1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

AS Jatuhkan Sanksi, Bekukan Aset Gaddafi

Dewan Keamanan PBB menggelar rapat khusus hari Sabtu (26/02) untuk membahas sanksi-sanksi kepada Muammar Gaddafi dan rejimnya. Malam sebelumnya Amerika Serikat sudah menjatuhkan sanksi terhadap Libya.

default

Dalam sebuah pernyataan tertulis, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan pemerintahnya, terkait dengan pelanggaran Hak Azasi Manusia yang tidak henti-hentinya dilakukan oleh rejim Libya. Menurut Obama, Muammar al-Gaddafi harus bertanggung jawab atas pelanggaran hukum yang dilakukannya, "Sanksi-sanksi itu, ditujukan terhadap pemerintahan Gaddafi, dan disamping itu melindungi aset dan harta yang dimiliki oleh rakyat Libya".

Dalam pelaksanaannya, Obama menetapkan bahwa semua aset, dan harta yang berada atas nama Muammar al Gaddafi, anak-anaknya serta pemerintahan Libya dibekukan. Sanksi ini juga berlaku terhadap semua orang yang masih berkeluarga dengan Gaddafi dan orang-orang lainnya yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Libya. Keputusan yang ditandatangani siang hari Jumat ini, kini sudah berlaku. Tampaknya, pemerintah Amerika Serikat ingin memastikan bahwa semua warga AS sudah diungsikan dari Libya.

Jay Carney USA Sanktionen Libyen

Jurubicara Gedung Putih Jay Carney

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney menerangkan, "Sanksi ini harus menegaskan, bahwa rejim Libya harus menghentikan pertumpahan darah dan praktek-praktek kekerasan terhadap rakyatnya. Bagi kami, seperti juga bagi rakyat Libya dan seluruh dunia, bahwa Gaddafi dan rejimnya sudah kehilangan kepercayaan rakyatnya."

Bagi pemerintah Amerika Serikat sangat penting bahwa yang dalang semua tindakan keji terhadap rakyat Lybia, bertanggung jawab atas tindakannya. Lanjut Carney, "Amerika Serikat menggunakan semua kemungkinan dinas rahasianya untuk mengamati tindak-tanduk rejim Gaddafi, perhatian terutama ditujukan pada tanda-tanda perencanaan aksi kekerasan dan tindakan keji lainya terhadap rakyat Libya."

Terkait hal ini, pemerintah AS bekerjasama dengan negara-negara lain. Dewan Hak Azasi Manusia PBB hari Jumat (25.2.) mengecam pimpinan Libya yang telah memerintahkan penembakan kaum demonstran yang berunjukrasa secara damai dan berencana mengeluarkan Libya dari Dewan HAM tersebut.

Jurubicara Carney menambahkan, bahwa Amerika Serikat mendukung upaya-upaya PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap Libya. Dewan Keamanan PBB sudah mulai berkonsultasi mengenai hal ini. Pada pertemuan yang berlangsung hari Jumat, Duta Besar Libya untuk PBB, Abdurrahman Shalgham meminta agar masyarakat internasional membantu negaranya. Dalam seruannya, ia menyamakan Gaddafi dengan Adolf Hitler, Stalin and Pol Pot. Milisi bayaran tidak hanya menembaki rakyat, Gaddafi juga menegaskan bahwa bila ia tidak memerintah, maka ia akan membunuh semua ralyat yang menentangnya. Begitu ungkap Shalgham.

UN-Sicherheitsrat berät über Sanktionen gegen Libyen

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di depan Dewan Keamanan PBB

Sekjen PBB, Ban Ki-Moon menyampaikan laporannya kepada Dewan Keamanan PBB dan menyebut saat ini sebagai masa yang bersejarah.Dikatakannya, "Duta Besar Libya dengan sangat emosional telah meminta bantuan kita. Pesan saya kepada Dewan Keamanan sangat simpel dan tegas: kini adalah waktunya untuk bertindak. Ini adalah titik perubahan yang historis dan masyarakat internasional harus menyikapinya dengan benar."

Sekjen PBB Ban Ki Moon, juga menyatakan telah menrima laporan bahwa ppada hari Jumat, kembali jatuh banyak korban sipil di Libya, dan pelanggaran HAM yang terjadi temasuk penangkapan dan penembakan demonstran oleh milisi asing, serta penganiayaan kelompok oposisi.

Para anggota Dewan Keamanan tampaknya menyepakati perlunya tindakan segera untuk menghentikan kekerasan yang berlangsung di Libya. Sanksi-sanksi yang dijatuhkan termasuk larangan perjalanan bagi anggota rejim Gaddafi, pembekuan harta dan aset serta embargo senjata. Delegasi Jerman mengusulkan, agar anggota rejim Gaddafi diadili secara hukum dan dihadapkan ke mahkamah internasional. Namun hal ini belum disepakati semua pihak. Diperkirakan Sabtu siang waktu New York, resolusi Dewan Keamanan sudah akan diumumkan.

Christina Bergmann / Edith Koesoemawiria
Editor: Marjory Linardy

Laporan Pilihan