1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bara di Goma Sisakan Bencana Kelaparan

Pasukan pemberontak Kongo, M23, merebut ibukota provinsi North Kivu, Goma, menyusul gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga bulan. Pertempuran di utara itu menyisakan bencana kelaparan yang mendera penduduk

Suasana muram memenuhi kamp serdadu PBB yang terletak di pinggiran ibukota provinsi Kongo Timur, Goma. Kira-kira 500 orang - perempuan, laki-laki dan puluhan bocah serta balita, duduk berhimpitan di atas tanah, berlindung di balik karung pasir yang ditumpuk di halaman dalam. Angin mengirim rintik gerimis dari langit. Di kejauhan masih terdengar suara rentetan senjata. Sepanjang malam pasukan pemerintah dan geriliyawan bertempur di pusat kota.

Antoine Bwenge duduk di samping isteri dan ke-enam orang anaknya. Ia berhasil menyelamatkan keluarganya dari tengah bara pertempuran sembari membawa sedikit barang yang dimilikinya. Bwenge berpikir ia dan keluarganya akan aman di barak PBB.

Ia mengeluhkan minimnya bahan pangan. Ia kehawatir akan kesehatan anak-anaknya yang belum makan sejak dua hari. "Semalam di sini terjadi pertempuran saat pemberontak mengepung Goma. Peluru dan mortir berterbangan di atas kepala kami, beberapa bahkan mendarat di dalam kamp. Kami semua panik. Karena kami tidur di luar. Situasinya sangat buruk," katanya.

Dari kejauhan masih terdengar ledakan bom dan mortir. Tentara pemberontak yang menamakan dirinya gerakan 23 Maret (M23) sebelumnya sempat memberikan ultimatum kepada pemerintah dan mendesak perundingan. Komandan lapangan M23, Innocent Kaina memimpin pasukannya pada senin pagi (19/11) di gerbang kota dan kembali mengancam "akan merebut kota," jika tentara pemerintah menyerang.

M23 Kommandeure paraden in Goma

Pasukan pemberontak "Gerakan 23 Maret" M23, berparade keliling kota usai mengusir serdadu pemerintah dari ibukota provinsi North Kivu, Goma, Kongo

Siapa yang akhirnya menyerang duluan, sampai sekarang tidak ada yang tahu. Yang pasti setelah tiga bulan gencatan senjata, pasukan pemberontak merebut Goma dalam perang kilat selama tiga hari.

Jalan-jalan besar yang menuju ibukota dipenuhi mayat-mayat serdadu pemerintah. Perempuan dan anak-anak yang memikul barang-barang bawaan ke luar kota. Belasan remaja berjaga-jaga di depan rumah. Mereka tidak ingin membiarkan harta bendanya tidak terjaga di kawasan pemukiman yang dikuasai pemberontak.

"Kami sangat lapar dan di sini tidak ada air minum. Di mana-mana tersebar mayat yang sudah membusuk. Kami sangat kecewa terhadap pasukan perdamaian PBB. Kami menuntut mereka melakukan segala sesuatunya untuk menjaga perdamaian. Kami cuma ingin damai. Saya sekarang berusia 20 tahun dan sejak lahir cuma merasakan perang saja. Kami harus berbuat apa sekarang?," kata salah seorang pemuda lokal.

Kecemasan yang merasuki penduduk dimanfaatkan oleh tentara pemberontak. Sesaat setelah pertempuran dan pasukan pemerintah mundur dari kota, ratusan gerilyawan melakukan parade kemenangan yang diikuti penduduk. "Kami hadiahkan perdamaian untuk kalian," teriak salah seorang komandan pemberontak yang sontak disambut oleh para penduduk.