1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Awas, Wajah Bisa Dikenali!

Data biometris bantu untuk identifikasi orang secara pasti. Pengenalan wajah secara digital sudah semakin tepat. Dengan cara itu pelaku kejahatan bisa diusut lebih mudah. Tapi orang biasa juga bisa diselidiki.

Am Karlsruher KIT beim Institut für Anthropomatik wird ein System gezeigt welches mittels einer Personenerfassung für eine Mensch-Roboter Interaktion entwickelt wurde (Foto vom 23.06.2010). Die Karlsruher Forscher haben nun eine Software entwickelt, die etwa für Kaufhäuser äußerst nützlich sein könnte: Sie kann Gesichter erkennen und sogar das Geschlecht und Alter von Menschen. Auch wohin jemand sieht, wird erkannt. Ein Kaufhausbetreiber kann so zum Beispiel feststellen, wie lange Frauen in der Schuhabteilung bleiben und wohin sie danach gehen. Foto: Uli Deck dpa/lsw (zu lsw-KORR.: Erst Schuhe, dann Schokolade - Software erkennt Kundenbewegung vom 27.06.2010) +++(c) dpa - Bildfunk+++

Gesichtserkennung

Baik di stasiun kereta maupun di kereta bawah tanah, di pasar swalayan atau dalam acara-acara umum, orang semakin sering difoto dan difilmkan. Di banyak lokasi kamera merekam gambar, yang kemudian diubah menjadi profil wajah secara digital.

Dengan demikian informasi tentang jenis kelamin dan asal usul etnis orang tersebut ddapat diperoleh. Dengan cara itu, pelaku tindakan kriminal dapat diidentifikasikan, demikian halnya dengan orang biasa. Misalnya mereka yang ambil bagian dalam demonstrasi damai.

Tidak peduli di mana sebuah foto dibuat, dengan piranti lunak yang tepat, dalam waktu beberapa detik, nama dan alamat orang tersebut dapat ditemukan dengan cepat. Karena yang difoto kadang memberikan sendiri kesempatan bagi orang lain, yaitu dengan memasukkan data dan fotonya ke internet. Contoh yang klasik: Facebook.

Facebook. Pemrakarsa Yang Tarik Diri

ARCHIV - ILLUSTRATION - Der Schriftzug «Facebook» spiegelt sich am 08.06.2011 in Hannover auf dem Auge eines Mannes, der vor einem Computerbildschirm sitzt. Facebook stoppt nach Kritik von Datenschützern die umstrittene Gesichtserkennungs-Funktion in Europa. Das Online-Netzwerk erklärte sich bereit, bis zum 15. Oktober 2012 alle bisher dafür erstellten Nutzerprofile zu löschen. Foto: Jochen Lübke dpa +++(c) dpa - Bildfunk+++

Gambar simbol: pengguna Facebook

Jejaring sosial Facebook menyensor data biometris wajah pada foto. Jika telah teridentifikasi sekali, wajah itu dapat secara otomatis dikenali di foto-foto lain. Di manapun fotonya muncul, nama orang tersebut juga akan tampil (tagged).

Hal itu diprotes keras oleh pelindung data dari banyak negara Eropa, termasuk di Irlandia, yang menjadi lokasi pusat Facebook Eropa. Perusahaan raksasa AS itu akhirnya berjanji, untuk tidak menggunakan lagi sistem pengenalan wajah otomatis bagi pengguna di Eropa. Jadi tidak menyimpan lagi tanda-tanda biometris dan menghapus data-data yang sudah tersimpan.

Salah satu pengkritik tertajam Facebook adalah petugas urusan perlindungan data dari Hamburg, Johannes Caspar. Ia menekankan bahaya yang sering terkait dalam pencatatan data.

Dalam pembicaraan dengan Deutschen Welle: "Yang paling buruk adalah, jika kumpulan data, di mana wajah orang tersimpan jutaan kali, disalahgunakan, sehingga instansi pemerintah dan privat mampu mengidentifikasi orang lewat foto." Dengan demikian orang kehilangan anonimitasnya di masyarakat umum. Misalnya, pengusaha dapat mengaitkan sejumlah data dan dengan cara itu membuat profil pelanggan, sehingga dapat mengirim iklan yang sepenuhnya disesuaikan dengan keperluan konsumen.

Data dan gambar hanya boleh dideteksi, demikian Caspar, jika orang yang difoto jelas memberikan persetujuan. Jika tidak, pencatatan data melanggar hukum Jerman dan Eropa.

Diskriminasi dan Kesalahan

Prof. Dr. Johannes Caspar Datenschutzbeauftragter von Hamburg

Prof. Dr. Johannes Caspar

Pendeteksian warga a la "Big Brother" ternyata sudah berfungsi. Itu nyata dalam festival Rheinkultur di Bonn, musim gugur 2011. Ketika itu sebuah gambar yang menampilkan 25.000 pengunjung diambil.

Mereka yang melihat kemudian diserukan untuk menunjuk fotonya sendiri, dan mengaitkannya dengan Facebook, sehingga program pengenalan wajah mendapat data baru. Menurut Johannes Caspar, teknik ini tidak bisa dihentikan. Tetapi ia memperingatkan "hak menentukan diri sendiri yang informal dan hak-hak demokratis rakyat harus dijaga."

Teknik modern itu terutama bermanfaat untuk memerangi tindak kriminal. Pelaku dapat dengan cepat dan tepat diidentifikasikan, jika misalnya ada rekaman dari kamera pengawas, yang dapat dibandingkan dengan data-data biometris.

Tetapi di sini pun Caspar memperingatkan, "Pencatatan itu tentu saja juga menjadi sarana diskriminasi sosial. Dalam banyak kasus itu bisa menjadi penyalahgunaan besar." Misalnya, bentuk wajah yang khas atau pakaian khusus bisa menyebabkan pengenalan yang keliru. Jadi seorang penggemar sepak bola bisa tidak diijinkan masuk stadion, karena profilnya serupa dengan seorang pembuat onar.

Perlindungan Data dari Masa Analog

Überwachungskamera © Fotolia/laytatius #14640440

Gambar simbol: kamera pengawas

Hanya dengan menetapkan larangan tidak ada gunanya, menurut Caspar. Ia berharap akan ada debat mendasar tentang itu, dan harus segera. Karena teknik pengenalan wajah berkembang jauh lebih cepat daripada diskusi, sejauh mana itu bisa digunakan. Dan undang-undang perlindungan data kadang masih berasal dari masa analog.

Johannes Landvogt, petugas urusan teknologi informasi bagi perlindungan data pada pemerintah Jerman menilai undang-undang yang berlaku sekarang sudah cukup. Pada dasarnya, pengambilan gambar di masyarakat umum hanya boleh dibuat, jika tidak dikaitkan dengan pengambilan gambar lainnya. Demikian ditekankan pelindung data itu.

Apakah perusahaan patuh pada undang-undang, tidak jelas. Sebuah pelanggaran hanya tersingkap, jika rakyat masyarakat menemukan, bahwa data-data pribadinya tiba-tiba terbuka bagi umum, dan mereka akhirnya menuntut. Yang jelas, sistem pengenalan wajah akan semakin meluas dalam hidup sehari-hari kita.