1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Bad o Meh - Hancurnya Keindahan

Film Iran Bad o Meh atau Hujan dan Kabut awal 2011 memenangkan penghargaan khusus politik pembangunan "Cinema Fairbindet". Dengan dukungan Kementrian untuk Bantuan Pembangunan, film itu ditayangkan di 25 bioskop Jerman.

default

Adegan dalam Bad o Meh - Sahand bermain layangan

Ruangan bioskop senyap. Deretan nama di akhir film masih terlihat ketika seorang lelaki berusia 50 tahunan berjalan menuju layar perak. Perlahan, lampu bioskop menyala dan penonton menyambut sutradara Mohammad Ali Talebi dengan tepukan tangan panjang.

Tayangan pertama dari roadshow seluruh Jerman ini, tampaknya sukses besar. Bad o Meh atau Hujan dan Kabut sampai akhir tahun ini akan ditayangkan di 25 bioskop di seluruh Jerman.

Dunia Anak

Di akhir pemutaran film, penonton berpeluang untuk berbincang-bincang dengan sang sutradara mengenai karyanya yang terbaru. Pertanyaan pertama, kenapa anak-anak seringkali berperan dalam karya film Mohammad Ali Talebi.

"Saya telah membuat lebih dari 10 film, kebanyakan mengenai perempuan dan anak-anak. Banyak adegan yang berdasarkan pengalaman saya sendiri. Dulu di hari pertama sekolah, saya juga kena tempeleng," dikatakan Talebi.

Film Bad o Meh mengambil setting seputar tahun 1980, tak lama setelah meledaknya perang Teluk antara Irak dan Iran. Perang itu sendiri tidak banyak diceritakan. Dalam film yang disoroti adalah ayah dari Sahand, seorang anak lelaki kecil berusia tujuh tahun. Ayah Sahand bekerja di lahan pemboran minyak di Iran Selatan. Keluarganya tinggal di rumah kompleks yang kecil di kawasan itu.

Melupakan Trauma

Ledakan bom mengoyak ketentraman hidup keluarga sederhana ini. Sahand kecil melihat ibunya tewas akibat serangan bom yang menghancurkan rumahnya. Secara jasmaniah, Sahand memang selamat, meski sempat cedera. Tetapi ia mengalami trauma hebat. Mengharapkan kepulihan anaknya, sang ayah kemudian membawa Sahand dan putrinya, Shooka, ke rumah kakek mereka di Iran Utara.

Film Bad o Meh - Wind und Nebel

Mohammad Ali Talebi

Namun di sana, Sahand kerap diganggu oleh anak-anak desa. Sahand akhirnya menolak untuk bicara. Adik perempuannya yang dalam film ini memiliki karakter kuat, selalu maju melindungi, kala Sahand menjadi bulan-bulanan anak-anak desa. Pun guru di sekolah menyalahkan mereka. Kedua anak ditempeleng dan disuruh pulang.

Sahand dan Shooka terpaksa tinggal di rumah bersama kakeknya. Ketika oleh kakeknya, diajak jalan-jalan ke danau tak jauh dari rumah, Sahand menemukan sebuah angsa liar putih yang sekarat tertembak. Bulu-bulunya mengingatkan dia akan pakaian putih yang dikenakan ibunya ketika tewas. Sang kakek melarang Sahand membawa angsa itu pulang. Sahandpun menurut dan meninggalkannya ditempat.

Namun sepanjang malam bayangan bulu angsa dan baju ibunya tak bisa ia enyahkan dari pikiran. Karenanya, ia diam-diam keluar rumah dan mencarinya. Pagi hari esoknya, Sahand tak bisa ditemukan. Seluruh desa gempar dan ikut mencari Sahand. Adiknya kebingungan.

Penuh Perlambangan

Percakapan tidak banyak dalam film Bad o Meh. Sebagian besar dari 74 menit jam tayang film itu diisi dengan visualisasi simbolik dan metafora. Menurut Talebi, angsa putih melambangkan perdamaian. Anak-anak dalam film itu menunjukkan kemanusiaan yang tiada akhir.

"Saya tidak ingin menggurui orang lain, karenanya saya banyak bermain dengan perlambangan dalam film ini. Misalnya, tentang minyak bumi. Karena memang perang Irak-Iran pada dasarnya hanya merupakan perebutan lahan minyak. Saya mengupayakan agar gambar-gambar itu bercerita sendiri," papar Talebi.

Talebi juga menceritakan betapa sulitnya membuat film di Iran. Setiap film harus memiliki izin pemerintah sebelum mulai diproduksi. "Seorang sutradara bisa bekerja dengan Hollywood, tapi ia tidak menjual dirinya kepada Hollywood. Begitulah di seluruh dunia. Tugas seorang seniman adalah menbuka setiap kemungkinan untuk pendanaan proyeknya, tanpa menggadaikan idenya sendiri.“

Bad o Meh menyoroti dampak langsung perang terhadap anak-anak dan keluarga. Di samping itu, Talebi berhasil mengomentari kondisi di Iran, tanpa rancu dengan kata-kata. Dalam filmnya yang mendatang, Talebi bermaksud menyoroti perkembangan hidup anak-anak yang mengalami trauma akibat peperangan.

Rachel Yasmin Baig/Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk