1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

AS Negosiasi dengan Taliban

AS melakukan kontak dengan Taliban mengenai kemungkinan penyelesaian bagi perang di Afghanistan, ujar Presiden Hamid Karzai, Sabtu (18/06), dalam konfirmasi resmi pertama terhadap keterlibatan AS dalam negosiasi.

KANDAHAR, June 5, 2011 Taliban militants hand over their weapons in Kandahar city, Afghanistan, June 5, 2011. A total of 15 Taliban militants joined the government initiated peace and reintegration process in Afghanistan's Kandahar province, police chief said.(/Arghand) (xhn)

Taliban in Kandahar Afghanistan

Kabul, Sabtu pagi, lusinan tentara bergegas menuju sebuah lokasi serangan di pusat ibukota.Tiga pejuang Taliban menyerang sebuah kantor polisi. Salah seorang pelaku meledakkan diri. Tembak-menembak setelah itu menewaskan 9 orang.

Serangan seperti ini merupakan keseharian di Afghanistan dan semakin mencolok perhatian dengan apa yang untuk pertama kalinya resmi dikonfirmasi Presiden Karzai. Di belakang layar, sedang berlangsung perundingan damai dengan Taliban.

“Perundingan damai dengan Taliban sudah dimulai dan berjalan baik. Militer asing terutama dari AS, juga terlibat di dalamnya" , kata Karzai.

Kedutaan besar AS di Kabul menolak untuk berkomentar langsung terhadap pernyataan Karzai, namun mengatakan mendukung rekonsiliasi Afghanitan dan mendampingi prakarsa reintegrasi yang dipimpin pemerintah Afghanistan yang ditujukan bagi Taliban.

NO FLASH Taliban legen Waffen nieder

Anggota Taliban menyerahkan senjata kepada pemerintah Afghanistan di Herat, 4 November 2010.

Menurut Karzai, perundingan masih di tahap awal dan belum ada agenda yang ditetapkan. Perundingan juga belum mencapai tahap dimana pemerintah dan Taliban bertemu secara fisik. Tetapi perwakilan keduanya sudah menjalin kontak. Namun demikian, hal tersebut sejauh ini merupakan bukti terkuat tentang pergantian strategi di Afghanistan.

AS menginvasi Afghanistan pada Oktober 2001, beberapa minggu setelah serangan 11 September. Invasi militer dimaksudkan untuk mengusir keluar Taliban yang menjadi tuan rumah bagi al-Qaida dan pemimpinnya Osama bin Laden.

Namun, selama 10 tahun melancarkan perang terhadap Taliban, keberhasilan militer yang dicapai terbilang kecil. Taliban menyusun diri kembali dan melancarkan perlawanan keras bertahun-tahun terhadap pemerintah, tentara AS dan sekutu barat lainnya di Afghanistan. Para sekutu NATO ingin sesegera mungkin memulai penarikan mundur tentaranya. Karena itu, integrasi politik dengan Taliban dinilai banyak pihak sebagai opsi terbaik.

Tapi dengan sejumlah persyaratan. Perundingan damai hanya bisa berhasil, kata Karzai, jika Taliban mengakui konstitusi Afghanistan dan meletakkan senjata. Serangan yang terjadi di Kabul Sabtu pagi menunjukkan, jalan untuk sampai ke sana, masih panjang.

Karzai und Raza in Pakistan

Karzai dan PM Pakistan Yousuf Raza Gilani di Islamabad, 11 Maret 2011. Pakistan memiliki peran penting dalam perundingan damai dengan Taliban, kata Karzai.

Karzai berbicara sehari setelah DK PBB membagi dua daftar sanksi untuk pentolah Taliban dan al Qaida. Keputusan itu diyakini dapat membujuk Taliban untuk melakukan perundingan tentang perjanjian damai di Afghanistan.

Tetapi, walaupun ada harapan bahwa perundingan dengan Taliban dapat mengembangkan fondasi politik bagi tahap penarikan tentara AS dari Afghanistan, diskusi yang sudah berjalan belum mencapai tahap dimana mereka dapat menjadi faktor menentukan.

Kalangan diplomat mengatakan pembicaraan awal sudah berlangsung berbulan-bulan, tetapi AS tidak pernah mengkonfirmasi kontak apapun. Dan sedikit sekali yang diketahui tentang isi pembicaraan.

Selain itu, banyak warga Afghanistan, termasuk aktivis hak sipil dan perempuan, yang kuatir bahwa perundingan dengan pemberontak dapat menghapus kemajuan yang mereka capai dalam satu dekade terakhir, sejak Taliban digusur dari panggung kekuasaan.

Tim Jánszky/ Renata Permadi

Editor: Christa Saloh

Laporan Pilihan