1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bantuan Bencana Banjir dan Mobilisasi Ideologis

Taliban di Pakistan memang sulit untuk terang-terangan membantu korban banjir. Tetapi gerakan Islam radikal lain yang punya hubungan baik dengan militer Pakistan, sangat terlibat dalam upaya bantuan.

default

Jamaat-e-Islami adalah sebuah partai dengan sekitar 25.000 anggota yang terlatih secara ideologis, dan juga merupakan sebuah organisasi massa yang mencatat 4, 5 juta pendukung di seluruh Pakistan. Ideologi mereka lebih tua dari negara Pakistan. Partai ini mendukung demokrasi parlementer, namun melihat Allah sebagai kekuasaan tertinggi, ujar wakil sekretaris jenderal partai, Farid Ahmed Piracha: „Kami berpendapat bahwa kami dapat mengubah Pakistan ke dalam sebuah sistem Islam dan kepemimpinan yang jujur. Jamaat-e-Islami punya kedua unsur itu. Kami kuat dalam keimanan dan dalam menyampaikan prinsip Islam. Dan kami punya penyelesaian bagi semua masalah."

Markas besar partai terletak di sebuah kota kecil, Mansurah di Lahore. Jamaat-e-Islami memiliki sejumlah anak organisasi , di antaranya sebuah perhimpunan mahasiswa, serikat pekerja dan yayasan bantuan Al-Khidmat Foundation. Ihsan Ullah Waqas bertugas sebagai koordinator bantuan banjir: „Saya bangga bahwa kami adalah organisasi sukarelawan yang terbesar di Pakistan. Dari Kalam di mana banjir mulai sampai Karachi, di setiap kota kecil atau yang lebih besar kami mendaftarkan sukarelawan baru. Saya dapat mengatakan, setelah militer kami merupakan jaringan terbesar yang memberikan bantuan darurat di Pakistan."

Sekitar 24.000 sukarelawan bekerja di 1.000 tempat penampungan bagi korban banjir milik Al-Khidmat Foundation. Sekjen yayasan Ahsan Ali Syed menegaskan bahwa Al-Khidmat bertugas independen dan tidak berhubungan secara ideologis dengan Jamaat e-Islami. Pria usia 65 tahun itu mengaku tidak menyukai politisasi dalam upaya membantu para korban. Yayasan ini bekerja secara profesional dalam sektor sosial juga di saat tidak diperlukan bantuan bencana. Mereka punya rumah-rumah sakit, ambulan dan sekolah-sekolah di Pakistan.

Organisasi bantuan Islam besar lainnya adalah Falah-e-Insaniyat FIF. Yayasan Jamaat ud-Dawa yang digolongkan PBB sebagai organisasi teroris, juga memberikan bantuan kemanusiaan di bawah nama yayasan FIF. Koordinator urusan politik FIF, Hafiz Khalid Waleed menerangkan: „Kami mengoperasikan 2500 sampai 3000 pos pelayanan medis di Pakistan. Untuk pendidikan kami membangun lembaga-lemabaga keagamaan dan masjid, di mana kami melakukan syiar agama. Di mana kami menerangkan murid-murid apa artinya muslim agar mereka menjadi muslim dan manusia yang baik."

Dibandingkan dengan Jamaat-e-Islami dan Al-Khidmat Foundation, kegiatan Jamaat ud-Dawa dan FIF (Falah-e-Insaniyat Foundation) boleh dikatakan tidak transparan. Namanya sering berganti, sejak India menuduh organisasi itu yang dulunya bernama Lashkar-e-Tayyaba, melakukan kegiatan terorisme. Markas besarnya di Lahore menyerupai benteng pertahanan dengan barikade dan penjagaan polisi.

Secara resmi Jamaat ud-Dawa mengambil jarak dari serangan di Mumbai, tetapi kelompok ini secara terbuka mendukung yang disebut "Jihad" terhadap pasukan NATO di Afganistan dan juga melawan angkatan bersenjata India di Kashmir. Jamaat-e-Islami juga mendukung hal sama. Kedua kelompok itu dikatakan punya hubungan erat dengan militer Pakistan yang mendukung kelompok Islam radikal sejak puluhan tahun untuk memelihara kepentingan politik dalam dan luar negerinya.

Memang ada perbedaan penting antara kedua kelompok besar itu. Jamaat-e-Islami punya sejarah panjang dan mandiri, sementara masyarakat internasional melihat FIF sebagai rekayasa murni angkatan bersenjata Pakistan yang terutama terkenal karena melancarkan aksi militan terhadap India.

Kedua kelompok besar itu menolak tegas perang melawan negara Pakistan. Hal ini membuat mereka berbeda dari Taliban-Pakistan yang sebenarnya juga dibantu militer tetapi sekarang memerangi mereka.

Thomas Bärthlein/Christa Saloh

Editor: Agus Setiawan