Antisipasi Gelombang Baru Pengungsi Rohingya | dunia | DW | 31.08.2015
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Antisipasi Gelombang Baru Pengungsi Rohingya

Segera setelah masa monsun berakhir, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan gelombang baru pengungsi dan imigran dari Myanmar dan Bangladesh akan datang ke Asia Tenggara.

Etnis Muslim Rohingya yang jadi minoritas di Myanmar dan Bangladesh melarikan diri dari negaranya akibat tekanan. Awal tahun ini, ketika gelombang pertama tiba, mereka menghadapi penolakan dari Thailand, Indonesia dan Malaysia, sehingga timbul krisis kemanusiaan.

Kini Melissa Fleming, juru bicara badan PBB urusan pengungsi, UNHCR menyerukan diadakannya aksi darurat, sebelum musim monsun berakhir, dan sejumlah besar orang meninggalkan Teluk Bengal dengan kapal-kapal kecil yang tidak layak mengangkut banyak orang. "Kami perkirakan, ini semua akan kembali terjadi sebulan lagi," katanya.

Dalam sebuah laporan, UNHCR mendorong pemerintah tiap negara yang terlibat untuk berusaha mencegah krisis baru di Teluk Bengal dan Laut Andaman dengan mengambil langkah-langkah yang sudah disepakati Mei lalu untuk mendorong pencarian dan operasi penyelamatan, dan menyediakan tempat-tempat aman di mana mereka bisa mendarat dan diterima.

Fleming menambahkan juga, kondisi di kapal-kapal juga sangat mengenaskan. Di samping itu, pengungsi ibaratnya seperti bola ping pong yang dioper dari satu pihak ke pihak lain, tanpa ada yang mau menerima. Ini juga jadi masalah akses teritorial ke negara-negara terkait.

Jumlah hanya bisa diperkirakan

Diperkirakan 31.000 etnis Rohingya dan sejumlah warga Bangladesh meninggalkan Teluk Bengal dengan menggunakan perahu dalam paruh pertama tahun ini. Jumlah itu berarti 34% kenaikan di banding jumlah tahun 2014 dalam periode sama. Demikian keterangan UNHCR.

Secara keseluruhan, 94.000 orang diperkirakan mempertaruhkan nyawa mereka untuk melakukan perjalanan laut sejak 2014. Sedikitnya 1100 dari mereka diperkirakan tenggelam, termasuk sekitar 370 orang tahun ini.

Banyak dari pengungsi yang berhasil mencapai daratan berasal dari etnis minoritas Rohingya di Myanmar, yang jumlahnya sekitar 1,1 juta. Di Myanmar mereka tinggal di negara bagian Rakhine, di bagian barat, dan mengalami diskriminasi.

Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warganya, walaupun banyak dari mereka sudah tinggal di sana selama beberapa generasi. Bagi pemerintah Myanmar mereka adalah warga Bengali, yang sebagian besar berasal dari Bangladesh, dan menganggap mereka imigran ilegal. Negara itu menolak klaim Rohingnya, bahwa mereka lari dari tekanan dan kekerasan.

Pemerintah Thailand meluncurkan sejumlah aksi untuk mengungkap jaringan penyelundupan manusia bulan Mei lalu. Tindakan itu diambil setelah sebuah kuburan massal ditemukan di daerah perbatasan Thailand dan Malaysia. Jenazah yang ditemukan menunjukkan mereka mati akibat kekerasan dan kelaparan. Ditemukannya 24 jenazah di barat laut Malaysia jadi peringatan akan kekejaman penyelundup manusia. Demikian dikatakan Fleming.

ml/vlz (rtr, ap)

Laporan Pilihan