1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

Bayern dan Petaka 17 Menit buat United

Bayern lolos ke babak semi final Liga Champions Eropa usai menundukkan Manchester United. Tapi kedua laga menunjukkan, Guardiola belum menemukan resep melawan tim yang ultra defensif.

Selama 22 detik, usai Patrice Evra melayangkan tendangan gledek yang bersarang di pojok kanan gawang Neuer, Bayern München sedang menghadapi momok yang mengiringi kisah suksesnya di Eropa. Jawara Liga Champions Eropa itu belum pernah menang melawan tim Inggris di Allianz Arena dalam empat laga terakhir.

Tapi beruntung buat Guardiola, pasukannya tidak dihinggapi rasa gugup. Karena gol cantik Evra di menit ke-57 itu malah membangunkan raksasa yang tertidur. Dalam 17 menit, Bayern memutar nasib dan mengirim pulang Manchester United dengan skor akhir 3:1.

"Saya kira sangat luar biasa bagaimana kami mampu kembali kendati sempat tertinggal," kata Müller. "Jika kita melihat dua pertandingan ini, kami pantas lolos ke semi final," tutur Robben yang membidik babak final, 24 Mai mendatang, "kami ingin ke Lisabon."

17 Menit Menentukan

Padahal selama nyaris satu jam, Robben dkk. cuma bisa mengepung pertahanan United tanpa sedikitpun memancarkan bahaya. Pelatih Manchester, David Moyes mengunci pertahanan dengan memasang dua jangkar di lini tengah, Michael Carrick dan David Fletcher. Taktik itu terbukti efektif.

Baru ketika ia terdesak untuk mencetak gol tambahan dan mengganti Fletcher dengan striker Chicarito, Bayern mulai menemukan ruang. Perubahan drastis strategi United tidak diragukan mempermudah upaya Bayern mengoyak pertahanan tim tamu. Dalam 17 menit menentukan itu, Moyes mengubah skema taktiknya menjadi lebih menyerang.

"Saya tidak pernah berpikir kami telah tersingkir. Kami cuma butuh mencetak satu gol lagi. Tapi gol ketiga jelas membunuh kami," kata Moyes.

Champions League Manchester United - Bayern München

Pelatih Manchester United David Moyes dan pelatih Bayern, Pep Guardiola

"Maaf, tapi saya saat ini sedang sangat bahagia," kata pelatih Pep Guardiola dalam jumpa pers seusai laga. "Para pemain melakukan semua yang saya perintahkan," dan sembari berkelakar ia menambahkan agar seseorang mau menjelaskan kenapa "orang-orang Jerman" butuh kebobolan dulu sebelum bisa bangkit.

Dominasi Menjadi Bumerang?

Kelegaan yang terpancar di wajah sang pelatih memperjelas dimensi laga di babak perempat final Liga Champions Eropa itu. Layaknya Barcelona, Bayern yang mengandalkan dominasi penguasaan bola, kewalahan menghadapi tim yang bertahan ketat.

Dengan membetoni kotak penalti, Chelsea berhasil menundukkan Robben dkk. di Allianz Arena pada final Liga Champions dua musim silam. Dan laga di United pekan lalu mengisyaratkan, sejarah bisa berulang.

Ironisnya, kali ini pun Robben, Ribery dan Mandzukic baru bisa mengamuk usai United membuka ruang untuk menyerang. Barangkali sebab itu pula Pep merasa lega. Karena timnya masih belum menemukan cara menghadapi tim yang bertahan ketat dan melancarkan serangan balik cepat.

Yang pasti ia tidak punya banyak waktu, karena bersama Athletico Madrid, Chelsea dan Real Madrid, Guardiola bakal berurusan dengan tiga lawan yang sangat mampu menerapkan taktik semacam itu.

rzn/ab (sid,dpa)