1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bantuan Jerman Mengalir Untuk Korban Badai Filipina

Bantuan pertama dari Jerman yang tiba di Filipina terdiri dari 3000 tenda, obat-obatan dan peralatan medis. Berbagai organisasi bergabung melakukan koordinasi bantuan darurat.

Di kiri dan kanan jalan, yang terlihat hanya puing-puing bangunan. Badai begitu dahsyat menghantam Pulau Leyte, demikian gambaran Sandra Bulling dari Organisasi bantuan Care dalam wawancara dengan DW. Ia berada di kota Tacloban di provinsi Leyte. Puluhan ribu orang diduga tewas dalam bencana Tayfun Haiyan, yang di Filipina disebut Topan Yolanda.

Ketika mendapat berita pertama tentang badai Haiyan, banyak organisasi Jerman langsung menyiapkan bantuan. Situasi di lokasi bencana masih simpang siur, belum jelas apa yang dibutuhkan para korban. Hari Minggu (10/11) sebuah pesawat Airbus A340 langsung berangkat dari bandara Frankfurt membawa 25 ton barang bantuan menuju Manila. Muatannya terdiri dari tenda, selimut dan peralatan medis, terutama untuk merawat pasien yang menderita patah tulang. Bantuan itu dikirimkan oleh World Vision dan Aktion Deutschland Hilft, kelompok yang merupakan gabungan dari beberapa organisasi bantuan.

Selain barang bantuan, Jerman juga segera mengirim tim ahli penanganan bencana dari Badan Bantuan Teknis THW. Lima anggota THW segera berangkat ke Filipina. Tim THW terutama bertugas untuk membuat instalasi air bersih secepat mungkin. Jurubicara THW Nicolas Hefner menerangkan, pertama-tama tim kecil itu akan melakukan evaluasi di kawasan bencana. Setelah itu, tim yang lebih besar segera dikirim. THW bisa membuat sumur-sumur baru, membersihkan dan memperbaiki instalasi dan saluran air yang rusak.

Kerusakan berat

Banyak organisasi bantuan Jerman yang sudah mengirim tim ke Filipina untuk melihat bantuan apa saja yang terutama dibutuhkan. Tapi banyak tempat yang sulit dijangkau. Jalan-jalan rusak berat, saluran telpon dan listrik terputus. "Banyak puing-puing harus disingkirkan dulu dari jalan, baru tranportasi barang bantuan bisa mengalir", kata Maria Rüther dan Aktion Deutschland Hilft.

Ulrich Füßer dari organisasi Misereor menerangkan, komunikasi sangat sulit. Misereor berhasil menghubungi beberapa organisasi mitra di lokasi bencana dan mulai "punya sedikit gambaran tentang situasi setempat".

Perusahaan pos Jerman, Deutsche Post, juga memberi bantuan logistik. Sejak bencana Tsunami di Aceh 2004, Deutsche Post punya tim penanggulangan bencana yang dinamakan Disaster Response Team. "Mereka tim ahli yang mengatur logistik di kawasan bencana, terutama mengatur barang-barang bantuan di bandar udara", kata jurubicara Deutsche Post Christina Müschen.

Harus ada koordinasi

Yang penting, proyek bantuan harus dikoordinasi. "Kami bekerjasama dengan organisasi bantuan lain, supaya tidak ada bantuan berlebihan di satu tempat. Ini sangat penting," kata Cordula Wasser dari Malteser Hilfsdienst. Setiap organisasi memang sudah punya rancangan khusus untuk situasi bencana. Tapi tanpa koordinasi yang baik, bantuan tidak akan efektif.

Nicolas Hefner dari THW menerangkan, setelah bencana besar terjadi, biasanya dalam beberapa jam sudah ada tim koordinasi di Jerman yang melibatkan berbagai organisasi bantuan. "Tidak ada yang jalan sendirian". Bantuan dari Jerman segera dikomunikasikan dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar di Manila. Kemudian dibuat agenda bersama dengan Koordinasi PBB Untuk Masalah Kemanusiaan, OCHA.

"Untuk bencana sebesar ini, dibutuhkan dana jutaan", kata Maria Rüther. Tapi ia optimistis, masyarakat Jerman akan memberi sumbangan. Menurut pengalaman selama ini, solidaritas masyarakat Jerman dalam kasus bencana alam cukup besar.

Laporan Pilihan