1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

AS Diskusikan Penyelesaian Politik bagi Afghanistan

Di AS kelihatannya sudah jelas bahwa Taliban secara militer tidak terkalahkan. Jadi diperlukan penyelesaian politik. Namun bagaimana Washington mencapainya?

default

Presiden AS Barack Obama

Kamis lalu (23/6) Presiden Barack Obama mengunjungi pasukan khusus AS di Fort Drum, di negara bagian New York. Lawatan yang dilihat sangat simbolik karena sebelumnya ia mengumumkan rencana penarikan pasukan dari Afghanistan. Di Fort Drum ia menemui serdadu dari pasukan khusus itu dan berterima kasih bagi tugas militer yang dilakukan mereka, antara lain di Afghanistan: „ Karena kalianlah kita dapat berperang melawan Taliban di Afghanistan dan bukan sebaliknya. Dan karena kalian terdapat pertanda bahwa Taliban berminat pada penyelesaian politik yang menentukan untuk menyatukan negeri itu."

Presiden AS Obama gelagatnya hendak menggiring negerinya keluar dari Afghanistan tanpa harus kehilangan muka. Pada pidato yang ditayangkan lewat televisi, Obama menerangkan, Amerika mendukung gagasan yang menuju penyelesaian politik, yaitu pembicaraan di bawah pimpinan pemerintahan Afghanistan, juga dengan kelompok Taliban yang menentang Al Qaida dan kekerasan.

Namun bagi banyak pengamat hal ini terlalu sedikit. Misalnya bagi Vali Nasr, penasehat Richard Holbrooke, utusan khusus AS bagi Afghanistan dan Pakistan yang baru-baru ini meninggal. Nasr berpendapat: „Dari apa yang dikatakan presiden terlihat jelas bahwa dia tidak lagi yakin akan keberhasilan peningkatan upaya memerangi pemberontak seperti yang masih ditunjukkan di Irak. Karena itu ia menarik kembali 30.000 serdadu tambahan yang sebelumnya dikerahkan untuk meningkatkan serangan terhadap perlawanan."

Nasr kemudian mengatakan bahwa Obama seharusnya lebih memperhatikan strategi diplomatik. Amerika masih belum banyak melakukan langkah ke arah kompromi politik. Harus ditunggu apakah presiden Obama melihat adanya jalan menuju perundingan dengan Taliban, penguasa-penguasa lokal dan negara-negara tetangga. Pertempuran dilakukan di medan perang, tapi harus diakhiri di meja perundingan. Pemerintah AS masih belum menjelaskan bagaimana mereka menangani masalah ini. Demikian menurut Vali Nasr.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menepis tudingan itu dan mengatakan tidaklah cerdik untuk membeberkan semua secara umum. Selanjutnya Clinton mengatakan, dalam sebuah dengar pendapat di senat, ia telah menjelaskan rencana penarikan pasukan dan Amerika telah mencapai kemajuan dengan negara-negara tetangga Afghanistan, termasuk Iran. Jalinan pembicaraan dengan pemimpin Taliban moderat juga telah dibina melalui pihak tertentu. Namun diakuinya, kadang tidak jelas siapa yang dapat berbicara bagi aliran Islam fundamentalis dan aliran fundamentalis yang mana.

Kesimpulannya, tidak hanya AS tetapi juga aliansinya di NATO sudah letih berperang, dan kini bersedia melakukan kompromi, juga dengan Taliban. Menlu Clinton: "Dengan tewasnya bin Laden dan kepemimpinan Al Qaida yang berada di bawah tekanan yang cukup besar, Taliban tidak ada pilihan lain. Masalahnya, maukah mereka menjadi bagian dari masa depan Afghanistan atau ingin diserang habis-habisan?"

Hillary Clinton kemudian mengatakan, "berhubungan dengan mereka tidak menyenangkan, namun harus dilaksanakan."

Silke Hasselmann/Christa Saloh

Editor: Marjory Linardy