1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Asti Baitoningsih: Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia

Pemerintah Indonesia tengah berupaya mengatasi overfishing, yakni kenaikan produksi perikanan tangkap di laut akibat gejala tangkap lebih. Ini topik penelitian Wasistini Baitoningsih, mahasiswi S3 di Bremen.

Kawasan konservasi perairan yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini luasnya sudah mencapai 15 juta hektar. Rencananya pada tahun 2020 angka tersebut mencapai 20 juta hektar. Kawasan konservasi perairan yang dicanangkan tidak hanya bertujuan memperbaiki sumber daya alam laut, tapi juga memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat pesisir.

Indonesien Fischer Haifisch

Seorang nelayan memotong sirip hiu tangkapannya di pulau Gondong Bali, Sulawesi Selatan

Wasistini Baitoningsih kini tengah merencanakan penelitiannya bersama Pusat Leibniz untuk Ekologi Tropis Kelautan (ZMT) di Bremen, Jerman. Namun ia sudah mentargetkan lokasi-lokasi di Indonesia yang akan menjadi obyek penelitiannya: "Nanti ada 3 tempat yang akan saya teliti, yaitu pertama di kabupaten Berau, Kalimantan Timur, lalu di kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dan di taman nasional laut Sawu, Nusa Tenggara Timur."

Sebenarnya apa yang ingin Asti teliti dari pembentukan kawasan konservasi perairan? "Saya mau melihat partisipasi masyarakatnya ya, jadi sejauh apa mereka benar-benar berpartisipasi. Apakah mereka berpartisipasi secara aktif atau hanya sebagai obyek statistik?"

Indonesien Fischer Seegurke

Teripang hasil tangkapan siap dimasak seorang nelayan di pulau Karanrang, Sulawesi Selatan

Pendekatan Khusus

Pengalamannya bekerja untuk sebuah organisasi konservasi laut membuat Asti terbiasa berinteraksi dengan masyarakat nelayan. Ia pun merasa yakin dengan tujuan penelitiannya. "Nanti jadi saya bisa memberi masukan agar masyarakat ini lebih aktif lagi, mungkin harus ada pendekatan-pendekatan tertentu. Karena kan Indonesia ini sangat kompleks ya struktur sosialnya, ada suku, ada tingkat sosial juga," tandasnya.

Asti merasa beruntung dapat bekerjasama dengan ZMT yang mendukung penuh penelitiannya. "Yang jelas supporting system-nya. Seperti sumber literatur yang banyak. Dan kalau pun saya tidak bisa menemukan sumber literatur atau tidak dapat mengaksesnya, itu ada yang membantu," jelasnya.

Mengenai kehidupannya di Bremen, Asti sudah merasa tinggal di rumah kedua. Studi S2-nya pun dulu ditempuh di Bremen. Dan tinggal di sebuah kota di Eropa dengan klub sepakbola yang benar-benar mengakar, konon sudah menjadi impiannya sejak kecil.

Laporan Pilihan