1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ancaman Bom Paksa Dua Pesawat Pakistan Mendarat Darurat

Mendarat darurat di Istanbul dan Kuala Lumpur, dua pesawat Pakistan diancam serangan bom

default

Dua pesawat Pakistan Internasional Airlines, PIA terpaksa mendarat segera akibat ancaman serangan bom. Kedua pesawat itu mendarat dengan selamat, yang satu di Malaysia dan yang lainnya di Bandara Ataturk di Istanbul. Begitu dilaporkan media Turki. Disebutkan, seorang pejabat senior PIA mengkonfirmasi adanya kedua ancaman bom itu.

Pesawat PIA dari Lahore dengan tujuan ibukota Malaysia, berawak 13 orang dan tengah membawa 164 penumpang. Polisi pun segera dikerahkan untuk menginvestigasi. Petugas bandara Kuala Lumpur menyebutkan, pesawat itu diparkir di kawasan yang terisolasi. Setelah mendarat hari Rabu (07/09), pukul 21:24 malam waktu Malaysia. Dilaporakan, setengah jam sebelumnya, bandara udara Malaysia dikabari melalui email oleh kantor pusat PIA mengenai ancaman pada pesawat Airbus 313 dengan kode PK898 itu. 

Informasi mengenai ancaman bom terhadap pesawat pertama, sebuah Boeing 777-300ER, disampaikan ketika pesawat tengah melintasi kawasan udara Bulgaria. Penumpang yang menuju Manchester, Inggris itu sempat panik. Sementara awak kapal segera  menghubungi menara udara Istanbul untuk mendapatkan ijin mendarat. 378 penumpang pesawat Boeing itu segera dievakuasi. Dilaporkan, pasukan anti bom mulai memeriksa pesawat dengan bantuan anjing-anjing pelacak.

Jurubicara PIA, Mashood Tajwar mengkonfirmasi bahwa semua penumpang berhasil diamankan. Dikatakannya kepada AFP, para pilot diminta mendarat segera di bandara terdekat. Menurut informasi PIA, setelah diperiksa ternyata tidak ditemukan bom dalam kedua pesawat tersebut.

Pakistan kerap menghadapi ancaman aksi teror. Ancaman bom ini terjadi empat hari setelah peringatan sepuluh tahun aksi terror 9/11. Kantor berita AP menyebutkan tidak tampak adanya kaitan dengan kelompok Islam radikal itu.

rtr/ap/afp/Edith Koesoemawiria
Editor: Dyan Kostermans