi museum kota-kota besar Jerman.

Kumpulan seni yang tidak berakhlak ini sempat dua kali dipamerkan Kementerian Propaganda Jerman. Tapi menjelang akhir Perang Dunia ke 2, banyak yang menghilang, dan sebagian ada yang dihancurkan. Lebih dari 1000 lukisan dan hampir 4000 cetakan misalnya, dibakar di Berlin pada bulan Maret tahun 1939. Tapi petinggi-petinggi Nazi, terrmasuk Hitler diketahui menjual sebagian ke luar negeri. Beberapa tahun terakhir, sekitar 150 diantaranya ditemukan lagi.

Penemuan di Berlin ini ada yang berasal dari tahun 1918 dan yang paling muda dari tahun 1930. Delapan diantaranya sudah teridentifikasi. Ada patung Kepala karya Otto Freundlich dari tahun 1925, patung Penari milik Marg Moll, patung bertajuk Perempuan Hamil oleh Emy Roeder dari tahun 1918, hingga patung yang diberi judul Potret Aktris Anni Mewes oleh Edwin Scharff. Hebatnya, semua patung berada dalam kondisi yang baik. Padahal sudah 66 tahun tertimbun reruntuhan.

Bagaimana ceritanya sampai karya-karya tersebut berakhir di sekitar balaikota Berlin, masih menjadi misteri. Namun diduga bekas penyewa gedung kantor itu menyembunyikannya. Erhard Oewerdieck, penasehat pajak yang menyewa kantor di lantai empat, diketahui dulu kerap membantu warga keturunan Yahudi. Tak jauh dari benda-benda seni tersebut, juga ditemukan brankas penuh dokumen yang mungkin miliknya.

Penelitian terus digelar untuk mengetahui lebih banyak mengenai kisah yang dilewati benda-benda seni yang ditemukan. Arkeolog Matthias Wemhoff menjelaskan, "Kami tidak memiliki bukti bahwa patung-patung tersebut benar milik Erhard Oewerdick atau benar disimpan didalam kantornya. Jadi saat ini, kami belum memiliki bukti yang kuat. Begitu juga dengan brankasnya. Kini kami harus menyelidiki siapa saja yang pernah berkantor di gedung tersebut untuk mencari kebenarannya. Bagaimana patung tersebut bisa sampai berada di sana."

Pematung Otto Freundlich adalah salah satu seniman yang karyanya ditemukan. Freundlich tewas di tangan Nazi, setelah dianiaya karena karya dan keyakinan politiknya. Ia meyakini bahwa seni adalah bahasa yang menyatukan banyak orang. Tahun 1937, saat pembukaan pameran seni tak berakhlak di Muenchen, Hitler berkata warga Jerman berhak dilindungi dari pikiran-pikiran sakit para seniman yang karyanya dipamerkan. Seniman-seniman itu menurutnya, harus dijebloskan ke rumah sakit jiwa sampai mereka belajar lagi cara berpikir orang Jerman.

Seperti Freundlich, seniman lain yang tercantum di daftar hitam Nazi, tak pernah lagi dapat memamerkan karyanya di Jerman. Banyak yang terpaksa melarikan diri, karena terancam dikirim ke kamp konsentrasi.

Walikota Berlin, Klaus Wowereit, menyebut penemuan ini keajaiban kecil yang menunjukkan masa-masa gelap ibukota Jerman. Penemuan benda-benda seni ini menjadi jendela menuju kekayaan budaya dan dinamisme dunia seni yang dihancurkan oleh Nazi. Wowereit pun tak menyoal kepemilikan karya-karya seni ini.

Perang Nazi terhadap seni modern tak hanya terhadap seni visual seperti lukisan dan patung, namun juga terhadap literatur, film dan musik. Pameran "Musik Tak Berakhlak" pada tahun 1938 mencemooh sejumlah musisi Jerman dan musik jazz Amerika.

Jürgen König/Edith Koesoemawiria

Editor: Yuniman Farid