1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Amnesty International: Politik Luar Negeri Jerman Harus Junjung HAM

Suaranya ramah tapi tegas. Ia bicara sambil tersenyum, tanpa melupakan keseriusan dalam tema pembicarannya. Ketika ia ditunjuk sebagai pemimpin baru Amnesty International seksi Jerman, tak sedikit yang terperangah.

default

Monika Lüke dalam kunjungannya di DW, Kamis (29/10)

Permpuan 40 tahun itu tak dikenal namanya oleh khalayak. Ia sebelumnya bekerja untuk Lembaga Kerjasama Teknis Jerman, GTZ. Terakhir ia bertanggungjawab untuk proyek HAM di Asia. Kini, dalam perannya yang baru, ia harus meluaskan pandangan ke seluruh dunia.

Monika Lüke tak berharap lebih ataupun kurang pada pemerintah baru Jerman. Namun, ia mengawasi dengan kuatir awal pemerintahan koalisi antara Uni Kristen yang konservatif dan FDP yang liberal. "Perjanjian koalisi memang memiliki bab tersendiri tentang HAM. Tapi isinya tidak jelas dan melupakan sepenuhnya HAM secara sosial." Misalnya hak untuk menentukan nasib sendiri, kesetaraan antara perempuan dan lelaki, atau standar hidup yang layak.

Ahli hukum itu menilai, hak-hak itu terancam di Afghanistan misalnya. "Dalam perdebatan, apakah tentara Jerman ditarik mundur atau jangan, menurut saya ada satu hal yang dilupakan. Yaitu bahwa tentara Jerman ada di sana. Bahwa dalam misinya, mereka harus memegang teguh hak asasi dan hukum internasional kemanusiaan."

Hal tersebut berlaku dalam setiap misi luar negeri polisi dan angkatan bersenjata Jerman. Demikian tuntutan Monika Lüke pada pemerintah baru. Maka menjadi persoalan besar jika tentara Jerman, bersama dengan petugas keamanan Afghanistan, menangkap orang, tanpa memperhatikan standar hukum yang berlaku di Jerman.

Monika Lüke tidak ingin menyandarkan harapan dan keinginannya hanya kepada penanggungjawab urusan luar negeri di kabinet baru Jerman. Seperti Menteri Luar Negeri Guido Westerwelle atau Menteri Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan. Thomas de Maizire, menteri dalam negeri yang baru, juga perlu mengambil tindakan.

Amnesti Internasional tengah melakukan penelitian tentang banyaknya kekerasan yang dilakukan polisi. Juga tentang buruknya hak-hak imigran gelap. Misalnya kasus orangtua tidak mengirim anaknya ke sekolah karena takut pihak sekolah melapor ke kantor urusan orang asing sehingga seluruh keluarga akan diusir dari Jerman.

Monika Lüke punya banyak rencana. Kesannya setelah beberapa bulan memimpin Amnesty Internasional seksi Jerman: "Penuh gejolak, sama sekali tidak membosankan, dan banyak sekali tuntutan. Setiap hari saya belajar tentang HAM dan pelanggarannya di berbagai negeri dan kawasan."

Michael Borges/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid