1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Benarkah Teknologi Rudal Korea Utara Berasal dari era Uni Sovyet?

Sistem rudal terbaru Korut yang ditakuti, semula dibangun di Ukraina di zaman Uni Sovyet. Program misil antar kontinen dari Pyongyang maju pesat berkat pengembangan ambisius untuk lawan tekanan barat.

Sistem misil teranyar Korea Utara diduga kuat dikembangkan dari teknik lawas roket jenis RD-250 yang berasal dari zamannya Uni Sovyet. International Institute for Security Studies (IISS) yang bermarkas di London dalam laporan yang dirilis baru-baru ini menyebutkan, Pyongyang mendapat suplai mesin roket berbahan bakar cair dengan performa tinggi atau LPE dari sumber asing.

Tanpa merinci dengan jelas, institut ini mengisyaratkan pemasok teknologinya diduga kuat berasal dari Ukraina. Michael Elleman pakar riset misil dari IISS menambahkan, "Bukti yang ada menunjukan indikasi jelas, bahwa roket performa tinggi itu merupakan modifikasi dari roket RD-250 dari era Uni Sovyet. Roketnya kini digunakan sebagai mesin pendorong misil Hwasong-12 dan Hwasong-14."

Infografik North Korea's missile ranges

Grafik jarak jangkauan peluru kendali Korea Utara

Program sistem pertahanan peluru kendali antar benua Korea Utara menunjukkan kemajuan pesat, setelah ujicoba peluncuran yang gagal pada tahun 2016. Pada bulan Juli lalu, Pyongyang sukses melakukan ujicoba pertama sistim balistik inter-kontinental (ICBM) yang meluncur puluhan kilometer ke udara. Aksi ujicoba ini memicu sanksi lebih berat dari komunitas internasional.

Ukraina membantah

Namun pihak Ukraina  membantah tudingan institut di London itu. Oleksandr Turchynov, sekretaris dewan keamanan dan pertahanan Ukraina menepis laporan itu. Ia menyatakan pemerintahan di negaranya tidak memainkan peranan apapun dalam alih teknologi misil era Uni Sovyet tersebut.

"Informasi ini tidak berdasarkan bukti, kontennya provokatif dan kemungkinan direkayasa oleh dinas rahasia Rusia untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan", ujar Turchynov. Pejabat tinggi urusan pertahanan Ukraina ini menambahkan, negaranya tidak pernah menyuplai mesin roket atau jenis teknologi misil apapun ke Korea Utara.

Menanggapi bantahan resmi pemerintah Ukraina ini, Elleman mengatakan, laporan tersebut tidak menyebutkan secara definitif, bahwa pemerintah Ukraina terlibat langsung dalam kasus ini. Periset International Institute for Security Studies (IISS) menduga, para pekerja di fasilitas pembuat roket, yang menderita akibat salah urus ekonomi di Ukraina, punya peluang besar untuk terlibat skandal pemasokan teknologi itu.

"Para pekerja yang menderita, bisa saja dieksploitasi oleh pedagang senjata yang jahat atau organisasi kriminal trans-nasional, baik di Ukraina sendiri, di Rusia atau dimanapun mereka beroperasi", papar Elleman.

Mesin roket tipe RD-250 sejatinya dikembangkan di Uni Sovyet pada tahun 1960-an dan diproduksi di pabrik yang ada di kawasan Ukraina. Pengembangan lebih lanjut dalam program persenjataan yang ambisius dari pemimpin Korut Kim Jong Un, membuat teknologi lawas dari enam dekade silam itu, kini menjadi senjata pamungkas yang ditakuti lawan.

as/ap(afp,dpa)

Laporan Pilihan