1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Atlantis Akhiri Program Wahana Ulang Alik AS

Setelah dioperasikan selama 30 tahun dengan seluruhnya 135 kali penerbangan ke luar angkasa, program wahana antariksa ulang alik Amerika Serikat diakhiri, dengan penerbangan pamungkas Atlantis ke ISS.

default

Atlantis meluncur untuk terakhir kalinya ke ruang angkasa.

Selain alasan teknologinya sudah tidak aktual lagi, alasan biaya yang terlalu mahal mendorng dipensiunkannya program penerbangan ulang alik milik lembaga antariksa Amerika Serikat-NASA tsb. Di masa depan, penerbangan dan transportasi astronot serta peralatan ke ISS, akan diambil alih perusahaan antariksa swasta.
Dengan peluncuran Atlantis tanggal 8 Juli lalu ke stasiun ruang angkasa internasional- ISS, secara resmi diakhiri sebuah era teknologi penerbangan antariksa AS.

Dalam penerbangan terakhirnya sebelum dimusiumkan, seperti dua saudaranya Discovery dan Endeavour, Atlantis mengangkut sekitar 3,8 ton perlengkapan, peralatan, suku cadang, serta bahan makanan ke ISS. Cadangan yang cukup untuk beberapa tahun, karena belum diketahui, kapan lagi dapat diluncurkan pesawat transport yang membawa perlengkapan dan peralatan seberat itu ke ISS atau mengangkutnya kembali ke Bumi. Diakhirinya misi antariksa ulang-alik AS itu, bertepatan dengan selesainya pembangunan ISS.

Program antariksa swasta

NASA mengakui, program pesawat antariksa ulang-alik atau “Shuttle Space“ amat mahal, perlu personal amat banyak, perlu perawatan intensif dan yang terutama teknologinya masih belum cukup handal dan amat peka terhadap gangguan. Astronot Jerman, Hans Schlegel yang tiga tahun lalu terbang ke ISS menggunakan Atlantis, mengungkapkan : “Kita membangun sesuatu, yang targetnya sudah tercapai, dan harus diakui dulu amat berbahaya.”

Space Shuttle Atlantis Team

Para astronot wahana ulang alik Atlantis menjelang penerbangan pamungkas misi space shuttle.

Pemerintah Amerika Serikat tidak merencanakan program penerbangan antariksa baru ke ISS. Sebagai gantinya, diharapkan perusahaan penerbangan dan antariksa komersial yang mengembangkan roket transportasi untuk mengangkut perlengkapan ke ISS. NASA selanjutnya akan berkonsentrasi pada program penerbangan luar angkasa yang lebih jauh lagi. Dalam jangka menengah ditargetkan riset meteorit dan penerbangan ke planet Mars. Akan tetapi bagaimana sosok atau bentuk pesawat ruang angkasanya, hingga kini belum jelas. Inilah yang juga dikritik direktur Kennedy Space Center, Bob Cabana : “Jika sudah jelas, bagaimana tepatnya sosok roketnya yang akan kita buat? Mengapa kami mengembangkannya seperti itu? Dan untuk kegunaan apa?, maka orang-orang akan lebih mengerti, apa yang kami buat di sini.“

Program ruang angkasa manusiawi

Zamannya wahana antariksa ulang-alik akan berakhir secara final dengan pendaratan kembali Atlantis ke Bumi pada tanggal 20 Juli. Tapi harus diakui, program “Space Shuttle“ memberikan warna dan kesan yang kuat pada misi penerbangan luar angkasa yang dilaksanakan Amerika Serikat.

Flash-Galerie NASA Raumfahrt

ilustrasi pendaratan wahana ulang alik Atlantis yang mengakhiri final misi ulang alik NASA.

Paling tidak, misi penerbangan ulang-alik, memberikan warna yang lebih manusiawi pada riset serta penjelajahan ruang angkasa. Karena program “Space Shuttle“ juga memungkinkan manusia normal dalam arti bukan astronot profesional, untuk juga terbang ke ruang angkasa. Astronot perempuan Cady Coleman mengungkapkan : “Saya senang, karena semua potensi panutan warga dapat terbang ke orbiter Bumi. Tidak peduli warna kulitnya, lelaki dan perempuan, atau orang biasa, semua dapat terbang ke ruang angkasa. Menurut saya, ini memberikan inspirasi bagi generasi muda.“

Astronot perempuan Cady Coleman juga meyakini, di masa depan, penerbangan antariksa semacam itu, akan tetap melibatkan kaum perempuan. Karena keberadaan perempuan dalam tim memberikan kualitas tersendiri bagi tim astronot lelaki.

Kerjasama internasional

Senada dengan itu, astronot Jerman Hans Schlegel menegaskan, kerjasama tim lintas negara dalam misi antariksa di masa depan akan semakin diperlukan. Schlegel mengatakan, semua pihak harus menyadari bahwa Amerika Serikat tidak akan mampu lagi membiayai dan mengelola program antariksa semacam itu sendirian. Sejak lama, dalam pengembangan lanjutan program antariksanya, NASA didukung oleh lembaga antariksa Eropa-ESA, yang terutama dimotori Jerman, Italia dan Perancis.

“Pengalaman terindah dalam karir saya sebagai astronot selama 23 tahun adalah, dalam 15 tahun terakhir saya dapat ikut membantu kerjasama antara barat dan timur, antara utara dan selatan. Dan amatlah bagus, bagaimana saling kepercayaan diantara kami terus tumbuh,” tambah Schlegel.

Kerjasama internasional dalam program penerbangan ruang angkasa kini menjadi semakin penting. Demikian kata Gerd Gruppe, anggota dewan komisaris manajemen ruang angkasa pada pusat penerbangan dan antariksa Jerman. Saat ini saja, antara Amerika Serikat dan Jerman terdapat 100 proyek bersama. Dalam dunia yang mengglobal harus terdapat mekanisme pengujian yang independen.

“Sekarang ini, apakah itu pengintaian bajak laut atau pemenuhan target emisi CO2 atau juga pelaksanaan penghutanan kembali, dapat diukur dari luar angkasa tanpa takut dimanipulasi,“ tutur Gruppe menambahkan.

Karena itulah, banyak pihak menilai, berakhirnya era “Space Shuttle“ bukan berari berakhirnya riset dan program ruang angkasa. Gruppe mengatakan, ada program antariksa sebelum program wahana ulang alik, dan pasti juga ada penerus programnya di masa depan. Karena sekarang ini, dalam era komunikasi dan telekomunikasi modern, semakin banyak teknologi yang harus didukung perangkat satelit dari luar angkasa.

Christina Bergmann/ Agus Setiawan

Editor: Anggatira Gollmer