1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

Bagaimana Sambut Baik Pengungsi?

Tahun 2013 lalu sangat banyak orang meminta suaka di Jerman. Jumlahnya seperti dulu ketika blok timur dan Yugoslavia bubar. Organisasi "Refugees Welcome" membantu mereka, untuk menyesuaikan diri di negara asing.

Verena Landes mendapat inspirasi setelah menonton sebuah pertunjukan drama, yang berjudul "Asyl-Monologe" atau monolog pencari suaka. Seorang pemain drama profesional bercerita tentang siksaan, tekanan dan perang di negara asalnya. Digambarkan juga bagaimana mereka menderita selama perjalanan, dan merasa tidak diterima di negara yang didatangi.

Verena Landes, pakar politik yang lahir di Guatemala dan sudah pernah tinggal di beberapa negara mengetahui perasaan orang yang berada di negara asing. Alice Wichtmann punya pengalaman serupa. Kedua perempuan itu bertemu di kantor organisasi Refugees Welcome, di kota Bonn.

Organisasi itu menusahakan penerimaan pencari suaka tanpa birokrasi apapun. Mereka pantang mundur, dan bahkan melanggar undang-undang Jerman. "Kadang kami masuk saja ke rumah penampungan pencari suaka. Itu sebenarnya dilarang," begitu diceritakan Verena Landes.

Dalam kunjungan ke rumah penampungan, mereka bertemu Karim dan Moustafa. Mereka tidak mau dikenali, karena takut dilacak, bahkan di Jerman. Kedua pria Mesir yang berusia 23 dan 25 tahun itu tiba hampir bersamaan dengan pesawat terbang di München musim gugur 2013. Akhirnya mereka sama-sama tiba di Bonn. Tujuan akhir ini ditetapkan badan pemerintah Jerman yang berwenang.

Flüchtlinge in Ägypten

Karim dan Moustafa yang menggunakan nama palsu dan tidak mau dikenali karena takut.

Sekarang mereka berteman, dan mendiami satu kamar, bersama seorang warga Mesir lainnya. "Kami beragama Kristen. Tertama di Mesir selatan, orang dicari dan dibunuh, hanya karena bukan Muslim," keluh Moustafa. 99% warga Kristen ingin meninggalkan Mesir, demikian dugaan Karim.

Memang di tempat penampungan kadang sulit, karena tidak punya lingkup pribadi, dan setiap hari dilewatkan dengan menunggu, kata Karim. "Tetapi kami berterima kasih, bahwa orang-orang seperti Verena dan Alice membantu kami", demikian Moustafa. Organisasi itu mendampingi setiap pengungsi jika perlu ke dokter atau menyelesaikan berbagai hal di badan pemerintah. Verena Landes mengatakan, ia dan rekan-rekannya tidak terpengaruh apapun, karena masih berusia relatif muda. Mereka juga tidak termasuk badan resmi manapun, melainkan mengambil tindakan spontan.

Alice Wichtmann menceritakan sebuah aksi spontan mereka untuk mengumpulkan pakaian bekas. Tanpa melapor kepada badan berwenang, pada suatu Minggu sore mereka datang ke tempat penampungan dan membagi-bagikan jaket, kemeja dan sepatu. Warga sekitar marah dan mengadukan itu ke polisi. Tuduhannya: mereka mengadakan pasar loak tanpa ijin.

Skeptis dan Tidak Percaya Pengungsi

Di sekitar tempat penampungan sering tampak, bahwa pencari suaka tidak terlalu diterima kedatangannya. Penduduk menarik diri, karena khawatir diganggu atau harta miliknya dicuri. Pemilik rumah kadang khawatir, bahwa nilai jual rumah dan tanahnya hilang, jika di dekatnya ada tempat penampungan pengungsi. Demikian diceritakan Verena Landes dan Alice Wichtmann berdasarkan pengalaman sendiri. "Tapi bagi kami, setiap pengungsi adalah seorang individu."

Flüchtlinge in Ägypten

Pengungsi tinggalkan tanah air tanpa banyak bawaan

Tetapi warga asing secara sistematis disingkirkan, kata Verena Landes. "Sistem Jerman diarahkan agar tidak ada yang datang." Dan jika mereka tetap datang, segala langkah diambil, agar mereka pergi lagi, ditambahkan Verena Landes.

Memperkuat Posisi Pencari Suaka

Bagi Moustafa dan Karim proses penerimaan juga berlangsung lambat. Moustafa sudah menyelesaikan pendidikan sebagai insinyur bangunan, dan Karim punya ijazah di bidang pertanian. Tetapi permintaan suaka yang mereka ajukan belum selesai diurus. Oleh karena itu mereka tidak bisa ikut kursus bahasa Jerman. "Refugees Welcome" merencanakan membuat kelompok kursus bahasa dengan pengungsi yang bisa bahasa Inggris, dan pekerja suka rela yang bisa bahasa Inggris dan Jerman. Lewat pesta atau acara makan bersama, "Refugees Welcome" ingin membantu orang menghilangkah rasa sungkan dan takut.

Sukses apa yang bisa mereka capai? "Jika orang seperti Karim dan Moustafa tidak dideportasi dan upaya kami sia-sia," kata Verena Landes secara spontan. Ia kemudian menambahkan, "Jika orang tiba di sini di musim dingin, dan tidak punya sepatu yang hangat, kemudian kami bisa mengorganisir sepatu, itu saja sudah kesuksesan."

Laporan Pilihan