1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ashton: Pengaruh Eropa di Dunia Internasional Berkurang

Parlemen Eropa memperdebatkan politik keamanan dan luar negeri Uni Eropa. Utusan Tinggai Urusan Luar Negeri UE Catherine Ashton menerangkan garis besar rencana kerjanya dan menanggapi kritik terhadapnya.

default

Utusan Tinggi Urusan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton

Pengaruh Eropa di dunia internasional semakin berkurang dalam beberapa dekade terakhir. Demikian peringatan Catherine Ashton, utusan tinggi urusan luar negeri Uni Eropa ketika berbicara di hadapan Parlemen Eropa. Cina, India dan negara-negara kuat lain maju dengan pesat di bidang perekonomian mereka, sehingga Eropa tidak punya pilihan lain kecuali bekerjasama menangani politik luar negeri.

"Bobot perekonomian bisa diterjemahkan menjadi pengaruh politik dan kepercayaan diri. Ini terasa di mana-mana. Dalam perundingan masalah iklim, sengketa atom Iran, dan pada bisnis-bisnis energi di Afrika dan Asia Tengah. Jika kita bersatu, maka kita akan bisa mempertahankan kepentingan kita, jika tidak, maka pihak lain yang akan menentukannya," demikian dikatakan Ashton.

Dalam jabatannya saat ini, Ashton berusaha mewakili Eropa di dunia internasional. Ia memprioritaskan kerjasama erat dengan Amerika Serikat, NATO, dan PBB. Ashton mengatakan, Eropa memiliki acuan politik luar negeri sendiri yang menyeluruh dan yang diminati oleh dunia internasional. Kini yang penting adalah memenuhi kewajiban Eropa di dunia internasional.

Namun, banyak anggota Parlemen Eropa yang tetap skeptis, bahwa Ashton adalah sosok yang tepat bagi salah satu jabatan terpenting di Eropa. Andreas Mölzer, perwakilan dari Austria, termasuk diantaranya. "Mungkin ini juga karena Ashton adalah perwakilan luar negeri Uni Eropa yang tidak benar-benar memiliki pengalaman untuk urusan luar negeri. Sekarang sudah waktunya bagi Ashton untuk bersikap lebih peka, misalnya dengan menggunakan penggunaan tiga bahasa resmi Eropa, jadi juga Bahasa Jerman, dalam urusan politik luar negeri Eropa."

Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle juga mendesak penggunaan Bahasa Jerman. Chaterine Ashton menanggapinya dengan menjawab dalam Bahasa Jerman dan Inggris. "Saya juga belajar Bahasa Jerman di sekolah selama dua tahun, tetapi sekarang saya sudah lupa. Saya tetapi tetap akan belajar dan saya sudah menjadi semakin baik. Saya sudah tidak sabar untuk bisa berbicara dengan Anda dalam Bahasa Jerman yang lebih baik."

Tidak hanya masalah bahasa yang dipermasalahkan dalam urusan luar negeri Uni Eropa. Negara-negara anggota, komisi dan parlemen, semenjak berbulan-bulan memperdebatkan, apakah tugas tersebut sebaiknya tergantung dari masing-masing negara atau tidak. Anggota Parlemen Elmar Brok mengkhawatirkan, dengan bantuan tugas diplomatik pemerintah negara anggota ingin menasionalisasikan kembali keberhasilan Eropa.

"Dalam sejarah Uni Eropa, perhimpunan sukses saat menganut metode kebersamaan, dan tidak pernah atau jarang sukses saat menjalankan metode antar pemerintah. Politik kebersamaan ini tidak boleh secara diam-diam dijalankan melalui dinas urusan luar negeri untuk dijadikan politik antar pemerintah," kata Elmar Brok.

Masalah bagi Ashton adalah, ia tidak hanya mewakili negara anggota tetapi juga Komisi Eropa. Sehingga dalam urusan luar negeri ia harus mengkompromikan dua kepentingan yang bertolak belakang.

Christoph Hasselbach/Vidi Legowo-Zipperer

Editor: Agus Setiawan