1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Bagi Anak, Penghargaan Lebih Penting daripada Materi

Kondisi kesejahteraan empat dari lima anak Jerman terhitung baik. Demikian disebutkan dalam laporan organisasi bantuan World Vision. Survey yang dilakukan terhadap sekitar 2.500 anak usia enam hingga 11 tahun.

default

Gambar simbol anak dan mainan

Kesejahteraan seorang anak tergantung pada, antara lain pemenuhan kebutuhan materi, tetapi jauh lebih sedikit dari yang dikira banyak orang. Demikian hasil penelitian organisasi bantuan "World Vision" yang juga menyimpulkan bahwa yang lebih penting adalah memperlakukan anak dengan penuh penghargaan.

Pakar pendidikan anak Sabine Andresen menekankan keseimbangan yang tepat. "Di satu pihak orang tua merawat, melindungi, mencintai dan menghargai pendapat anak, tetapi juga menetapkan aturan yang harus dipatuhi dalan keseharian. Di pihak lain juga mempercayai anak, memberi mereka kebebasan, ruang bagi otonomi si anak. Interaksi ini sangat penting bagi anak berusia 6 - 7 tahun, juga yang lebih besar, 8 sampai 11 tahun."

Perasaan tidak puas dan tidak bahagia terutama ditemukan pada anak yang tinggal bersama orangtua yang menganggur. Ini persoalan paling serius, kata pakar ilmu sosial dan kesehatan Klaus Hurrelmann. Anak-anak dari keluarga yang hidup 'miskin', menderita dalam beberapa hal tapi bukan dari segi materi.

"Dalam hal ini uang diinvestasikan dalam permainan elektronik, gameboy, menyediakan televisi di kamar anak, jadi peralatan elektronik yang sangat bagus. Dan anak-anak mengira bahwa waktu luang hanya bisa diisi hal-hal itu," lebih lanjut dikatakan Klaus Hurrelmann.

Anak-anak ini terutama kehilangan perhatian, demikian kesimpulan tim peneliti yang berbicara dengan mereka selama berjam-jam. Untuk setidaknya meringankan kekurangan ini, harus diambil tindakan sosial politik, terutama pada mereka yang paling dirugikan, demikian rekomendasi paling mendesak dari hasil studi "World Vision".

Rekomendasi yang oleh anggota parlemen dari Partai Hijau Katja Dörner dianggap sebagai dukungan bagi tugasnya sebagai anggota komisi anak-anak di Parlemen Jerman Bundestag. Ia juga mengkritik tingginya tekanan yang membebani anak di sekolah. "Sekolah sampai sore banyak yang tidak rasional. Anak dijejali pelajaran yang lebih banyak lagi. Tanpa memikirkan bagaimana mengatur agar sepulangnya ke rumah, anak tak perlu mengerjakan PR lagi, karena sudah diselesaikan di sekolah. Menurut saya hal seperti itu sudah semestinya bagi sekolah sepanjang hari yang baik."

Bahwa anak sering kali gembira dan puas dengan hal-hal yang bagi orang dewasa terhitung sederhana, ditunjukkan oleh Michael, bocah 11 tahun, yang menggambarkan keinginannya dalam selembar kertas. Penulis studi anak-anak "World Vision" Klaus Hurrelmann menerangkan gambar itu, "Sebuah pisang untuk bertahan hidup, mm... enak. Segelas air minum, lalu gambar rumah, yang penting atap pelindung kepala, gambar mainan dan gambar seorang teman!"

Di balik gambar itu ada banyak falsafah kehidupan dan kesadaran akan realita, kata Hurrelmann. Ia menilainya luar biasa.

Marcel Fürstenau/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid