1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Barat, Kaji Ulang, Strategi, Islamic State

Lucas Grahame
Grahame Lucas
30 Mei 2015

Berita sejumlah perempuan Eropa dan Australia berusaha gabung dengan IS demonstrasikan tetap atraktifnya propaganda itu bagi Muslimah di Barat. Kini saatnya Barat mengkaji ulang strateginya. Perspektif Grahame Lucas.

https://p.dw.com/p/1FYf3
Symbolbild Frau Islamischer Staat
Foto: picture-alliance/AA/Rauf Maltas

Sejauh ini pemerintahan negara-negara Barat gagal dengan strateginya untuk mencegah kaum perempuan bergabung dengan Islamic State dan dengan itu mendukung pertumpahan darah. Yang juga mencengangkan, kaum perempuan ini menelan mentah propaganda IS. Mereka mempercayai gambaran ideal dan romantis kehidupan di dalam Islamic State yang disebar lewat jejaring sosial.

Artinya, Islamic State sudah memenangkan perang lewat kata. Pertanyaannya: mengapa? Inilah yang diteliti pusat kajian radikalisme di London. Fakta bahwa IS telah membantai 1.500 tawanan pada tahun lalu, dengan memenggal kepala atau cara brutal lain, seharusnya sudah cukup mencegah niat warga normal yang tumbuh dalam masyarakat Barat untuk bergabung dengan IS. Tapi kenyataannya tidak begitu.

Yang juga mengejutkan, bahwa perempuan dari negara Barat ini mendemonstrasikan dukungannya bagi tren kekerasan dalam skala baru. Lebih jauh lagi, kaum perempuan ini bukan hanya mendukung kekerasan, mereka juga menjadi kekuatan penggerak untuk merekrut calon "jihadis" perempuan lainnya. Mereka menjadi instrumen bagi penjualan gagasan utopia baru Islam. Termasuk propaganda kuat pembebasan dari diskriminasi yang dibawa para Muslimah di negara Barat.

Lucas Grahame Kommentarbild App
Grahame Lucas kepala redaksi South-East Asia DW

Propaganda ini menciptakan impresi, jika perempuan muda datang ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan kekalifahan Islamic State, mereka akan mendapat perlakukan khusus dan akan hidup dalam komunitas ideal Islam. Untuk yang berakal sehat, jika membandingkan propaganda ini denggan realita IS, tentu saja kampanye itu amat menggelikan.

Tapi hal inilah yang juga membuat pemerintahan negara Barat tidak memperhitungkan keinginan dan motivasi yang kompleks dari kaum perempuan yang ingin bergabung dengan IS. Mereka lebih banyak terfokus pada penyederhanaan masalah, seperti dalam kepala-kepala berita. Yakni: kaum perempuan muda itu ingin bergabung dengan IS untuk melepaskan diri dari tradisi ketat keluarga dan hanya untuk sekedar jadi "pengantin jihadis".

Kini makin jelas, bahwa pemerintahan di Barat harus lebih memfokuskan strateginya pada realita di depan mata. Laporan kaum perempuan yang bisa kembali ke Eropa menegaskan kehidupan berat dan berbagai pembatasan bagi perempuan di kawasan kekalifahan IS. Memang sejauh ini belum banyak kaum wanita eks jihadi yang balik kembali ke Eropa.

Tapi gagasan, bahwa kaum perempuan yang kembali dari kawasan IS ke negara-negara Barat, akan lebih mudah direintegsaikan, jelas amat menggampangkan permasalahan. Hal itu di masa depan akan dapat menimbulkan konsekuensi amat fatal. Jadi kesimpulannya: Barat harus mengaji ulang dengan serius strategi mereka.