1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Apakah Orang Jerman Masih Gemar Membaca?

Di seluruh dunia Bangsa Jerman memiliki citra 'berbudaya tinggi'. Hanya saja tidak dapat dikatakan bahwa semua orang Jerman rajin atau gemar membaca. Lebih dari 40 persen ternyata hampir tidak pernah membuka-buka buku.

default

Di lain pihak, setidaknya pada 60 persen warga Jerman, jadi lebih dari separuhnya, membaca merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Mayoritasnya membaca buku-buku non fiksi dan juga cerita detektif. Ini adalah kencenderungan yang terlihat.

Dan berdasarkan studi yang ada, faktanya, seperempat dari orang-orang yang bisa membaca mulai dari usia 14 tahun, sama sekali tidak pernah membuka buku. Sebaliknya mereka yang digolongkan sebagai 'kutu buku', setiap tahunnya melahap lebih dari 50 buku. Artinya satu buku per minggu. Jumlah mereka ini mencakup 3 persen.

Dari manakah datangnya hasrat untuk membaca atau justru keengganan untuk itu? Christoph Schäfer dari Yayasan Membaca di kota Mainz menganggap, itu ada kaitannya dengan pengalaman di masa kecil. Dikatakannya, "Proses untuk menjadi orang yang suka membaca, biasanya dilalui anak-anak, bila orangtuanya sering membacakan cerita. Tapi apakah warga Jerman merupakan bangsa yang suka membacakan buku? Sayangnya tidak. 42 persen orangtua dari anak-anak di bawah sepuluh tahun, yaitu usia terbaik untuk mencerna buku-buku yang dibacakan baginya, sangat jarang atau bahkan sama sekali tidak melakukannya."

Dan berdasarkan studi, kelompok yang tidak suka membacakan buku bagi anak-anaknya, perlahan-lahan terus bertambah. Sebaliknya mereka yang menganggap bahwa 'membaca' adalah sarana budaya yang penting, semakin mencari bacaan yang bermutu tinggi. Hal ini diamati Barbara Determann di Autorenbuchhandlung - toko buku pengarang.

Setiap tahunnya sekitar 90.000 terbitan baru dirilis ke pasaran buku. Berbarengan dengan itu internet dan komputer juga semakin menarik. Tahun 2008 dilakukan studi pada mereka yang berusia antara 12 sampai 19 tahun. Hasilnya, bagi 95 persen anak laki-laki, media elektronik lebih penting dari pada buku. Tetapi bedanya dengan anak perempuan tidak terlalu banyak. Anggapan lama, bahwa bila orangtua banyak membaca, maka begitu pulalah anak-anak mereka, memang masih merupakan kenyataan. Tetapi ada perkembangan umum yang jelas, yaitu bahwa buku saku lebih disukai dari pada 'hardcover'. Selain itu 'porsi' yang kecil lebih banyak dibeli dari pada edisi gabungan yang sangat tebal. Lalu, buku-buku non fiksi dan yang menjadi referensi sangat dicari. Begitu pula yang diwarnai ketegangan.

Kristine von Soden/Dewi Gunawan-Ladener

Editor: Yuniman Farid